
Pov Troy.
Sebenarnya aku ingin membalaskan dendam Intan pada pria itu. Tapi, aku harus menunda demi memfokuskan diri pada tebusan itu.
"Hhh, aku seolah ingin menebus anak yang sedang di culik."
Ku parkir motorku, lalu masuk ke rumah Ronald. Aku langsung mencarinya, dan menanyakan mengenai targetku berikutnya. Sekaligus, menanyakan jumlah uang yang ku miliki saat ini.
"Tumben kau menanyakan uangmu? Untuk apa?" tanya Ronald yang berdecak heran.
Pasalnya, aku memang menitipkan semua uangku padanya. Itu semua, demi mencari Ibu ku yang katanya ada di negri orang, Jerman.
"Aku ada perlu dengan uang itu."
"Tak jadikah menyusul Ibumu?"
"Aku beralih fikiran. Daripada memperjuangkan dia yang nyatanya telah membuangku, lebih baik aku memperjuangkan dia yang ada di dekatku." jawabku dengan percaya diri.
Aku melihatnya menghela nafas panjang. Wajahnya tersenyum, tapi tatapan matanya seperti orang yang kebingungan. Aku pun tak mempertanyakan itu, justru fokus menyetel pistol dan senjata laras panjangku.
" Berapa Lola memintanya?" tanyanya, yang merusak fokusku.
__ADS_1
"Apa?"
"Lola meminta uang tebusan bukan? Uang yang harus kau berikan untuk menebus gadismu itu padanya."
Aku terperanjat, karena Ia tahu semua yang sedang aku usahakan.
"Kenapa kau tahu?" tanyaku.
"Hanya sekedar mengetahui permainannya saja." jawabnya. Dan aku tahu, ada yang tengah Ia sembunyikan dariku.
"Tiga ratus juta." jawabku.
"Kau menyanggupinya? Bahkan demi gadis itu. Gadis yang telah banyak di jamah oleh pria?"
Aku lalu mengambil sebuah daftar di mejanya. Berisi tetang data seseorang yang menjadi targetku malam ini. Ya, setidaknya sampai tengah malam, harus ada kabar kematiannya dariku..
Melakukan tugas ini tak hanya menggunakan pistol. Senjata itu hanya di gunakan jika dalam sebuah keadaan aku tak dapat mendekatinya. Sedangkan aku, harus dengan berbagai cara bisa melakukan semuanya dengan baik.
"Reastaurant Pachinko. Dia sedang berkumpul dengan rekan bisnis kotornya itu di sana." ucapku yang mendalami tentang targetku.
Karena sudah memiliki data dan fotonya, bahkan tentang restaurant yang Ia datangi saat ini. Aku menyimpan pistolku, dan memilih cara yang lain.
__ADS_1
Malam hari restaurant begitu ramai, mempetmudah ku untuk menelusup. Ke dalam, dan mencuri sebuah seragam pelayan. Aku bergabung dengan pelayan yang khusus melayani targetku, yang seorang anggota dewan ternama itu. Seseorang memintaku menghabisinya, karena dendam lama keluarga mereka.
"Mereka sudah menghabiskan berapa botol di sana?" tanya ku pada pelayan lain.
"Banyak, lebih dari Sepuluh botol. Kenapa?"
"Tidak apa, hanya memastikan." jawabku padanya.
Aku membawa sekantung serbuk ginseng, yang ku beli pada penjual obat tradisional yang ku temui beberapa waktu lalu. Aku memasukannya ke dalam botol Minuman kerasnya, lalu ku antar sendiri pada pria itu.
"Silahkan, Tuan. Ini spesial bonus dari rastaurant untuk pemborong." ucapku.
Dengan senang hati, Ia menerimanya. Dan aku sejenak memastikan Ia meminum seisi botol itu hingga tandas. Lalu, aku yang masih menggunakan masker wajahku dengan rapat, mengambil botol itu daj pergi darinya.
"Tiga... Dua... Satu..." lirihku yang telah membelakangi mereka.
Ketika aku keluar, terdengar kericuhan yang luar biasa dari dalam. Mereka berteriak, dan terdengar begitu cemas dari pendengaranku. Bahkan, beberapa wanita menjerit hiteris. Berteriak ketika Pria itu memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
"Tugas selesai. Laporan kematian paling lambat besok pagi." laporku pada Ronald di rumah.
"Seperti biasa, pekerjaanmu bagus. Segera buang barang bukti, dan pulanglah." jawab Ronald padaku.
__ADS_1
Aku pun menurutinya, berharap besok uang segera di transfer pada Ronald atas namaku.