100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Ku jual semua hartaku.


__ADS_3

Tengah hari, Troy pulanh dari rumah Intan. Ia mendapat sebuah panggilan dari Ronald untuk tugas barunya.


"Aku tahu, kau butuh uang. Maka dari itu, aku serahkan padamu." ucap Ronald Via Wa nya. Dan itu segera Troy hapus agar tak meninggalkan jejak.


Troy lalu menyiapkan pistol yang Ia simpan di bawah jok motor, lalu mempersiapkannya dengan baik agar lancar ketika di pakai..


Pov Intan.


Aku memastikan Ia telah pergi jauh. Dan pasti tak kembali kemari. Ku buka lemariku, lalu mengeluarkan berbagai perhiasan yang ku miliki. Bukan ku beli sendiri, melainkan warisan Ibu, dan beberapa pemberian pelangganku.


"Lumayan, di jual. Bantu Troy cari duit." gumamku.


Aku segera bersiap, lalu pergi ke toko perhiasan sendirian dengan motor Buk Tutik.


"Jangan lama-lama, mau jemputĀ  Hafiz."


"Ya, nanti sekalian Intan jemput." jawabku.


Aku mengencangkan tarikan gas, hingga tiba ke tempat yang aku tuju.


"Koh... Mau jual perhiasan." ucapku pada pemilik toko. Dan tanpa banyak pertanyaan, Ia pun mengecek semuanya beserta surat-surat yang ada.


"Berhubung suratnya lengkap, jadi langsung di bayar saja. Semuanya Tiga Puluh lima Juta."

__ADS_1


"Ngga bisa lebih dikit, Koh?"


"Tidak bisa ha, itu barang sudah lama semua. Ini masih untung saya beli jarga sekarang."


"Yasudah, terimakasih banyak ya, Koh."jawabku, lalu mengantongi uang itu di dalam tas sandangku.


Tak lupa, aku menjemput Hafiz di sekolahnya. Karena waktu memang sudah menunjukkan jam nya untuk pulang.


"Fiz, ayok!" pekik ku dari atas motor.


"Kok kakak? Ibu mana?"


"Halah, banyak tanya. Yang penting pulang. Cepetan, panas ini."


Hafiz pun melangkah, dan perlahan naik ke motornya.


"Iya,udah berusaha. Udah tahu kakinya susah naik, dibiarin naik sendirian."


"Makanya jangan manja, cume bengkok 'kan? Jalan masih lancar?"


"Kakak! Negbully anak berkebutuhan khusus itu ngga baik. Bisa di laporin loh."kecamnya padaku.


" Laporin aja sono, berani ngga? Paling ngga ada yang kasih duit jajan lagi nanti." ledekku padanya.

__ADS_1


" Ish, bisanya ngancem." ledeknya padaku.


Perjalanan kami diiringi canda dan tawa seperti biasa. Hafiz selalu bisa membalas semua ledekanku padanya, dan selalu bisa membawa suasana ceria dalam hatiku yang sepi.


"Udah di jemput?" tanya Buk Tutik yang menunggu di teras rumahnya.


"Lah, ini... Kan udah pulang." jawabku.


Aku mengembalikan kunci motornya, lalu bergegas masuk ke rumah tanpa menegurnya lagi.


Pov Author.


Tingkah polah Intan seketika membuat Buk Tutik curiga. Ia pun segera mengikuti Intan masuk ke dalam rumahnya. Terlihat di ruang tamu, Intan sedang menghitung uang yang Ia keluarkan dari tasnya.


"Darimana dapat uang sebanyak itu?" tanya Bu Tutik yang keheranan.


"Dari... Jual perhiasan Ibu, dan perhiasan Intan sendiri. Lumayan, bantuin Troy kumpulin uang buat nebus diri sendiri ke Madam Lola."


"Tapi, itu ngabisin simpenanmu."


"Ya sama aja, Troy juga abisin simpenan dia demi Intan. Tiga ratus juta ngga sedikit, dan dia punya Dua ratus di tangan. Setidaknya, Intan bantu dia 'kan."


Bu Tutik melihat keseriusan mereka berdua. Ia lalu duduk, dan membantu Intan untuk menghitung uang yang ada di mejanya saat ini.

__ADS_1


" Intan mau jual mobil, tapi sama dia ngga boleh. Ngga tahu, dia mau nerima apa engga uang ini. Yang penting, Intan udah berusaha bantu."


"Beruntung kamu mendapatkan dia. Lelaki yang masih mau memuliakan kamu, meski Ia tahu kamu bagaimana. Ibu hanya bisa mendoakan, karena Ibu ngga bisa membantu apa-apa." jawab Bu Tutik, dengan wajah yang begitu tulus untuknya.


__ADS_2