
"Tan... Tak ada yang menganggapmu lemah disini. Tapi, aku tahu jika kamu lelah, Intan. Maka dari itu, aku habiskan uang di kantongku untuk membokingmu malam ini." ujar Troy, yang membujuk Intan agar tak semakin emosi.
Intan berderai air mata. Ia menatap Troy tetap dengan botol pecahnya. Tubuhnya masih tampak gemetar, dan wajahnya begitu pucat.
Intan melepas botolnya tak lama kemudian. Ia menghampiri Troy, memeluknya, menciumi pipi, leher bahkan bibirnya. Troy berusaha melawan, meski Ia mulai terpancing, tapi Ia berusaha sadar dengan keadaan.
"Tan... Hentikan, Tan. Bukan ini yang aku mau darimu."
"Munafik, kamu munafik, Troy. Semua pria yang datang kemari, pasti menginginkan ini. Aku bukan pengemis, aku akan melakukan tugasku, sesuai bayaran yang telah kamu berikan."
"INTAN, HENTIKAN!" bentak Troy dengan nada keras. Membuat Intan tediam dan kembali menatapnya nanar.
Troy menggenggam kedua tangan Intan dengan erat, dan kini mereka saling pandang satu sama lain.
Troy kemudian memutar tubuh Intan, dan memeluknya dengan erat dari belakang. Intan pun roboh, tapi Troy tetap mendekapnya.
__ADS_1
"Aku tahu pekerjaanmu sejak lama. Tapi, aku ingin bersamamu. Aku tulus. Tak semua lelaki, menatapmu dengan hina."
Intan menangis sejadi-jadinya. Ia tak mampu melawan lagi, karena tubuhnya telah di kunci oleh dekapan Troy yang begitu kuat. Meski Troy tetap berusaha lembut dan tak membuatnya sesak.
Kaki Troy mengunci kaki Intan agar tak dapat lari dan melepaskan diri darinya. Troy membelai rambut Intan dengan begitu lembut, meski Intan masih menangis kala itu.
"Kau... Tak jijik padaku?" tanya Intan lirih.
"Tidak, tidak sama sekali, Tan. Karena aku tahu, dibalik semua itu, kamu sedang memperjuangkan ayahmu. Bukan hanya karena napsu belaka."
"Tapi aku kotor... Aku menjijikkan, Troy."
Intan masih sesegukan meski sudah tampak tenang. Tubuhnya melemah, seolah pasrah dengan apa yang ada. Troy benar-benar tulus rasanya. Bahkan Ia tak memanfaatkan keadaan meski telah di pancing habis-habisan oleh Intan barusan.
Troy mengganti posisi, Ia menggending tubuh Intan lalu merebahkannya di ranjang. Berbantal tangannya tang berotot, dan dipeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Tidurlah, sampai semua lelahmu hilang. Aku akan terus disini menemanimu." bisik Troy.
"Tapi, jika melebihi waktu yang semestinya, kamu akan membayar lebih." balas Intan.
"Tenang, di dompetku masih ada sedikit. Nanti, kamu tambahin ya, kalau kurang." canda Troy.
"Gila, aku harus menambah uangmu untuk membokingku. Aturan macam apa itu." ucap Intan, yang mulai meretas senyum manisnya.
Pov Troy.
"Akhirnya kamu kembali tersenyum, dan begitu cantik jika seperti ini." gumamku dalam hati.
Aku bukannya tak menginginkan Ia, tapi bukan waktunya saat ini. Dia yang sering di sebut wanita hina, dan aku ingin menyucikan dirinya. Meski nanti, akan begitu banyak rintangan yang aku hadapi.
Ia telah tertidur pulas dalam pelukanku. Tidur dengan senyumnya yang merekah indah. Andai aku bisa, aku ingin hadir dalam mimpinya, dan tetap dapat menghiburnya di sana.
__ADS_1
Aku pun ikut terlelap sejenak, menikmati aroma tubuhnya yang menenangkan hati. Hingga tiba nanti, kami akan bangun bersama dan keluar seolah Ia telah melakukan kewajibannya padaku yang telah membayar jasanya.
"Berapa tambahan dananya nanti. Bisa-bisanya, aku kekurangan uang seperti ini." gumam Troy, yang mengelus dompetnya di saku belakang celana.