
Pov Intan.
Kata-kata yang keluar dari Madam, sama persis dengan yang di ucapkan Bu Tutik padaku. Mereka orang yang menyayangiku, mereka orang yang menemaniku bahkan di titik ter rendah dalam hidupku. Mereka tak ingin, aku sakit untuk yang kesekian kalinya..
"Apakah, dalam duniaku tak boleh berharap akan sebuah kata bahagia?" gumamku, yang kini duduk sendirian di kamar pelayananku.
Usiaku memang masih begitu muda bagi mereka. Pengalaman hidupku masih sedikit, meski sudah tak lagi lugu seperti yang lain.
Aku menyulut rokokku, dan mulai menghisapnya dengan kuat. Fikiran dan hati kembali berontak dengan keadaan. Ketika aku mulai membuka hati, dan mulai ingin berdamai dengan diri sendiri.
"Tan, kenapa lagi sama kamu?" tanya Nina menghampiriku.
"Kenapa, biasanya juga seperti ini."
"Baru tadi, aku lihat kamu dengan mata yang berbinar. Wajah cerah, dan senyum yang begitu merekah. Begitu jarang aku lihat. Tapi, kenapa dengan mudahnya berubah?"
"Nin, pernahkah kamu mulai berharap akan sebuah kebahagiaan, tapi seketika terpatahkan oleh keadaan?" tanyaku. Dan Nina menggeleng mendengarnya.
"Seperti saat ini. Ketika mulai membuka hati, tapi harus sadar diri dengan kenyataan. Apakah... Seorang seperti kita tak pantas mengharapkan sebuah cinta." imbuhku.
"Apa karena pria tadi? Kamu menyukainya? Karena tampaknya, Ia pun menyukaimu."
__ADS_1
"Benarkah? Aku bahkan sempat tak percaya dengan apa yang aku rasakan."
Nina menatap kearahku. Tak tahu apa yang Ia sampaikan dari tatapan itu. Kasihan, simpati, atau yang lain. Atau bahkan, menganggapku gila karena berharap sesuatu yang nyaris tak mungkin.
Pov Uthor.
Malam telah larut. Mereka semua Satu persatu membereskan diri dan pulang.
"Intan, kau ingat pesanku?" tegur Madam Lola.
"Entah... Meskipun ingat, tapi aku ingin pura-pura tuli." jawabku padanya, dengan mengedipkan mata genitku.
"Tan... Jangan main-main. Kau bisa lebih menderita nantinya."
Pukul Dua malam. Intan membelah jalanan yang mulai sepi sendirian. Dulu, Ia tak pernah takut ketika ada begal, atau perampok lain. Tapi kali ini, Ia seolah takut dengan semua itu.
Bulu kuduknya merinding, kakinya gemetar. Ia selalu melihat kanan dan kiri jalan, dan spion yang menempel di mobilnya. Tampak sebuah motor sport hitam mengiringnya dari belakang. Berjalan pelan menyesuaikan dengan mobil Intan.
"Itu siapa? Kok ngikutin?" tanya Intan yang mulai cemas.
Intan mempercepat laju mobilnya, dan motor itupun pun ikut mempercepat lajunya.
__ADS_1
Karena merasa risih, akhirnya Intan menghentikan tiba-tiba mobilnya. Membuat motor itu nyaris menabrak, tapi akhirnya menjatuhkan diri demi melindungi mobil Intan.
"Hey... Kamu gila? Kenapa ngikutin aku? Mau apa kamu?" omel Intan yang keluar dari mobilnya dalam keadaan emosi.
Pria itu membuka helem, dan merenggangkan resleting jaketnya.
"Aku berniat mengawalmu pulang." jawabnya.
Mata Intan terbelalak, ketika ternyata pria itu adalah Troy.
"Kamu? Ya ampun, aku ngga faham kalau kamu. Maaf, Troy."
Intan kemudian membantu Troy bangun, dan membersihkan kotoran yang melekat di tubuhnya.
"Kenapa malah nangis?" tanya Troy, ketika melihat air mata Intan tumpah.
Intan tak menjawab. Ia diam, lalu memeluk tubuh Troy dengan begitu erat.
"Intan, kenapa?"
"Tolong, jangan memberiku harapan yang indah. Jika akhirnya, harus berakhir tanpa kepastian. Aku terbiasa sakit, tapi aku tak ingin sakit kerenamu, Troy." Intan tersedu.
__ADS_1
Troy hanya diam, Ia menbalas pelukan Intan dengan erat. Meski sebenarnya, lengannya sakit karena jatuh.
"Aku tak ingin memberi harapan, aku ingin memberi kenyataan."ucapnya lirih.