100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Perlawanan Intan


__ADS_3

Wanita itu naik pitam. Ia menjambak rambut Intan sekuat tenaga, dan menghempaskan tubuhnya ke dinding.


"Mati saja kau! Sudah menggoda suamiku, masih sok berharga diri." ucap wanita itu. Ia pun mengode sang anak, lalu anaknya menggeledah tas Intan dengan membabi buta.


"Ini kunci mobilnya, Ma. Mobil ini, pasti dari Papa." teriaknya dengan begitu antusias.


Wanita itu tertawa puas, dengan menggenggam kunci mobil milik Intan di tangannya.


"Ini, hanya mobil butut seperti ini yang kau punya? Yang kau gadang-gadang dari hasilmu. Ciiiiih! Menjijikan." ucap Wanita itu dengan segala hinaannya.


Intan hanyga berdiri diam, hatinya meradang, dan isi kepalanya mendidih. Emosinya benar-benar terpancing kali ini.


Pov Intan.


" Mobil butut kau bilang? Akuh bahkan nyaris mati demi mobil itu." ucapku dalam hati.


Aku menatap pria tua itu dengan tajam. Ia hanya bisa duduk tertunduk dan menyaksikan apa yang Istri dan anaknya padaku.


"Hey pak tua? Dimana nyalimu? Dimana harga dirimu? Apa kau fikir, setelah kau membayarku, kau bisa menjebak aku dengan mudah?" tanyaku padanya.

__ADS_1


Kakinya tampak tremor, wajahnya tampak pucat. Ia gugup, akan membalas ucapanku, atau tetap diam menatap situasi saat ini.


"Kembalikan kunci mobilku."pintaku pada wanita itu.


"Ini kau dapat dari suamiku, dan itu tandanya ini milikku."jawabnya dengan begitu percaya diri.


" Kau kira, akuh selingkuhannya? Kau kira, aku semurah itu bisa menjadi simpanan tua bangka seperti suamimu ini, hah! Kembalikan kunci mobilku sekarang! "teriakku, tepat di depan matanya..


Anak lelaki itu kembali menghampiriku, Ia mulai mengepalkan tangannya lagi dan mengarahkannya padaku dengan emosi.


" Berani kau menghina mamaku!" pekiknya.


Namun, kali ini bogemnya ku tangkis. Tangannya ku tepis hingga Ia sendiri menumbur tembok dan menjerit kesakitan.


Aku hanya tertawa melihatnya.


"Akhirnya, kamu bicara juga Pak tua. Katakan pada mereka, aku bukan selingkuhanmu. Mereka harus mengembalikan kunci mobilku, dan meminta maaf atas ini semua." ucapku padanya.


"Masih ngeles kamu. Udah jelas ketangkep basah, masih juga berkilah! Pelakor!" hinanya lagi padaku.

__ADS_1


Emosiku benar-benar di luar kendali kali ini. Aku keluar, dan meninggalkan mereka dalam kamar itu.


"Menuduhku selingkuhan, menyita kunci mobilku, memukulku, bahkan menuduhku pelakor! Kau tak tahu siapa aku, nenek tua!" gerutuku sepanjang lorong turun.


Aku kini berada di parkiran. Ku lihat mobil Pak Tua itu yang terparkir tepat di sebelah mobilku. Ku ambil batu, lalu ku lempar jendelanya hingga pecah dan menimbulkan suara yang begitu nyaring, hingga semua tamu di hotel keluar karenanya. Termasuk mereka.


"Wanita gila! Kau hancurkan mobil suamiku. Bajingan!" pekiknya.


"Kau menuduhku selingkuhannya, dan bahkan kau menahan kunci mobilku. Aku hanya memberi balasan yang setimpal atas kelakuan kalian. Apalagi!"


"No-nona... Tolong, hentikan. Jangan buat keributan lagi dengan keluagaku." pinta pria itu.


"Kembalikan mobilku, maka aku akan menghentikannya."


"Ma.. Tolong, berikan mobil itu padanya. Itu miliknya, tak ada hubungannya denganku." pinta pria itu pada istrinya.


Sang istri menatapnya dengan nanar, matanya mulai berkaca-kaca ketika Suaminya bersimpuh untuk meminta hak ku padanya.


"Kau.... Kau memilih dia?" ucapnya.

__ADS_1


Aku merebut kunci mobilku darinya, "Cari sendiri siapa selingkuhannya. Aku hanya di bayar untuk malam ini. Sebagai pengalihan isu tentang skandalnya."


Aku lalu naik ke mobil, dan meninggalkan mereka dalam perseteruan yang masih panas itu.


__ADS_2