100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Haram bagimu, halal bagiku


__ADS_3

Pov Author.


Pagi hari datang dengan begitu cerah. Intan telah rapi dengan dandannya seperti biasa. Kali ini lebih sederhana dari pada biasanya.


"Untung udah di bayar ke madam lebih dulu. Jadi dapat uang."Ucapnya.


Intan mengenakan polesan bedak lumayan tebal untuk kembali menutupi memarnya. Dan lipstik berwarna merah merekah untuk menutupi bibirnya yang terluka.


" Dah, siap berangkat." ucapnya, dengan menyandang tas kecil bermerk DOR tersebut.


" Mau kemana, Tan? Tumben, pagi-pagi sudah bangun dan rapi?"


"Buk ning. Intan mau jenguk ayah."


"Kenapa di tengok terus. Orang jahat begitu aja."

__ADS_1


"Jahatpun, kalau ngga ada dia, ya Intan ngga ada." jawab Intan dengan kembali mengulas senyumnya.


Bu Ning hanya mengangguk, dan membiarkan Intan pergi. Beliau adalah salah seorang tetangga Intan yang tahu seluk beluk mengenai Intan, Ayah dan Ibunya. Sehingga faham, bagaimana perlakuan ayah Intan selama ini.


Suami Buk Ning, adalah salah satu orang yang di bantu ayah Intan untuk masuk kerja dalam lingkungan pabrik. Sehingga beliau tetap ramah pada Intan dan keluarganya. Masalah tak tahu balas budi, itu hanya segelintir orang licik yang gila akan kekuasaan. Sehingga tak pernah tahu terimakasih, tapi justru menjatuhkan yang lain untuk tahtanya.


"Tutik, apa Intan belum berfikiran kerja yang lain?" tanya Bu Ning.


"Fikirku, Ia sebenarnya ingin. Tapi, pengobatan ayahnya yang begitu terasa berat hingga saat ini. Apalagi, penyakit yang sudah komplikasi. Intan harus ekstra mencari uang."


"Iya, aku faham. Tapi jangan seperti ini terus. Kalaupun untuk pengobatan, harusnya di cari dengan cara yang halal. Masa iya, ngobati ayahnya pakai uang haram. Kapan sembuhnya." ujar Buk Ning.


"Dengan ngangkang ke semua lelaki?" sahut yang lain.


"Tidak semua. Nyatanya suamimu tidak." jawab Bu Tutik.

__ADS_1


"Tut... Aku tahu kau menyayanginya seperti anakmu sendiri. Tapi, kamu juga harus membantu Ia berbenah diri. Itu haram, dan bahkan Ia tahu itu."


"Apakah, jika dia keluar dari sana, kalian akan membantu keuangannya? Tidak bukan? Kamu, dan hampir semua yang ada disini. Bahkan hidup kalian terbantu oleh Ayah Intan ketika Ia sedang jaya. Datang dengan mulut manis, meminta pekerjaan dan posisi yang bagus. Tapi, bagaimana ketika Intan yang meminta tolong? Apakah, kalian membalas budi?" tanya Bu Tutik pada mereka.


"Udah ih, jangan bahas masa lalu terus. Meski pun di bantu, tapi kalau bukan rezski suamiku ya begitu. Ngga akan jadi juga. Di bahas terus perkara bantuan itu, sih." balas Bu Dewi.


"Adanya masa sekarang, itu karena masa lalu. Bahkan Intan trauma menolong orang terlalu banyak. Ia takut, ketika Ia menolong, orang itu belum tentu dapat membalas budinya di kemudian hari."


Bu Tutik lalu pergi meninggalkan mereka dengan air mata berderai. Ia sedih, karena mereka selalu menjawab seperti itu kala Ia mengingatkan tentang jasa Intan dan ayahnya pada mereka.


" Orang lain yang sakit, aku yang ikutan trauma." ujar Bu Tutik, yang telah masuk ke dalam rumahnya.


***


"Mana dia?" tanya Intan pada Ricki.

__ADS_1


"Ada di halaman belakang, sedang berjemur bersama pasien lain. Ingin bertemu?" tanya Ricky.


"Tak usah. Aku hanya ingin memberikan ini." ucap Intan, dengan memberikan lembaran uang merah pada Ricki.


__ADS_2