
Pov Author.
Hampir sepekan, Intan tak berkabar untuk Troy.
Rumah Madam Lola masih di tutup, dan polisi masih ada di sana untuk berjaga. Troy sesekali datang, untuk mencari tahu keberadaan Intan selama penutupan itu.
"Intan? Kamu siapanya?" tanya Mba Nora, yang juga harus kehilangan pekerjaannya.
"A-aku temannya. Tapi, saat bertemu aku tak menyimpan nomor Hpnya. Apa aku bisa memintanya pada anda?"
"Maaf, nomor Intan tak boleh sembarangan di sebar." jawab Mba Nora.
"Tapi, saya temannya." sergah Troy yang mulai hilang akal.
"Saya sudah berjanji, maaf." jawabnya, dengan melipat tangan pada Troy.
Troy pun akhirnya diam, Ia duduk termenung di pinggiran garis polisi. Ia tak tahu, akan menemui siapa untuk mencari jejak Intan.
"Aku begitu penasaran dengan keadaanmu." gumamnya.
Dalam lamunan itu, suara langkah kaki membangunkannya. Ia menatap ke arah suara, dan seorang anak kecil berlari menghampirinya.
"Kakak, cari Mba Intan?" tanya nuam
__ADS_1
"Iya, kenapa?"
"Adil ambil nomor ini dari Ibu. Tapi, Adil ngga tahu, aktif apa engga. Ibu ngga tahu tadi."
Ia pun berlari kencang, setelah berhasil memberikan nomor Hp itu pada Troy.
Wajah yang murung dan bingung, akhirnya berubah kembali cerah dan penuh sinar harapan. Troy segera mengambil Hp, dan menghubungi Intan dari nomor yang di dapatnya tadi.
"Ha-halo... Intan! Aish, kenapa dia?" gerutu Troy.
Ia pun mencoba mengecek info tentang kontak, dan mulai melacak keberadaannya. Tapi, belum juga Ia temukan.
" Ha-halo, Intan..." panggilnya, setelah tahu nomor tujuannya menyaut.
"Ini.... Ini Troy."
"Troy? Oh, maaf... Nomor yang anda tuju salah. Saya bukan Intan yang anda cari." jawab Intan, lalu menutup teleponnya.
Troy kembali bingung, Ia memikirkan bagaimana cara agar Intan mau bicara dengannya. Tapi memang sulit, karena mereka seolah sedang sama-sama menyembunyikan identitasnya.
Troy menghela nafas, Ia meggerakkan motornya menuju minimarket, tempat Ia dan Intan sering bertemu.
"Semoga kamu di sana. Setidaknya, aku tahu jika kamu baik-baik saja." gumamnya.
__ADS_1
Pov Intan.
"Troy? Darimana Ia dapat nomorku? Apalagi nomor yang ini?" ucapku cemas.
Nomor Hp yang Troy hubungi, adalah nomor Hp yang biasa di pakai ketika ada Bokingan. Dan, tak ada yang tahu itu kecuali sahabat terdekatku.
"Mereka, tak mungkin mengkhianatiku."
Aku bahkan membuat Hp ku senyap agar tak ada yang menelpon ku lagi. Meski sebenarnya, aku butuh pelanggan setelah sepi beberapa hari ini. Uang yang ku punya, ku pakai bolak balik ke kantor polisi untuk kasus kemarin. Bahkan, kasusnya pun semakin rumit dan nyaris aku yang dituduh menjadi tersangkanya.
"Brengsek mamang, ketika aku yang awalnya saksi, kok malah mau di jadiin tersangka. Begini nasib orang susah. Apalagi, keluarganya semua keras hati." gerutuku kesal.
Aku berlari keluar, dan meminjam motor Bu Tutik untuk membeli makanan.
"Tapi ngga isi bensin, lagi kere aku."
"Kalau kere itu, makan apa adanya. Cari di dapur sana, makan pakai nasi." tegurnya.
"Males, mau cari roti." jawabku, lalu pergi dengan motornya.
Aku bahkan tak membawa Hp, sengaja ku tinggal di kamar. Aku malas dengan semua gangguan.
"Kata orang, kalau rejeki ngga akan kemana. Siapa tahu, pulang nanti ada bokingan." harapku.
__ADS_1