
"Tan... Bangun, Intan..."
"Troy, kok bisa masuk?" tanya Intan, yang kaget ketika Troy membangunkannya.
"Pintunya ngga kamu kunci. Kamu kenapa?"
"Astaga, aku lupa. Tadi malem, pulang dari rumah Buk Tutik, aku langsung tidur."
"Kepalanya masih sakit? Atau, masih pusing?"
"Engga... Kamu gimana?" tanya Intan pada Troy.
"Aku kumpulin uang simpenanku, udah Dua ratus juta. Itu selama bertahun-tahun aku kerja. Sabar, ya? Aku sedang berusaha."
"Troy, jual aja mobilku. Aku ngga papa, kalau harus kemana-mana pakai motor. Mobilnya jelek, mati pajak, tapi sudah atas namaku. Meski murah, lumayan buat tambahan."
"Huust... Ngga usah. Itu tanggung jawabku, pokoknya kamu tinggal tunggu aja. Sedikit lagi, tunggu sampai akhir bulan ini."
Intan mengangguk, Ia pun melepas daun sirih yang ada di hidungnya.
"Aaakh, lengket." lirihnya.
Troy tersenyum, sembari mengusapkan air agar lengketnya hilang. Lalu Ia memerintahkan Intan untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Berobat, ya?" ajaknya pada Intan.
"Kemana? Ngga usah. Ngurangin tabungan aja, orang lagi kumpulin duit kok." jawab Intan, dari dalam kamar mandi.
"Tan, setidaknya kalau ada apa-apa lebih cepat di tangani."
"Biarlah, cuma pusing kecapekan kok. Aku terbiasa kerja aja, jadi pas di rumah malah pusing." jawab Intan lagi.
Setelah mengganti pakaiannya, Intan menghampiri Troy lagi di ruang tamu.
"Lapar...." rengeknya dengan manja.
Troy hanya tersenyum, lalu pergi mencarikan sarapan untuknya.
Di persimpangan jalan, terlihat Ibu-ibu berkumpul dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Temannya, katanya tapi." jawab yang lain.
"Teman apa teman? Udah pernah nginep bareng, belum."
"Maksudnya?" tanya Troy dengan memicingkan matanya.
"Loh, emang ngga tahu, kalau Intan itu....."
__ADS_1
"Saya tahu, makanya saya ingin melepas dia dari sana." balas Troy.
"Ya susah lah, Mas. Udah kotor begitu. Mau di apain ya tetap kotor."
"Ibu... Semua orang punya masa kelam dalam hidupnya, tergantung bagaimana cara kita memperbaiki hidup di masa depan. Mau lebih baik, atau lebih buruk. Dan sekarang, kami sedang ingin memperbaiki diri. Hanya perlu dukungan dan doa. Jangan banyak bicara, karena kalian tak akan tahu bagaimana perjuangan kami setelah ini."
Troy pergi meninggalkan mereka yang masih saja meracau di belakang. Ingin rasanya Ia membawa pergi Intan dari lingkungan itu, tapi belum bisa saat ini. Ia masih fokus pada penebusan diri Intan, dan setelah itu menikahinya. Meski hanya sederhana dan sah di mata agama.
Setelah mendapat makanan untuk Intan, Ia pun kembali ke rumah itu dan menyuruh Intan sarapan.
"Tan... Kamu kenapa betah disini?"
"Ya, disini tempat lahirku sampai sebesar ini."
"Tapi mereka jahat, ngga pernah mau mengerti kamu."
"Seperti ucapanmu. Diantara yang jahat, pasti ada yang baik. Dan itu membuat aku bertahan. Mereka bicara masalah dosa, dan aku hanya diam. Dosa itu, urusanku dan Tuhan." jawab Intan, yang melahap makanannya dengan begitu nikmat.
"Besok, kalau kita menikah, sederhana saja ngga papa, ya? Kan uangnya habis." tanya Troy.
"Hehe... Masih ada yang mau nikahin aja, udah bersyukur banget rasanya. Meski, aku malu ketika kita bersama.. Aku udah ngga bisa memberi kamu sebuah kebanggan sebagai seorang leaki." sesal Intan.
Troy hanya mengangguk. Dari awal, Ia sudah mengatakan pada Intan akan dirinya yang menerima Intan apa adanya. Dan dengan segala kekurangannya.
__ADS_1
Namun, yang Ia takutkan adalah ketika Intan mulai mempertanyakan pekerjaannya. Dan Ia bingung harus menjawab apa.
"Dan apakaha kamu, mau menerima itu semua?" gumam Troy dalam hati.