
Pov Author.
Minuman dingin segera di ambil Intan. Benar-benar dapat melepas dahaganya di hari yang panas ini.
Intan kembali mengambil Pop mie pavoritnya, dan meyeduhnya dengan air panas yang memang di sediakan di sana..
"Hhhh... Suram sekali rasanya seperti ini. Andai ada pekerjaan tambahan, yang bisa ku lakukan siang hari."
"Mau kerjaan apa?" Troy mengagetkan.
"Kamu... Bisa ngga sih, datang dan menyapa dengan cara yang normal?" omel Intan yang begitu terkejut olehnya.
Troy menatap Intan, mengarahkaj jari telunjuk dan mengitari area wajahnya.
"Aku, masih normal kok. Belum gila."
"Iya, kamu normal. Yang gila ayahku."
"Hah!" kaget Troy.
"Iya, ayahku gila. Sekarang bahkan di rawat di RSJ, sudah Dua tahunan."
Troy menatap Intan dengan tajam, meski Intan tetap cuek dengannya. Yang ada dalam fikiran Troy adalah, Ia yang semakin merasa bersalah karena telah memutus sumber keuangan Intan. Padahal, Ia begitu memerlukan biaya untuk ayahnya.
" Maafkan aku, Tan?" batin Troy.
Troy masih tetap diam, hingga Intan selesai dengan Mie nya. Dan menperhatikan wajah Intan yang tampaknya mulai mengantuk.
__ADS_1
"Muka bantal, kenyang dikit ngantuk." ledek Troy.
"Ya, gini. Terbiasa kerja malem, giliran ngga kerja, ya kebiasaannya sama."
"Tidurlah, aku tungguin kamu disini."
"Kalau mau pergi, pergi aja. Kamu ada kerjaan lain."
Troy menggeleng, Intan pun menidurkan kepalanya di meja, berbantal tangannya sendiiri. Dan sesuai janji, Troy menunggunya sepanjang hari.
Tatapan Troy selalu fokus ke Intan, mentap wajahnya yang bersih, dan sesekali menyibak rambutnya yang yang turun.
"Kau tahu, kau terlihat begitu bersih meski aku tahu apa pekerjaanmu."
Hampir Satu jam dalam keadaan itu. Intan tiba-tiba bangun dan gugup mencari kontak motor yang Ia pakai.
"Kontak motor mana, kontak?" tanya Intan yang begitu cemas.
"Itu di depanmu. Kenapa?"
"Jam... Jam berapa?"
"Jam Satu... Lewat dikit, kenapa sih?"
"Jangan banyak tanya dulu. Aku mau jemput keponakan. Udah ngga sempet kalau harus Ibu nya yang jemput." Intan kemudian bergegas, lari. Menuju motornya.
Ia meninggalkan Troy yang masih dalam kebingungannya. "Dia itu, aneh. Tapi bikin penasaran gitu."
__ADS_1
Intan menyetir motornya kencang, menuju sebuah sekolah dasar khusus anak Luar biasa. Ia dari tempat parkir, menuju langsung ke kelas Hafiz, anak Bu Tutik.
"Hafiz... Fizzz..!" panggilnya.
"Akak..." panggil Hafiz yang muncul dari pintu luar.
"Kok, akak yang jemput."
"Maaf, motor Ibu Kakak bawa tadi. Yuk pulang, Ibu sudah nunggu di rumah." ajak Intan dengan menggandeng tangan Hafiz.
Hafiz anak Bu Tutik semata wayang, Ia Tunawicara dan kakinya membentuk huruf X. Ia dan Intan sudah seperti saudara kandung, meski Intan sendiri yang menjaga jarak padanya.
"Itu... Kakaknya kelakuannya begitu, yang kena azab adiknya." celoteh ibu-ibu yang selalu menghina Intan dengan profesinya
Selama ini Intan hanya diam, karena Ia tak mau menambah beban Bu Tutik. Ia tak ingin, ada masalah hanya karena dia.
Intan kembali memacu motornya, dengan tangan terus mengontrol Hafiz di belakang.
"Troy, kamu mau tahu rumahku?" tanya Intan, yang masih sempat menyapa.
"Boleh?"
"Ikuti aku dari belakang." balas Intan.
Troy pun mengangguk, lalu mengikuti Intan untuk mengetahui rumahnya. Sepanjang jalan, Troy terus memperhatian mereka berdua yang saling lempar canda dan tawa. Tanpa sedikitpun risih dengan keadaan.
"Sepertinya, kamu memang istinewa, Tan."
__ADS_1