100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Seratus juta lagi


__ADS_3

Pov Author.


"Uang yang kau simpan padaku, semuanya Dua ratus juta." ujar Ronald, dengan memberikan kartu ATM pada Troy.


"Astaga, masih kurang Seratus juta." gumam Troy, sembari memijat dahinya.


"Berunding dengan gadis itu, ajak dia bersama mencari sisa yang diperlukan."


"Jangan. Ini tanggung jawabku, harus aku yang mencarinya. Uangnya adalah miliknya, banyak tanggung jawab yang harus Ia tunaikan. Terutama pada ayahnya."


"Masih ada? Kenapa tak bertanggung jawab pada anaknya. Sampai harus menjadi wanita malam?"


"Hmmmh... Ayahnya, di Rumah Sakit Jiwa." jawab Troy, dengan raut wajah sedihnya.


Ronald terbelalak mendengar ucapan itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tampak semburat simpati untuk keduanya yang memang sedang memperjuangkan hidup yang di harap bisa lebih baik.


" Jika kau dengannya, maka kau akan bertanggung jawab pada ayahnya. Kau siap?" tanya Ronald.


"Sudah ku fikirkan sejak pertama mendengarnya." jawab troy.


Ia pun branjak dari tempat duduknya, dan pergi ke kamar. Hari sudah malam, Ia mulai lelah setelah perjalanan seharian. Ia pun merebahkan diri di kasur, lalu menelpon Intan untuk mengontrolnya.


"Iya Troy?" jawab Intan.


"Video call, bisa? Aku ingin melihat wajahmu." pinta Troy.


Intan mematikan teleponnya, lalu mengubah pada mode Video call. Tampaklah wajah tampan Troy di layar, yang selalu membuat hati Intan berdebar.


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Sedang apa? Sudah makan?" tanya Troy.


"Sudah... Aku sedang menganggur malam ini. Nina, Wulan dan yang lain sudah berisik menelponku. Menanyakan kabarku sampai tak datang bekerja."


"Kamu menjelaskan, tentang rencana kita?"


"He'em... Dan mereka menganggap kita gila." jawab Intan, menganggukkan kepalanya.


"Sabar, ya? Kita akan tunjukkan kegilaan kita. Mereka akan tahu, apa arti gila yang sebenarnya." jawab Troy.


Intan kembali mengangguk, lalu mengusap-usap hidungnya yang di rasa gatal. Bahkan, mungkin terlalu kuat hingga mengeluarkan darah.


"Itu darahnya, dari luar apa dari dalem hidung? Kok banyak?"


"Hah? Darah?"


Intan mengambil tisu dari nakasnya. Ia kemudian mengelap darah dengan tisunya.


"Itu mimisan, apa luka?"


"Troy, aku mimisan. Mungkin karena seharian jalan tadi. Mana kepanasan."


"Tapi, kepalanya ngga sakit 'kan?"


"Engga...." jawab Intan, yang terus membersihkan darah di hidungnya.


"Aku kesana."


"Ngga usah. Ngga papa kok, nanti juga berhenti. Kamu istirahat aja dulu, nanti kalau makin parah baru aku telepon."

__ADS_1


Troy mengangguk, dan menyetujui permintaan itu. Ia pun mematikan Hp agar Intan segera istirahat dengan tenang. Meski, hatinya sendiri tak tenang saat ini.


Pov Intan.


Aku memang sering mimisan. Tapi itu dulu, waktu aku masih kecil. Dan kini, setelah berpuluh tahun aku merasakannya lagi. Bahkan aku tak merasakan apapun sebelumnya.


"Udah habis tisu banyak, kenapa masih ngalir?"


Aku pun perlahan berjalan ke rumah Bu Tutik. Berjalan tertatih dengan mendongakkan kepalaku ke atas.


"Bu... Bu, ini Intan." panggilku.


Pak Amir membukakan pintu. Ia terkejut melihatku dengan hidung yang penuh darah.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Mimisan."


"Masuk dan duduk, Bapak carikan daun sirih buat sumbat. Di belakang rumah ada."


Aku menurutinya, dan Ia pun pergi keluar mencarikan daun sirih untukku. Aku duduk, di temani Hafiz yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Kakak napa?" tanyanya, menatapku aneh.


"Mimisan."


"Mimisan apa?"


"Hafiz, jangan banyak nanya dulu deh. Kakak mau nengok kamu aja ngga bisa ini."

__ADS_1


"Lah kan nanya. Kok malah ngomel." celoteh anak itu, yang memang rasa ingin tahunya sedang meninggi. Sehingga apapun, akan Ia pertanyakan dengan jelas.


__ADS_2