
Pov Intan.
"Nona, sudahlah. Pulang ke rumah, dan istirahat. Bukankah, besok kau akan ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan?" tegur salah seorang Polwan di belakangku.
"Aku.... Hanya saksi, bukan? Karena, aku yang melihatnya menembakkan pistol itu tepat di belakang nya."
"Itu akan di urus nanti. Asalkan, semua sesuai dengan apa yang di bicarakan. Anda harus tetap tenang, dan kooperatif, agar semua berjalan dengan baik dan semestinya."
"Baiklah...." jawabku dengan yakin.
Aku pun meninggalkan rumah itu, dan pulang kembali ke rumahku. Hari ini, jangan kan mendapat uang, bahkan aku tak dapat bekerja lagi dalam beberapa hari. Padahal, sudah waktunya bayar Rumah Sakit ayah beberapa hari lagi.
" Masa iya, harus open Bo lewat aplikasi. Astaga, hilang harga gue."
Berita begitu cepat menyebar. Apalagi, lewat media Tv dan internet lainnya.
Semua orang kini berkumpul di depan rumahku. Entah hanya sekedar bertanya, atau memang perduli padaku. Aku tak perduli dengan mereka semua, aku hanya ingin segera tidur malam ini.
"Intan... Bagaimana kabar kamu?" tanya Bu Anin, yang tumben ramah.
"Aku masih pulang, tandanya aku sehat dan selamat." jawabku, cuek.
__ADS_1
"Saya nanya bener-bener, Intan! Sombong banget, kayak begitu aja." omelnya.
"Saya capek, Bu. Bahkan, darahnya pun masih menempel di tubuh saya. Dan Ibu kenapa? Baru kali ini negur saya?" tanyaku padanya.
"Sudahlah Intan, jangan hiraukan dia. Istirahat dan masuk lah ke rumahmu." sahut Pak Rt, yang juga ada di rumahku.
"Iya, aku akan istirahat dan mandi. Lebih baik, kalian pulang. Aku ingin menenangkan diri hari ini." ucapku pada mereka semua.
Sebagian mengerti, dan sebagaian menggerutu karena perlakuanku.
Aku semalaman tak dapat tidur. Terus terbayang olehku, ketika Ia bahkan tak sempat merasakan sakit kerena hujaman peluru yang bertubi-tubi itu. Ia menatapku tajam, dengan darah keluar dari mulutnya.
Aku meringkuk, dengan selimut menutupi tubuhku.
Pov Troy.
Tatapan matanya mengganggu tidurku. Mata yang biasanya nampak begitu indah, tapi tadi berganti tatapan penuh ketakutan. Apalagi, ketika darah bahkan membasahi tubuhnya yang indah itu.
"Apakah, dia mengenaliku?" gumamku sendirian, di atas balkon dengan rokok dan minuman di tangan.
"Kau takut?" tanya Ronald.
__ADS_1
"Takut apa? Aku tak pernah takut."
"Lalu kenapa kau gelisah?"
"Seorang saksi, Ia menatapku tajam." jawabku.
"Kenapa tak sekalian kau bunuh dia? Dia hanya seorang wanita malam yang tak ada harganya." jawab Ronald padaku.
"Tak ada harganya bagimu. Tapi, bisa jadi Ia begitu berharga bagi keluarga nya di rumah."
"Sudah mulai memiliki perasaan rupanya. Siapa yang membuatmu seperti ini, hah? Apa kau sudah mulai jatuh cinta? Kau sudah mulai dewasa?" godanya padaku.
Aku hanya tersenyum kecut dengan itu. Aku bahkan tak terlalu menghiraukannya ada di sampingku. Aku terus terfikir olehnya, dengan kesehatan mental dan bahkan jiwanya.
"Andai aku memiliki nomor Hpnya." sesalku.
Aku bahkan tidur di balkon, dengan terus menatap langit dan para bintangnya. Berharap Ia pun melakukan hal yang sama, dan kami saling sapa lewat angin malam yang berhembus dingin.
"Iya, tapi dingin benget begini. Masuk angin gue. Dah lah, masuk. Kalau jodoh, besok gue cari dan pasti ketemu."
Aku pun masuk, dan langsung ke kamar dan tidur dengan selimut tebalku yang nyaman.
__ADS_1