100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Jebakan untuk Intan


__ADS_3

Pov Author.


Adzan Maghrib kembali membuka mata Intan. Matanya seketika membulat, menatap jam dinding yang ada di kamarnya.


"Janjian jam Sembilan. Kenapa jam segini udah bangun?" tanya nya pada diri sendiri.


Intan segera membersihkan dirinya, lalu berdandan secantik mungkin seperti biasanya. Ia menghabiskan waktu sebentar dengan menonton film kesukaannya di salah satu webtv, karena menyukai alur yang simple dan tak bertele-tele seperti sinetron di tv.


Cling! Hp kembali berbunyi. Sebuah notifikasi Wa masuk dan Intan langsung membacanya.


"Uang sudah di transfer. Kamu tinggal melayani, semoga ada tips untukmu hari ini." ucap Madam Lola.


Bersyukur, atau jijik. Perasaan kini tak seperti dulu saat baru mengenal dunia itu. Yang bahkan, rasa syukur tak terhingga keluar dari bibir mungil Intan.


Dengan berat hati, akhirnya Intan menyandang tasnya lalu pergi dengan mobil kesayangannya. Mobil yang Ia dapat dari mengumpulkan Tips yang di berikan pala pelanggan untuknya.


Mobil telah di parkirkan dengan rapi. Intan melangkah perlahan tapi pasti menuju kamar yang telah di janjikan.


"Nah, ketemu..." ucapnya girang.


Ia pun menghela nafas panjang, lalu mengetuk pintunya.


Kreeekk! Seorang pria membuka pintu tanpa mengeluarkan diri dari ruangannya.

__ADS_1


"Saya Intan, anak didik Madam......"


Styuuuutz... Pria itu langsung menarik lengan Intan untuk masuk.


"Diamlah, dan layani aku segera." ucapnya dengan nada yang beringas.


Intan mengangguk, lalu meletakkan tasnya di nakas. Pria itu langsung memeluk tubuh Intan dari belakang, dan mulai mengecupi dari leher hingga terus ke bagian lain. Kali ini, Intan merasa risih, seolah ingin mendorong pria itu menjauhi tubuhnya.


"Ingat Intan, obat ayah harus di tebus." batinnya.


Mata Intan mendelik dengan segala ke agresifan pria itu. Ia bahkan menggigit bibirnya sendiri, ketika Pria itu mulai menggujam miliknya dengan ganas. Ia tak dapat menikmati seperti biasanya, Ia hanya melakukan tugas, tanpa dapat merasakan sensasi dalam tubuhnya.


Belum usai permainan, pintu di gedor dengan begitu kencang. Suara teriakan terdengar lantang dari dalam, membuat Intan memaksa menghentikan permainan.


Pria itu tampak terkjut, ketika mulai memahami suara wanita itu.


"Tuan, siapa dia? Apakah itu istrimu?" tanya Intan, yang mulai memakai pakaiannya kembali.


"Gawat, bagaimana dia tahu aku disini?" gumamnya.


Intan dan pelanggannya sama-sama dalam keadaan panik sekarang. Ingin sembunyi, tapi tak ada celah. Hingga akhirnya, pintu terbuka oleh petugas dengan kunci cadangannya.


Seorang wanita, dengan anaknya laki-lakinya yang sudah beranjak remaja.

__ADS_1


Wanita itu melangkah gusar, menghampiri Intan dengan tatapan penuh kebencian.


Plak! Plaaak! Plaaak! Bertubi-tubi Ia mendaratkan tamparannya pada Intan.


"******! Jadi kamu, yang selama ini mengganggu suamiku? Kamu selingkuhannya?" ucap wanita itu.


"Sa-saya bukan selingkuhannya. Saya hanya...."


"Buuughh!" sang anak lelaki mendaratkan bogemnya ke wajah Intan dengan membabi buta.


"Tomi, sudah!" pekik Pria itu pada anaknya.


"Kenapa, kenapa membentak anakkuh? Lebih pentingkah dia daripada anakmu sendiri? Tak tahu diri kamu, Mas."


Intan hanya bisa meringkuk di pojokan, melihat pertengkaran keluarga itu. Ia bingung, apa yang sedang terjadi malam ini. Ia seolah tengah di jebak oleh keadaan, mengotori namanya demi seseorang yang di rahasiakan.


" Katakan! Apa yang sudah kamu dapat dari suami saya sebagai selingkuhannya? Apa!" pekiknya lagi pada Intan.


"Aku tak mendapat apapun, aku bekerja sendiri untuk mobil dan semua milikku." jawab Intan.


"Mobil? Usaha apa kau bilang? Usaha merayu suamiku? ****** kau, pelacur!"


Intan berdiri, dan menatap wanita itu dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Iya, aku pelacur! Aku bukan selingkuhan suamimu. Bahkan, kami baru bertemu malam ini! Mau apa kau?"


__ADS_2