
"Intan, kamu apa-apaan? Dia calon bos kamu." tegur Troy padaku.
Tapi aku tak bisa diam. Aku benar-benar mengingat jelas suara itu di telingaku. Apalagi, langsung kembali terbayang akan apa yang telah Ia lakiukan kala itu.
"Berbalik... Tunjukan wajahmu." ucap Intan.
Pak Aldi perlahan memutar kursinya menghadap kami. Dan senyumnya di ukirkan padaku yang ada tepat di depan matanya.
"Senyuman itu, bibir itu. Wajah itu... Kamu! Kamu bajingan itu!" tunjukku padanya.
Semua terasa samar, abu-abu, bahkan gelap. Aku seolah kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Pov Troy.
"Aaaaaaarrrrrgghhh!" Intan memekik dengan begitu kuat. Mengagetkan aku bahkan seisi minimarket itu.
"Intan, sadar. Kamu kenapa?" tanyaku padanya..
"Dia! Kenapa kau bawa aku padanya, kenapa? Dia penjahat itu, Troy. Dia yang merenggut kesucianku!" Intan histeris, dan semakin tak terkendali.
Pak Aldi hanya menatapnya. Mencoba mencerna setiap bait kata yang Intan ucapkan. Tapi, Ia seolah tak mengingatnya. Atau, karena memang begitu banyak gadis yang Ia rusak.
" Kenapa, Tuan? Kau tak ingat padaku? Aku yang ke berapa, hingga kau tak mengingatnya?"tanya Intan, membuatku semakin bingung.
" Apa maksudmu sebenarnya?"tanya Pak Aldi.
" Fatan, gubuk tua di tengah kebun sawit, Tiga tahun lalu." jawab Intan, setelah meyakinkan kembali membuka aib itu.
"Kamu?" Mata Pak Aldi terbelalak. Ia mulai mengingat sesuatu.
__ADS_1
Pov Author.
"Kau ingat aku?" tanya Intan, dengan wajah datarnya.
"Sedikit... Tapi mungkin, jika menghirup aroma tubuhmu lagi, aku akan ingat." tawa Pak Aldi menyeringai.
Rupanya, Ia tak ada sama sekali rasa penyesalan selama ini. Atau mungkin, kejahatannya semakin menjadi-jadi.
Air muka Intan semakin merah padam, menahan amarah, tangis dan dendamnya.
" Aku... Aku akan laporkan kamu ke polisi." ucap Intan.
"Kau punya bukti? Lagi pula, itu kejadian Tiga tahun lalu. Tak akan mungkin ada visum. Dan lagi... Aku ingat jika kau bekerja di rumah Lola. Benar?" tanya Pak Aldi, dengan nada ejekan yang terdengar jelas di bibirnya.
Intan menatap Troy, dan memberi sebuah pertanyaan dari tatapannya.
" Aku tak pernah cerita... Sumpah, Intan." ucap Troy.
Intan semakin gusar, tapi kini seolah tak mampu berbuat apapun untuk dirinya sendiri. Ia menggenggam tangannya dengan begitu kuat, dan menggigit bibir bawahnya hingga tampak merah dan berdarah.
" Hentikan, Intan. Kau menyakiti dirimu sendiri." tegur Troy.
"A-aku... Aku akan mencari bukti lain. Aku akan melaporkanmu ke polisi. Kau tunggu saja." ancam Intan, lalu keluar dari ruangan itu.
Pak Aldi hanya memberi senyuman devil, yang belum Troy ketahui maksudnya. Karena Troy harus segera mengejar Intan dan membawanya pulang.
" Tunggu saja pembalasanku."ucap Troy dalam hati.
Troy berlari menyusul Intan, lalu membawanya kembali naik ke atas motornya.
__ADS_1
" Aku ngga mau pulang!"
" Terus, maunya kemana?"
" Kemana aja, pokoknya ngga pulang."
Troy hanya diam, Ia fokus menyetir motornya sembari mengikuti arah angin yang membawanya pergi.
Sepanjang perjalananpun, Intan hanya bisa diam. Ia menyandarkan kepala di bahu Troy dengan memejamkan matanya. Troy menggenggam erat tangan Intan yang menggelang di pinggangnya. Di usapnya dengan begitu lembut, memberi efek sedikit tenang untuk Intan.
Mereka tiba di sebuah pantai yang sepi. Troy menghentikan motornya dan meminta Intan turun.
"Pantai?" tanya Intan..
"Ya, ngga sengaja bawa kamu kesini, karena ngikutin arah angin. Kamu suka?"
"Aku... Udah lama banget ngga ke pantai. Pantai adalah salah Satu tempat yang ingin aku kunjungi, meski pun itu sisa akhir hidupku." jawab Intan dengan menatap ke arah lautan yang luas.
"Ngomong jangan ngaco. Katanya mau tenang, malah ngomong begitu." ucap Troy, dengan membekap mulut Intan.
"Iiish, apaan sih. Orang cuma ngomong kok, bukan berdoa." sergah Intan yang mengelap mulutnya sendiri.
Troy kemudian menggandeng Intan, lalu mengajaknya berlarian menuju bibir pantai.
Mata dan wajah yang awalnya suram, kini kembali cerah dan tampak begitu ceria. Senyum Intan pun Mulai kembali mekar, menyejukkan hati Troy yang baru saja tersulut emosinya pada Pak Aldi.
"Hatiku sakit, Troy. Dia yang memperkosaku waktu itu, membuat Ayah gila, dan kehidupanku hancur. Aku bahkan sudah berusaha melupakannya. Tapi, hari ini harus bertemu lagi."
"Maaf, jika aku mempertemukan kalian. Aku tak tahu sama sekali, kalau...."
__ADS_1
"Iya... Aku tahu kalau ini lah nasibku. Nasib untuk yang kesekian kalinya harus merasakan sakit karena masa lalu. Sumpah Troy, aku ingin melupakan semuanya. Aku lelah."
"Kau tak akan pernah melihatnya lagi. Aku janji..." ucap Troy, meyakinkan Intan agar semakin tenang.