
Duduk di pantai, menikmati deburan ombak dan dinginnya angin yang menerpa tubuh mereka. Troy melepas jaketnya, lalu memakaikannya pada Intan.
"Kau tak kedinginan? Nanti malah masuk angin." ucap Intan.
"Tinggal minta kamu kerokin. Gampang kan? Tubuh ini tubuh orang miskin. Jadi. Kalau sakit, tinggal di kerokin aja udah sembuh." jawab Troy.
"Aku lapar." imbuh Intan.
"Mau makan apa? Jangan ajak ke tampat mahal, aku tak punya uang. Hari ini, aku tak kerja karena menemanimu." balas Troy, dengan memperlihatkan isi dompetnya pada Intan.
"Hhh, dasar miskin. Ayo, aku traktir. Aku dapat uang lumayan banyak, karena seorang pria membokingku lama semalam."
"Heh, itu uangku juga."
"Heh? Yang jelas, itu sudah jadi uangku. Kan kau membayarku."
"Iya, tapi aku yang menemanimu tidur."
"Kau yang menolakku. Dasar! Mau makan atau tidak, kenapa ngajak debat?" omel Intan.
"Yasudah, ayo makan. Aku ingin makan enak hari ini. Bosan, makan mi terus."
Intan berdiri terlebih dulu, lalu membersihkan celana yang kotor karena pasir. Ia menyambut Troy, dan menggandengnya kembali ke motor untuk pergi makan berdua.
__ADS_1
*
*
*
"Kau gila? Kau mengajakku makan ke restaurant mewah?" tanya Troy, ketika Intan menghentikan motornya.
"Katanya mau makan enak. Ayo, masuk." ajak Intan.
"Mending kita makan di tempat lain, Intan. Aku ingin makan enak, tapi bukan tempat seperti ini. Ini terlalu mahal, dan lidahku belum tentu cocok dengan makanannya." balas Troy.
Mereka pun kembali berdebat di gerbang restaurant itu. Troy tak ingi masuk, sedangkan Intan begitu ingin.
"Sekali makan disini, sama dengan bisa untuk makan Lima hari. Kau tahu?" ujar Troy.
"Meski bukan disini, tapi setidaknya mirip. Ayo, cari tempat lain." ajak Troy.
Intan mengerucutkan bibirnya. Dengan berat hati, Ia kembali naik motor Troy dan mengikutinya pergi.
"Jangan ngambek, inget umur." goda Troy.
"Jangan bawa-bawa umur, aku masih muda."
__ADS_1
"Nanti, kau pasti akan suka dengan tempat makan yang ku tawarkan." bujuk Troy.
"Aku maunya di sana. Masa iya, gantinya di pinggiran jalan? Sesekali loh, aku makan enak."
"Makan enak ngga harus mahal. Sebentar lagi kita sampai."
Intan tak menjawab, hanya diam menahan rasa kesal yang masih tinggal dalam hatinya.
"Pengen makan enak, biar lupa sama orang itu. Eeh, malah diajak kemana lagi. Kan makin kesel." gerutu intan dalam hati.
Kali ini Intan melepas pelukannya, tapi Troy terus meraih tangan Intan untuk memeluknya. Terus seperti itu sepanjang perjalanan, hingga mereka sampai di sebuah rumah makan pinggir jalan, tapi begitu ramai dengan pengunjung.
"Rumah makan? Di deket rumah juga ada."
"Udah, ayo turun. Kalau ngga enak, ngga mungkin se ramai itu." bujuk Troy.
Troy memarkir motor, lalu turun menggandeng Intan untuk masuk.
Rumah makan dengan menu asli padang itu, menyediakan menu dengan pilihan begitu banyak yang id. Jejerkan di stelingnya dengan rapi. Troy memilih prasmanan, dan mengambil menu sesuka hatinya.
"Ayo pilih, makan yang banyak biar kenyang. Pilih makanan sesuka kamu, apa aja yang kamu pengen." ajak Troy.
"Ish, harusnya aku yang ngomong gitu. Orang aku yang bayarin." gerutu Intan.
__ADS_1
Mereka telah memilih menunya masing-masing. Lalu memilih tempat duduk yang kosong di sudut ruangan. Menyantap makanan bersama dengan begitu nikmatnya. Terutama Intan, yang memang begitu lapar, sekaligus meluapkan amarahnya melalui makanan itu.
"Kalau seneng, makan. Kalau lagi bete, ya makan. Nikmatin aja hidup ini, karena meskipun hancur, masih harus tetap hidup." ujar Intan dengan mulut yang penuh makanan.