100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Nyaman bersamanya


__ADS_3

"Ibuuuuuk!" panggil Hafiz ketika sampai di rumah.


Bu Tutik keluar, bukan menghampiri Hafiz, tapi menghampiri Intan yang sedang memarkir motornya.


Tuuukk!! Bu Tutik menyentil jidat Intan dengan kuat, hingga Intan memekik.


"Sakeeet woy!"


"Kamu kemana aja, daritadi di telepon ngga di angkat. Ibu udah kelimpungan mau jemput Hafiz."


"Yaudah, sih... Kan udah ku jemputin."


Troy menatap mereka dengan senyum geli. Ia tak menyangka, Intan yang selama ini terlihat dewasa dan tenang, memiliki jiwa kekanak-kanakan seperti itu.


"Itu siapa?" tanya Bu Tutik.


"Permisi, perkenalkan saya teman Intan." sapa Troy.


"Temen?" lirik Bu tutik pada Troy, bergantian ke Intan.


"Iya, temen. Sesekali punya temen cowok." jawab Intan.


Bu tutik menatap Troy dari atas kebawah, begitu terus selama beberapa menit.


"Kamu tinggal dimna? Pekerjaanmu apa? Sudah beristri?" tanya Bu tutik lagi.


"Eh, apa sih? Kok nanya nya gitu?" tegur Intan. Sedangkan Troy hanya diam kebingungan.


Baru sekali ini, Troy mendapat pertanyaan dan nadanya membuat hati bergetar.

__ADS_1


"Sa-saya....."


"Dah, jangan di jawab." potong Intan, lalu mengajak Troy ke rumahnya.


"Maaf, duduknya di teras aja."


"Ya, ngga papa." jawab Troy dengan ramah.


Intan masuk, lalu keluar lagi dengan secangkir kopi panas. Jujur, meski Intan pekerjaannya bersama Pria hidung belang. Tapi, baru kali ini ada pria yang datang ke rumahnya. Apalagi, dengan sopan dan cara yang begitu baik.


Mereka melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi. Membicarakan tentang diri Intan yang selama  ini jarang Intan bicarakan pada orang lain. Bersama Troy, tampaknya Intan begitu nyaman hingga mau bercerita. Meski masih terbatas dengan profesinya.


"Turut sedih, dengan kondisi ayahmu." ucap Troy.


"Ya... Aku sudah terlalu terbiasa dengan ini. Aku bahkan sudah tak perduli lagi dengan omongan tetangga mengenai dia."


"Kamu sering mengunjunginya? Boleh aku ikut?" tanya Troy.


"Ya, mau kenalan aja. Ngga papa kan?"


"Ngga usah, ngga boleh. Dia bahkan begitu membenci aku, mana mungkin bisa diajak kenalan sama temenku."


Troy kembali diam. Ia merasa tak enak hati, karena melihat wajah Intan mulai sendu lagi. Lalu Ia Ia menyeruput kopi yang mulau dingin, dengan terus menatap wajah Intan.


" Tan... Tadi pagi aku bikin kopi, manis banget. "


" Lah, kebanyakan gula. Diabetes ntar." jawab Intan.


"Ku kira, yang ku masukin itu gula. Ternyata, kisah kita."

__ADS_1


Intan yang tak biasa dengan kata-kata gombal, refleks melempar bantal yang Ia peluk pada Troy.


"Ish, apaan sih? Candanya ngga lucu."


"Lah, kok canda. Seriusan..." jawab Troy.


Sedang asyik mereka dengan semua canda dan tawa. Seorang tetangga lewat dengan tatapan tanpa berkedip..


"Ngapa, Bu? Ntar ngga bisa balik lagi tuh lehernya." tegur Intan.


"Udah berani bawa cowok pulang?" jawabnya.


"Lah terus? Mau suami Ibu aja yang saya bawa pulang?"


Si Ibu langsung cemas, dan berlari terbirit-birit mendengar ucapan Intan.


Troy tahu maksudnya, tapi tetap pada kepura-puraannya.


Hari menjelang sore, Troy pamit pulang pada Intan, juga pada Bu Tutik yang tampak sedang membersihkan rumah.


Bu Tutik langsung menghampiri, ketika Troy sudah benar-benar pergi dari sana.


"Intan kenal dimana dia?"


"Kenapa? Cuma sering ketemu aja."


"Intan suka sama dia?"


"Ibu, apaan sih? Cuma temen loh."

__ADS_1


"Ibu sudah kenal Intan sejak lama. Tahu betul bagiamana Intan yang tak pernah mau berteman dengan laki-laki. Ibu faham trauma Intan. Ibu cuma ngga mau, trauma itu kembali menghantui."


"Intan ngga tahu... Intan rasa nyaman sama dia. Meskipun, kadang pertemuan kami itu aneh." jawab Intan, dengan mata nanar.


__ADS_2