
Pov Intan.
Aku terdiam setelah mendengar ucapan Bu Tutik. Kadang kala, perkataan itu memang benar adanya. Rasa trauma ku yang tinggi ketika mencintai seorang pria, membuatku begitu sulit membuka hati. Sehingga beliau begitu mewanti-wanti ku ketika ada ke anehan dalam sikapku.
"Maaf, Intan akan jaga jarak."
"Bukan karena Ibu tak suka. Tapi, ini demi Intan sendiri. Bukan karena trauma, tapi karena pekerjaan Intan juga. Ibu takut, ketika kalian sama-sama menggantung harapan, semua hancur seketika hanya karena pekerjaan Intan. Sangat sulit menerima seorang wanita dengan profesi seperti kamu."
"Iya, Bu. Intan hanya ingin nemiliki sahabat, itu saja."
"Ya, hanya saja... Seorang pria dan wanita dewasa, begitu jarang bisa bersahabat dengan baik." jawabnya di akhir cerita.
Aku hanya mengangguk lesu, karena yang Ia ucapkan memang nyaris benar. Aku harus menjaga perasaan, agar tak semakin dalam padanya. Apalagi, memang begitu nyaman ketika ada di sampingnya.
Bu Tutik meninggalkanku, dan memintaku tidur seperti biasa. Dan sehabis maghrib, Ia akan membangunkanku.
__ADS_1
Ku lihat Hp yang dari tadi tak tersentuh. Dan ku buka Satu persatu pesan yang ada di dalamnya.
"Hotel Andalasia, jam 21.00, kamar 209. An Tuan Rafles."
Entah, harus bersyukur atau harus sedih. Aku mulai nyaman ketika tak melakukan itu lagi selama seminggu. Tapi, keuangan mulai menipis saat ini. Apalagi Ayah, yang obat jantungnya di drop setiap seminggu sekali. Dan salah Satu pesan adalah dari Ricki.
" Obat Ayah segera habis. Bisakah kamu menebusnya? Dan... Ayah sering memanggil namamu belakangan ini." ucapnya Via Wa.
"Aaaarrrghhh! Kenapa, ketika aku ingin berhenti, ada saja yang mengharuskan aku tetap lanjut." gerutuku, dengan menjambaki rambut yang panjang.
Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur, dan melelapkan mata menyambut malam yang kembali kelam.
Pov Troy.
Aku pergi, tapi bukan pulang. Aku terus pergi ke sebuah tempat yang biasa menjadi tempat nongkrong kaum seperti Intan. Bukan ingin memasukan Intan ke grup mereka, tapi aku ingin tahu, bagaimana cara menebus Intan dari Madamnya.
__ADS_1
"Mereka datang sendiri, dan meminta madam Lola untuk mengorbitkan dirinya pada setiap langganan. Tapi, mereka akan begitu sulit untuk keluar dari dunia itu."
"Sulit, setidaknya bisa. Pasti ada cara." jawab Troy.
"Kau harus menyiapkan banyak uang untuknya. Apalagi, sekelas Intan. Madam Lola akan rugi begitu banyak jika Intan pergi."
Aku mengangguk, seolah semangatku terpacu untuk bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak yang di perlukan.
"Lagian, kenapa sih harus dia? Dia udah banyak di pakai orang. Udah hancur masa depannya. Kenapa ngga cari yang lain aja, setidaknya lebih baik dari dia."
"Aku tahu, dia tak baik. Aku tahu dia rusak dan tak akan bisa diperbaiki. Tapi, aku tahu dia." jawabku dengan menenggak minuman yang tersaji di mejaku.
"Ya, terserah kau lah. Begitu banyak resiko ketika kamu bersama dia. Image yang ada, ngga akan bisa hilang dengan mudah meski kalian menikah. Kau harus menjaga hatimu, dan menjaga dia agar tak tergiur kembali."
Sahabatku, adalah salah seorang dari Madam Lola. Ia membuka kelompoknya dan berjalan dalam komunitasnya sendiri. Meski masih dalam asuhan Madam Lola, sehingga Ia tahu benar mengenai Intan.
__ADS_1
Hati ini seolah terpacu, dan begitu semangat memperjuangkan Intan untuk menjadi milikku. Aku tak perduli, dengan apapun masa lalunya, seburuk apapun itu.