
Pov Author.
"Sial, aku hanya di jadikan umpan. Jangan kan tips, malah yang ada pukulan dan tamparan malam ini." gerutu Intan, sepanjang perjalanan.
Ia membawa mobilnya ke rumah Madam Lola, untuk meminta uangnya yang telah di berikan pria itu padanya.
"Intan... Wajahmu kenapa?" tanya Madam Lola yang kaget.
"Pria itu membuatku sebagai umpan, untuk menyembunyikan selingkuhannya. Istri dan anaknya menghajarku sampai begini."
Madam Lola langsung meminta pembantunya untuk mengambil air es. Lalu Ia mengompres wajah Intan yang memar.
"Uangku mana?" tanya Intan, mengacungkan tangannya.
Madam Lola berdiri, dan mengambil uang untuk Intan. Lalu memberikannya.
"Dia butuh obat, dan harus di tebus besok. Aku tak tahu, ini cukup atau tidak. Padahal, aku mengincar tipsnya malam ini." ucap Intan, menggenggam amplop coklatnya.
"Kalau kau jengah, berikan saja hak wali pada dinas sosial. Mereka pasti akan mengurusnya."
"Lalu, mereka akan memenjarakan aku sebagai anak yang membuang Ayah kandungnya? Tidak semudah itu." jawab Intan.
__ADS_1
"Yausudah, aku pergi. Aku ingin pulang dan istirahat malam ini. Sakit semua badanku. Oh iya, aku tadi menghancurkan mobil pria itu. Mungkin besok, kau akan di terornya." ucap Intan, ketika akan pergi.
Madam Lola hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan Intan. Ia faham betul, jika Intan anti di tindas. Sehingga apapun Ia lakukan demi harga diri, yang sebenarnya nyaris habis.
Intan menjalankan mobilnya lagi, menuju ke sebuah danau di dekat taman. Ia ingat, dahulu sering di bawa main kesana oleh Ibunya.
"Aaaaaaaaarrrrrgghhhh!!! Menyebalkan, kenapa seperti ini?" pekiknya di pinggir danau yang sepi itu.
"Ngga ada kerjaan, teriak-teriak malam begini?"
"Eh, loh, kamu? Kok disini?" tanya Intan, yang terkejut dengan adanya Troy di sana.
"Buat aku?" Intan ragu.
"Iya lah... Kenapa? Takut aku beri obat tidur, terus aku perkosa, gitu?" ledek Troy.
"Aku ngga takut di perkosa. Aku sudah mengalaminya, Dua tahun lalu." jawab Intan, dengan menenggak minuman itu.
"Ka-kamu.....?"
"Ya... Aku ngga bohong."jawab Intan santai.
__ADS_1
Troy dan Intan duduk berdua memandang rembulan di tepian danau itu. Begitu indah, ketika cahaya bulannya memantul di atas air.
" Eh, bintang jatuh.... "tunjuk Troy.
" Terus kenapa? Kayak bocah aja, berdoa ketika bintang jatuh."ledek Intan.
Tapi Intan seketika diam, melihat Troy yang tampak begitu fokus dengan harapannya. Hingga Ia memejamkan mata, dan sisi tampannya terlihat dengan jelas. Hidung mancung, wajah putih bersih, dan matanya yang indah.
" Apa permohonanmu?" tanya Intan.
"Hanya ingin, dapat mewujudkan impianku. Harapanmu apa?" tanya Troy.
"Aku tak berdoa. Tapi jika iya... Aku ingin tuhan melumpuhkan ingatanku. Setidaknya ingatan pahit tentang hidupku. Dari yang terpahit." jawab Intan, dengan memandang kembaki rembulan di atas langit.
Troy memahami keinginan itu, dan menambah doanya dalam hati. Bahwa, ketika Intan mulai lupa akan masa lalunya, Ia ingin bersama Intan untuk masa depannya.
Pluuuk!! Intan menyandarkan kepalanya di bahu Troy.
"Izinkan, sebentar saja. Aku bahkan tak memiliki tempat bersandar, selainĀ tembok rumahku yang dingin." ucap Intan.
Troy membiarkannya, dan tetap seoerti itu hingga beberapa lama. Ingin rasanya Troy membelai rambut Intan yang tergerai panjang dan indah itu. Tapi apalah daya, Ia masih harus menahan perasaannya sendiri untuk saat ini.
__ADS_1