100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Kamar penuh darah


__ADS_3

"Intan... Kenapa disini? Ah, tidak... Aku tak bisa bertanya tentang itu. Aku harus pergi sekarang juga." gumamku dalam hati.


Suasana mulai riuh, semua orang mulai memasuki kamar dan sebagian menelpon polisi. Kesempatan itu aku pergunakan untuk langsung kabur dengan motorku, meski terbayang-bayang wajah Intan selalu.


"Apakah dia? Adalah anak buah Madam Lola? Astaga... Kenapa harus dia di sana?" gerutuku sepanjang jalan.


Hpku berbunyi, ku tahu Ronald menghubungiku dan penasaran hasilnya. Tapi, tanganku begitu enggan meraih Hp, dan terus melaju tanpa kata-kata.


Baru kali ini, tangan dan kaki ku gemetar setelah melakukan tugas. Padahal, aku dikenal berdarah dingin.


"Bukan, bukan karena darah. Tapi, karena Intan. Aku bahkan sulit menatap wajah ya setelah kejadian ini." sesalnya.


Pov Author.


Semua riuh, mendatangi kamar Intan dan pelanggannya malam ini.


Tempat tidur basah oleh kucuran darah segar, Pria itu pun terbujur kaku tepat di sebelah Intan yang tampak syok berat.

__ADS_1


Namun, Intan berusaha tenang dan memeriksa denyut nadi pria itu dengan tangannya.


"Denyut nadinya, sudah tidak ada." jawab Intan lirih.


Semua wanita menjerit ketakutan, mereka takut jika akan ada korban lagi nantinya. Beberapa orang berhamburan keluar, dan ada pula yang sibuk merekam moment itu.


Intan turun, menyeka darah yang terciprat di tubuhnya. Dan mengganti pakaiannya dengan rapi.


"Tenanglah, Nina! Pembunuh itu sudah pergi, hanya Pak Joseph yang menjadi incarannya. Nyatanya, aku aman." jawab intan, menenangkan sahabatnya.


"Sudah ada yang telepon polisi?" tanya Intan.


"Tempat ini di tutup, hanya sementara. Setelah pelaku dan urusan selesai, pasti akan di buka lagi. Untuk yang lain, bisa bekerja mandiri di luar." jawab Madam Lola, yang menghampiri mereka.


Tak lama kemudian, mobil polisi dang bersama ambulance, dan beberapa wartawan. Mereka mulai mengidentifikasi korban, dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Terutama pada Intan, yang memang menjadi kunci utama dari kejadian itu.


"Kalian sedang...... ?"

__ADS_1


"Ya, kami sedang berkencan, sesuai profesi saya." jawab Intan dengan sejujurnya.


Polisi hanya menggeleng dengan kejujuran itu, dan tak menyangka dengan jawaban yang Intan berikan.


Pertanyaan pun di lanjutkan hingga beberapa waktu. Sementara jenazah mulai di bungkus dengan kantong yang telah di sediakan. Garis polisi pun sudah di bentuk mengelilingi rumah besar itu, dan kini di jaga polisi.


Intan menemani teman-temannya untuk membereskan pakaian mereka, dan pulang ke kost masing-masing.


"Maaf, ngga bisa memberi tumpangan di rumah." ucap Intan.


"Iya, yang penting masih bisa pulang. Kita callingan, ya? Kalau ada yang mau boking, saling hubungi. Aku ngga punya pelanggan kayak kamu." pinta Nina padanya.


"Iya, aku akan bantu kamu. Dalam keadaan seperti ini, kita harus saling menguatkan. Apalagi, aku juga akan sibuk sebagai saksi kunci nantinya." jawab Intan.


Mereka pun berpisah, Intan kembali menyetir mobilnya untuk kembali ke rumah Madam Lola. Ia masuk, dan kembali menatap kamarnya yang masih penuh dengan darah.


Intan yang tadinya menyandar di pintu, lama kelamaan menjatuhkan dirinya di lantai. Ia menangis sejadi-jadinya, dengan peristiwa naas yang baru saja terjadi tepat di depan matanya.

__ADS_1


"Dan bahkan, aku yang seperti ini masih saja kau hadapkan dengan sesuatu yang begitu menyakitkan. Lalu apalagi? Apa?" ucapnya, dengan hati yang begitu perih.


__ADS_2