
"Mba Intan, udah lama ngga kelihatan?" sapa seorang kasir di sana.
"Iya, baru sempet. Eh, Bu Ros nya ada kan?"
"Ada, mari saya antar." ajaknya dengan ramah.
Bu Rosdiana namanya, Beliau adalah seorang dokter sepesialis kecantikan kulit langgananku. Aku di perkenalkan oleh seorang Om yang sering memakai jasaku. Meski pun pria, tapi dia metroseksual, dan selalu memperhatikan penampilannya.
"Selamat siang, Bu..."sapaku padanya.
" Siang... Eh, Intan? Udah lama ngga kelihatan, kemana aja?" tanya nya dengan ramah.
"Ngga kemana-mana sih, cuma ngga punya dana aja..." candaku padanya.
Setelah saling sapa, Bu Ros sendiri yang turun tangan melayaniku. Ia dokter yang ramah, dan bahkan mau menjelaskan secara detail apa saja permasalahan yang kita alami.
"Kulitmu udah sebagus ini, sayang banget kalau harus luka."
"Ya saya juga ngga mau, tapi gimana? Tuntutan profesi." jawabku.
"Tan... Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang di depan sana."
"Bahkan tuhan, tak pernah memberiku kesempatan untuk terbebas dari semua ketidak adilan itu. Kemana Tuhan, saat aku menangis, bahkan meraung meminta pertolongannya?" jawabku, dengan nada datar.
__ADS_1
"Tan.... Ngga boleh begitu." tegurnya.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman datar. Memilih kembali memejamkan mataku untuk menikmati semua treatmen yang Ia berikan.
Satu Jam kemudian.
"Tan, dah selesai. Bangun gih..."
"Eh, iya..." kagetku, lalu membuka mata dengan tubuh yang terasa segar.
Aku lalu melanjutkan ke creambath, semua treatmen dalam satu kali kunjungan. Karena jujur, mereka akan memberikan banyak diskon untuk itu.
Pov Author.
"Terkenal apa, jeng?"
"Itu, suka gonta-ganti pasangan tiap malem. Bukan tiap malem aja, bahkan semalam bisa beberapa lakik."
"Maksudnya? Dia itu?"
"Iya, apalagi. Jagain suami masing-masing, nanti di godain sama dia lagi."
Ujar Ibu-ibu yang perawatan sembari ngerumpi di sebelah Intan. Mereka seolah mendapatkan bahan bagus untuk tema gosip hari ini, sehingga begitu asyik berbincang hingga lupa waktu pulang.
__ADS_1
"Kasihan, padahal masih muda. Kayak ngga ada kerjaan lain aja." sambung yang lain, dan begitu seterusnya.
Intan hanya mendengarkannya dengan terus memainkan Hpnya. Ia sudah kebal dengan semua itu, bagai sebuah angin yang berhenlmbus dan seketika akan hilang dengan sendirinya.
"Ibu-ibu... Kalian ngerumpi begini, ngga inget pulang? Katanya mau jagain suami dari saya." sahut Intan.
"Kenapa jadi ngurusin kita?" jawab seseorang dari mereka.
"Lah terus, kalian nagapain ngurusin saya? Kan kalian bilang, harus jagain suami. Nah, jagain suami itu, bukan hanya di ranjang aja. Suami butuh perhatian juga. Ketika pulang, di sambut dengan hangat, penuh senyum dan cinta di dalamnya. Di tanya, aktifitasnya apa hari ini, capek apa engga. Kadang hal kecil sepeerti itu, bisa jadi begitu mereka inginkan loh."
"Sok tahu, kamu juga belum pernah punya suami."
"Tapi suami orang itu, sering curhat sama saya. Atau malah, mereka itu salah satu dari suami Ibu-ibu yang ada disini." balas Intan, dengan menyunggingkan senyumnya.
Wajah mereka tiba-tiba menjadi cemas. Tatapan mata sudah tak jelas kemana arah dan tujuannya, lalu bergegas pergi dengan kendaraan masing-masing.
"Mereka kenapa, Kak?" tanya petugaa yang melayani Intan.
"Biasa, Ibu-ibu yang takut kehilangan suami." jawabnya.
Intan telah menyelesaikan semuanya. Ia hanya tinggal membayar, dan keluar dari sana dengan perasaan yang begitu luar biasa nyaman di tubuhnya.
Namun, saat itu juga Ia merasa malas, karena pasti harus segera kembali ke tempat kerjanya itu.
__ADS_1
"Tuhaaaaaan! Bisa kah kau beri jalan lain untukku? Aku lelaaaah!" pekiknya sendiri, dari dalam mobil yang Ia kunci rapat.