
Pov Intan.
Aku tak dapat tidur seperti biasanya. Tapi, begitu sakit kepalaku jika ku bawa berdiri. Menyut, dari belakang punggung kanan hingga ke mata. Apalagi, bagian kepala atas sebelah kanan. Aku sampai bingung, apa yang harus aku lakukan saat ini.
"Aaarrrggh! Kenapa makin parah?" gerutuku, yang memang bukan kali ini saja merasakan sakit kepala yang teramat sangat.
"Ayolah, Intan... Sembuhlah, gimana mau kerja kalau kayak begini?" keluhku lagi.
Aku meringkuk, menungging menahan sakit yang ada. Mencoba mengalirkan darah ke otaknya agar sakitnya terasa ringan.
"Sakit, Tan?" tanya Buk Tutik, yang tiba-tiba masuk.
"Sakit, berat rasanya."
"Nih, makan dulu. Siapa tahu, abis makan jadi enakan kepalanya."
"Makan buat perut, apa hubungannya sama kepala?" tanyaku padanya.
"Terserah kamu lah, Tan." jawab Bu Tutik, meletakkan makanan lalu pergi dari rumah.
Aku kembali merebahkan diriku, menarik nafas dalam dan mencoba rileks.
"Hhh, gimana mau rileks? Duit juga ngga ada." aku mentertawakan diri sendiri.
Ku tatap jam dinding, yang memang sudah menunjukkan pukul Tujuh malam.
__ADS_1
"Perasaan, tadi ngga tidur. Kenapa ngga denger suara adzan maghrib?"
Aku segera bangun, mandi dan makan dengan makanan yang di kirim Bu Tutik padaku. Terasa hambar, tak tahu kenapa. Ataukah mungkin karena aku yang tak enak badan.
"Berangkat, Tan?"
"Iya, dapet Satu jadilah, buat makan besok. Besoknya cari lagi." jawabku.
Aku menyetir cukup kencang, menuju rumah Madam Lola. Di sana sudah cukup ramai dengan rekan dan para pengunjung.
"Intan..." pekik Wulan, dan Nina yang menyambutku.
"Hey, udah dapet belum?" tanyaku pada mereka.
"Belum, mereka nanyanya kamu. Ada tuh, orang kaya mau boking malam ini. Udan nunggu di kamar." jawab wulan.
"Lola... Bisa kah, aku pindah kamar?" tanyaku.
"Itu kamar khusus untukmu. Kamar yang besar, bagus, dan sesuai apa yang kamu mau. Kenapa lagi?"
"Traumanya. Masih terbayang-bayang, Lola."
"Kamar yang ada, tinggal kamar kecil. Kamu ngga akan nyaman, pelanggan pun kurang nyaman." ujar Lola padaku.
Aku akhirnya pasrah, dan mulai masuk ke kamar.
__ADS_1
"Selamat malam, saya Itan. Saya akan..... Troy?"
Aku begitu terkejut, ketika pria itu membali tubuhnya. Dan ternyata Ia adalah Troy.
Malu, marah, semua menjadi Satu dalam hatiku. Tubuhku bergetar begitu kuat, tak ingin maju atau pun mundur. Hanya diam di tempat menatapnya tajam.
" Intan... Kemarilah." ucapnya dengan senyum, dan tangan yang merentang akan memelukku.
Pov Author.
Intan tetap tak bergerak dari tempatnya. Ia hanya diam menatap Troy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kau menghinaku?" tanya Intan.
"Kenapa kamu berfikiran begitu? Aku hanya membokingmu. Aku tak ingi kau bekerja malam ini, aku tak ingin kau lelah."
Intan dengan dengan penuh emosi lalu menghampiri Troy, dan sebuah pukulan melayang ke pipinya.
"Kenapa... Kau memukulku?" tanya Troy.
"Kau jelas menghinaku, Troy. Kau tahu aku seorang pelacur 'kan? Kau tahu, tapi kau seolah ingin melindungi dan berteman padaku. Untuk apa? Untuk mempermainkan perasaanku?"
"Tidak sama sekali, Tan. Aku tulus padamu, tulus berteman, bahkan aku tulus dengan semua rasaku. Aku hanya ingin membantumu."
Intan meraih sebuah botol minuman di nakas. Lalu memecahkannya dengan kasar. Ia lalu mengarahkan ke kepada Troy, tepat di lehernya.
__ADS_1
" Kau mau apa, Intan?" tanya Troy, lirih.
" Kau menganggapku wanita lemah? Aku tak selemah yang kau fikir. Kau tak tahu tentang aku Troy, tidaaaak!" pekik Intan yang tampak mulai frustasi.