100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Berbalas kasih


__ADS_3

Pov Intan.


"Pak, sudah, Pak. Dia anak Bapak!" pekik Ricki yang menarik ayah dari tubuhku.


Aku tak mendorongnya, aku membiarkan semuanya tetap seperti itu. Karena apa? Karen akhirnya Ayah menatapku dengan mata yang begitu tulus. Baru kali ini aku melihatnya.


"Mba Intan ngga papa?" tanya Siska, perawat di sana.


"Tak apa. Saya baik-baik saja. Hanya... Saya boleh minta minum?"


"Owh, akan saya ambilkan." jawabnya.


Aku hanya mengangguk, lalu menatap ayah yang di bawa kembali ke ruangannya. Ia di isolasi, karen memang sering mengamuk dan menyerang pasien lain secara tiba-tiba.


"Mba, ini silahkan diminum." ucap Siska, dengan memberikan sebotol air mineral padaku.


"Terimakasih. Saya... Pamit pulang dulu, ya? Jangan lupa, titip ayah." ucapku padanya.


Ia mengangguk, lalu aku pergi meninggalkannya.


Di dalam mobil, aku memperhatikan leherku yang memerah. Nafasku pun ikut tersengal karenanya. Terasa begitu sesak, hingga sulit bernafas.


" Tua bangka itu, kenpa tenaganya masih begitu kuat?" gumamku.


Aku melewati gedung itu lagi. Gedung tua tempat pertama aku bertemu dengannya. Pertemuan yang memalukan, tapi begitu berkesan hingga saat ini.

__ADS_1


Dari kejauhan, aku menatap keatas. Dia ada lagi di sana, kembali dengan pistol panjangnya. Aku tak tahu, apa namanya. Hanya itu yang terlihat, dan begitu kecil, tapi aku tahu itu dia.


"Seperti profesional. Tapi, apa yang dia lakukan dengan tembakan itu?" tanyaku sendiri.


Suara telepon menyadarkanku dari lamunan. Madam Lola menelpon, dan aku harus kesana segera.


Aku menurutinya, dan memacu kembali mobilku dengan cepat hingga segera tiba di sana.


" Ada apa? "tanya ku padanya.


" Rumah kembali akan di buka, jadi kau bisa bekerja seperti biasanya nanti malam." jawabnya padaku.


" Hmmm, baiklah. Aku akan datang seperti biasanya. "


" Masih pucat kah? Beberapa orang, sudah berkomentar itu hari ini."


"Mau ku antar periksa? Kamu tak mungkin bekerja dalam keadaan seperti ini."


"Tidak usah. Aku hanya butuh pulang dan istirahat, seperti biasanya."


Madam Lola hanya mengangguk, lalu mempersilahkan aku untuk pulang kembali. Tapi, aku tak langsung pulang, melainkan mempir ke Minimarket langgananku.


Entah, aku menunggunya agar dapat bertemu lagi di sana. Meski hanya dengan sebotol air mineral dingin kali ini.


"Nih, buatmu." seseorang menghampiri, dan memberi Satu cup pop mie yang sudah di seduhnya.

__ADS_1


"Kamu kapan dateng, lewat mana? Kok ngga lihat?" tanya ku yang kaget.


"Bukan ngga lihat, tapi kamu melamun. Ada apa?" tanya Troy padaku, dengan memakan sebungkus roti di tangannya.


"Aku... Sedang mencari tambahan pekerjaan." jawabku.


"Kau tidak lelah? Malam bekerja hingga pagi. Dan siang, kamu ingin bekerja?"


"Hidup memaksaku tak boleh lelah. Bahkan, aku harus tetap tersenyum ketika benar-benar hancur." jawabku, dengan menyantap pop mie yang Ia berikan.


"Sehancur apa hidupmu?" ucapnya, dengan mengusap rambutku.


Aku hanya membalasnya dengan senyum, dan melahap habis pop mie ku yang masih hangat. Terasa begitu nikmat, entah karena dia yang memberikannya untukku.


"Seorang teman dari temanku, membutuhkan seorang kasir di Minimarketnya. Kau mau kerja di sana?"


"Bisa paruh waktu?" tanyaku.


"Bisa. Banyak yang paruh waktu di sana. Apalagi, cabangnya banyak."


"Kapan bawa aku kesana?" tanyaku dengan antusias.


"Nanti sore saja. Aku lelah, ingin tidur sebentar." ucap Troy, dengan meletakkan kepalanya di meja berbantal tangan.


Kini aku yang menunggunya. Melindungi kepalanya dari sengatan matahari dengan tanganku. Serasa aku telah lupa, ketika tubuhku sendiri lelah dan ingin istirahat awalnya.

__ADS_1


__ADS_2