100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Keseriusan Troy


__ADS_3

"Udah selesai, makannya?" tanya Troy, yang wajahnya berubah serius.


Intan tak terlalu mengapik perubahan wajah itu. Ia kembali fokus menghabiskan makanannya, lalu menghabiskan yang ada di sela-sela jarinya.


"Euuuuggghhhh! Udah, kenyang." jawab Intan, di iringi sendawanya.


"Tan... Aku serius."


"Kenapa? Tumben serius."


"Kita ke Madam Lola, aku akan membawamuh pergi dari sana." jawab Troy.


Intan tersedak hebat, dan batuk sejadi-jadinya karena ucapan itu.


"Aku baru makan loh, jangan diajak bercanda. Masa iya, baru kenyang makan di buat muntah karena ketawa." ujar Intan, dengan menaruh gelas minumnya yang tandas.


Troy tak berkata lagi. Ia menggenggam tangan Intan dengan begitu erat, dan semakin mempertajam tatapan matanya.


" Aku bisa bergaul, dan bahkan memakai semua wanita yang mengenalku. Mereka bahkan memberikan tubuhnya secara cuma-cuma demi kesenangan mereka." ucap Troy.


"Lalu, kenapa mendekati aku yang menjual diri seperti ini. Bukankah, aku dan mereka sama kotornya?"

__ADS_1


"Bagiku tidak. Aku bahkan rela menguras isi kantongku demi semalam bersamamu. Kau memang melakukann pekerjaan kotor, tapi di dalam hatimu, tak sekotor pekerjaanmu."


"Lalu, bagaimana maumu? Kau benar-benar mau menebusku? Dapat uang darimana, sedangkan untuk makan saja kau sulit. Aku tak akan membantu untuk langkah ini." ucap Intan.


"Tidak... Biar aku yang berusaha memperjuangkanmu. Tapi, ketika itu terjadi. Kau harus berhenti dan menungguku di rumah."


Intan masih tak percaya dengan semua ucapan itu. Ia masih menganggap remeh apa yang di katakan Troy padanya. Apalagi, Ia tahu bagaimana Madam Lola akan memberi harga untuk dirinya kelak.


"Mari, kita coba." jawab Intan, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku bayar makanan kita dulu, kau tunggu di motor saja." imbuhnya. Troy pun mengangguk, lalu keluar dari Rumah makan dan kembali memanaskan motornya.


"K-kau yakin menemuinya?" sekali lagi Intan menengaskan.


Troy mengulurkna tangannya, menyambut Intan untuk kembali naik ke atas motor.


Perjalanan tanpa ragu di tempuh mereka berdua. Intan pun seolah lupa  denhan kejadian yang baru saja Ia alami. Justru berubah dengan perasaan yang begitu tegang untuk menghadap Madam Lola.


"Kau serius? Apa yang membuatmu ingin memilikinya?" tanya Madam Lola, tanpa beranjak dari kursi kesayangannya.


"Entah, mungkin cinta." jawab Troy.

__ADS_1


"Bulshit.... Cinta itu omong kosong, hanya di ucapkan oleh sepasang anak remaja belum mengerti arti kehidupan." cecar Madam Lola, dengan wajah datarnya.


"Intan adalah anak mahalku. Tak akan bisa dengan gampang aku melepaskannya. Apalagi, saat ini Ia sedang menjadi bunga disini."imbuh Madam Lola.


" Katakan, berapa yang kau minta. Masih banyak yang bisa kau didik untuk menjadi pengganti Intan." tanya Troy dengan tegas, sementara Intan hanya terdiam tak mampu berkata apapun.


" Lima Ratus juta.... " ucap madam Lola dengan lantang.


"Kau gila? Mana bisa memberi harga segitu banyak untukku? Bahkan seumur hidup aku disini, belum tentu bisa mengumpulkan sebanyak itu." sergah Intan.


"Tolonglah, Lola. Kau sendiri yang bilang, jika aku berhak mencari kebahagiaan untukku sendiri." imbuhnya.


"Tiga Ratus juta. Iya, atau lupakan cinta itu." jawabnya.


Intan gelisah, hanya memegangi kepala dan menjambaki rambutnya dengan kasar. Kepalanya kembali terasa sakit, dan hatinya begitu perih.


"Menjual mobil pun, tak akan mampu membayarnya." gumam Intan.


"Baiklah, Tiga Ratus Juta untuk diri Intan." ucap Troy pada Madam Lola.


"Itu menjadi tanggung jawabku, dan kau tak perlu ikut campur untuk mencari uangnya." ucapnya pada Intan.

__ADS_1


"Jangan bercanda, kau dapat uang darimana?" tanya Intan yang meragukan kemampuan dari Troy.


__ADS_2