100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Suara dari masa lalu


__ADS_3

"Mas, siapanya Intan?" tanya seorang tetangga menghampiri Troy.


"Temannya. Kenapa, Bu?" tanya Troy dengan ramah.


"Teman apa teman? Masnya tahu, Intan itu wanita malam? Kenapa bertemen. Saya ngga percaya kalau Mas temennya. Pasti mau boking seharian kan?"


"Maaf, kami tak seprti yang anda fikirkan."


"Halah, Mas. Intan, kalau berhubungan dengan laki-laki itu mana ada yang bener. Tatapan pria pada Intan, itu cuma tatapan penuh napsu. Dia wanita kotor, yang bahkan ngga pernah memiliki teman."


"Wanita kotorpun, masih pantas untuk di perjuangkan, dengan harapan menjadikan dirinya bersih. Tapi, ketika hati dan isi kepala anda kotor, itu akan begitu sulit. Bahkan, anda sendiri tak dapat membersihkannya." jawab Troy dengan santai.


"Halah, laki-laki kalau lagi ada maunya, sok baik. Lihat aja besok, kalau udah hilang rasanya gimana. Pasti pergi, ngga bakal nengok kebelakang lagi." gerutunya, lalu pergi meninggalkan Troy dengan segala ocehan sepanjang jalan.


Tanpa sadar, Intan mendengarkan percakapan mereka dari belakang pintu. Terharu, dengan ucapan yang Troy berikan untuknya. Tapi sakit, ketika mendengar ucapan tetangganya yang kemungkinan itu benar.


Kreeekkk! Intan membuka perlahan pintu rumahnya yang sudah usang itu. Kepalanya tertunduk, mencoba mempertahankan air mukanya yang kuat.


"Troy... Aku siap." ucap Intan, yang memakai kemeja warna hitam, dan rok sebatas dengkul.

__ADS_1


"Kenapa pakai rok?" tanya troy.


"Kenapa? Ini rapi, dan tak seksi."


"Ganti pakai celana. Celana jeans, atau celana dasar panjang kalau ada. Kita naik motor, jangan naik mobil."


"Kenapa? Kan enak naik mobil, tak panas dan tak kena debu."


"Kau tahu, uangku sudah ku kuras habis untuk membayarmu semalam. Aku hanya bisa membeli bensin untuk motorku. Lagi pula, apa orang kata, ketika melihat calon kasir melamar dengan mobil bagus." jawab troy.


"Biasa saja lah. Kemampuan dan selera orang kan beda-beda." gerutu Intan, lalu kembali masuk ke dalam untuk mengganti celananya.


Menunggu Lima belas menit lamanya. Intan pun kembali keluar dari rumah. Dandannya semakin rapi, dengan rambut yang diikat kebelakang. Tak seperti biasanya, yang selalu terurai panjang dan tampak kusut, meski aslinya halus dan lembut


"Aku udah lama ngga naik motor." ucap Intan.


"Udah, naik aja. Udah keburu siang, kamu lama tadi."


Intan menepuk punggung Troy kerena kesal. Lalu naik ke motor, meski seidikit ada rasa gemetar di tubuhnya.

__ADS_1


Pov Intan.


Setelah sekian lama, akhirnya aku duduk lagi di atas motor besar. Bersama seorang lelaki. Jujur, rasa trauma ku seolah kembali datang menghantui. Teringat kala itu, ketika Ia membawaku dan rusaklah sudah apa yang telah ku jaga selama ini.


"Tidak... Troy berbeda. Dia bukan Fattan." ucapku dalam hati.


Sepanjang jalan aku memeluk pinggangnya erat. Aku memilih menyenderkan kepalaku di bahunya, dan memejamkan mata sejenak agar tak terlalu ingat hal itu.


Terasa, motor berhenti di sebuah parkiran minimarket. Agak jauh, tapi lumayan besar dan tampak begitu ramai.


"Ayo, aku ajal bertemu langsung dengan Pak Aldi. Aku sudah buat janji padanya." Troy menarik tanganku.


Kami pun masuk, dan langsung menuju kantor yang bersangkutan.


"Pak, saya bawa calon karyawan baru yang Bapak cari." ucap Troy, pada seorang yang membelakangi kami.


"Sesuai kriteria? Karena saya ngga mau, nanti keluar masuk sembarangan. Saya malas, selalu melatih karyawan baru di Minimarket saya." jawabnya.


Deeegg!!

__ADS_1


Aku seperti mengenal suaranya. Seolah terngiang langsung dalam otak kecilku yang menyimpan semua memori yang begitu sulit aku lupakan.


"Siapa kamu?" tanyaku padanya, dengan suara lantang.


__ADS_2