
"Tapi, Tan..."
"Kenapa lagi? Aku lelah, rasanya tubuhku sakit semua. Apalagi kepalaku." jawab Intan, dengan memegangi kepalanya.
"Kamu pucat."
"Hmm,. Iya kah? Padahal aku sudah memakai lipstik merah." jawab Intan, dengan berkaca di jendela yang ada di ruangan Ricki.
Bel Rumah sakit berbunyi. Pertanda semua pasien yang ada di luar harus segera masuk. Mereka yang mengerti, akan masuk dengan sendirinya. Sedangkan yang tidak, para perawat akan menggandeng untuk masuk bersama.
"Hay cantik..." goda seorang pasien pada Intan.
Intan hanya tersenyum ramah, karena Intan tahu bagaimana mereka.
"Cantik sedang apa?" sapa seorang lagi.
"Sedang duduk, menanti sang pangeran datang menjemput." canda Intan padanya.
"Bolehkah, aku menjadi pangeran itu. Tapi aku tak punya kuda, hanya punya lamborghini untukmu."
"Wah, benarkah? Mari kita jalan bersama." ajak Intan, dengan tawa dari raut wajahnya.
__ADS_1
Ricki menatap Intan dengan tatapan yang serius dan tajam. Ia jarang sekali melihat Intan tersenyum lepas sepertu itu, apalagi ketika sang ayah ada di dekatnya. Kala itu Ia akan menjadi batu yang hanya bisa diam seribu bahasa.
Intan semakin seru mengobrol dengan pasien itu. Seperti seorang sahabat yang jarang sekali bertemu. Obrolan mereka nyambung satu sama lain, dan apapun yang pasien itu bicarakan, Ia selalu meladeni dengan baik.
"Kamu sakit apa, sampai masuk ke sini?"
"Ngga sakit saya tuh. Cuma sering aneh aja, kalau saya lihat diri sendiri, berasa begitu tampan. Harusnya saya jadi artis, tapi malah di masukin kemari." jawabnya.
"Wah, iya... Kamu tampan sekali. Salah kalau di masukin kesini. Apa bakatmu, bisa menyanyi?"
"Bisa lah... Saya nyanyi ya?"
Intan mempersilahkan, lalu pria itu menyanyi dengan percaya diri yang tinggi, meskipun berantakan. Intan bertepuk tangan, berusaha menikmati meskipun telinganya sendiri sakit.
Intan semakin tertawa lebar, bahkan Ia ikut bernyanyi dengan pasien itu, tanpa memperdulikan orang lain yang menatapnya.
"Ris... Boris, sudah lah. Lihat itu Intan nya kelelahan." tegur Ricki padanya.
Boris pun menyelesaikan aksinya, lalu masuk lagi kedalam ruangan nya.
Sedangkan Intan kembali duduk, dengan nafas yang ngos-ngosan dan tubuh penuh keringat.
__ADS_1
"Kau lelah?" tanya Ricki, dengan memberikan sapu tangan padanya.
"Lelah... Rupanya, menjadi gila itu juga melelahkan. Tapi itu menyenangkan, karena kita tak perlu terlalu memikirkan orang lain di sekitar kita." jawab Intan.
"Mereka tak akan pernah lelah, karena itu takdir mereka. Itu sakit, dan bukan di sengaja. Seperti ayahmu." ucap Ricki.
"Hmmm, mana dia? Kenapa belum masuk?" tanya Intan.
Ricki lalu keluar mencarinya, berkeliling meninggalkan Intan sendirian di ruang tunggunya.
"Kamu... Kenapa kemari?" tanya Ayah Intan, yang datang tanpa kursi roda dan perawat yang menggandengnya.
"Kenapa? Mau mencaci maki aku lagi? Lakukanlah, asal kau puas." ucap Intan.
Sang ayah menghampiri dengan tatapan penuh kebencian. Intanpun berdiri, seolah menyambut baik apa yang akan sang ayah lakukan pada dirinya.
"Aakkkhhhh...!" pekik Intan tertahan, ketika sang ayah mencekik lehernya dengan kuat.
"Katakan, apa yang ingin kau katakan. Katakan semuanya, apa yang membuatmu begitu membenciku." ucap Intan terbata-bata.
"Kau... Andai kan kau mendengarkan kata-kataku, maka hidup kita tak akan sehancur ini. Andai kau mau menurutiku, aku tak akan pernah mereka hina seperti ini. Kau tahu, aku bahkan harus mereka ludahi karena membela mu. Aku nyaris mati karenamu.... Aaaarrrrgggh...! "teriak Ayah Intan dengan begitu kuat.
__ADS_1
Intan hanya diam, menitikan air mata. Tapi, Ia tersenyum dengan semua pengakuan yang keluar dari bibir ayahnya itu.