
"Itu urusanku. Tugasmu, hanya menunggu." jawab Troy dengan menggenggam tangan Intan.
"Baiklah, Satu bulan waktumu. Aku tunggu di sini, dan setelah itu kalian bisa memperjuangkan... Cinta kalian." tawanya mengejek.
"Aku usahakan secepatnya." jawab Troy dengan begitu yakin.
Troy menyeret tangan Intan dan membawanya keluar. Tampak dari wajah Intan yang penuh akan tanya tentang semua keseriusan yang Troy ucapkan.
"Kau dapat uang darimana? Tiga ratus juta, bukan jumlah yang sedikit. Apalagi, dalam waktu Satu bulan."
"Sudah ku bilang, itu urusanku." ucap Troy dengan senyumnya, sembari memasangkan helm di kepala Intan.
Pov Intan.
Dia membawaku kembali pulang dalam diam. Aku tahu, fikirannya sedang begitu berat karena memikirkan uang yang begitu banyak, hanya untuk menebus wanita hina sepertiku.
"Kamu pantas dapat yang lebih baik daripada aku." bisikku padanya.
"Kau yang aku mau. Maka kau yang akan aku perjuangkan." balasan itu membuat hatiku bergetar tanpa samar.
__ADS_1
Ia menghentikan motornya saat tiba di halaman rumah. Aku segera turun dan memintanya masuk untuk sekedar berbincang. Tapi Ia menolak. Ia memilih pergi dengan alasan mulai mencari uang untukku.
"Jangan katakan menjual mobil, jangan meminta menjual apapun barangmu. Itu milikmu dan ayahmu, aku tak berhak sedikitpun."
"Tapi yang kau lakukan, itu untuk aku."
"Ya, itu kewajibanku sebagai calon imammu." jawabnya.
Lagi-lagi, jawaban itu membuat jantungku berdegup dengan begitu kencang. Sampai kakiku gemetar, bahkan entah apa rasa yang ku alami saat ini. Aku tak pernah merasakan itu. Bahkan dengan Fattan, cinta pertamaku.
"Aku pergi dulu. Kau di rumah saja, dan tak perlu kemana-mana. Mulai hari ini, kau milikku."
"Ingin berdoa untukmu. Apakah, doaku akan di terima?" gumamku.
Bu Tutik melihat kami dari dalam rumahnya. Bagaikan sebuah CCTV yang mengintai dari setiap sudut. Tapi untungnya, Ia selalu memberi nasehat, bukan sekedar omong kosong yang membuat fikiran semakin kacau.
Ia pun menghampiriku, dan mulai mencecarku dengan berbagai pertanyaan dari mulutnya. Dan aku menjawab dengan apa adanya, sesuai semua yang ku alami. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah, ketika ku katakan mengenai niat Troy padaku.
"Hah? Dia serius?" kagetya.
__ADS_1
"Ya, dia sangat serius. Bahkan Ia menyanggupi persyaratan yang di ajukan padanya."
"Itu jumlahnya tidak sedikit. Untuk orang macam kita, setahun pun belum tentu bisa kumpul."
"Tapi dia sanggup, dan dia melarangku menggunakan uang yang ku miliki." jawabku lagi.
Ia masih tak percaya, karena memang dari kelihatannya, Troy adalah pria dengan masa depan yang tak jelas.
"Masih ingat ucapan Ibu?" tanyanya lagi.
"Jangan terlalu berharap?"
"Iya, jangan terlalu berharap. Apalagi, cobaan kalian begitu berat saat ini." balasnya dengan air muka yang serius.
"Intan faham... Karena bukan cuma Ibu yang bilang begitu." jawabku dengan tenang. Meski sebenarnya, harapanku begitu besar pada Troy.
Bu Tutik pergi meninggalkan aku. Ia pulang ke rumahnya, karena hari sudah mulai senja.
Aku duduk dengan Hp di tanganku. Terasa bosan karena biasanya aku telah bersiap kerja pada jam ini.
__ADS_1
"Aku harus bertahan dan sabar. Aku yakin, kau tak akan mempermainkan janjimu." ucapku, dengan menatap fotonya yang diam-diam ku curi di pantai tadi.