
Intan bangun dari tidurnya yang lelap. Duduk tepat di sebelah Troy yang sedang memainkan Hpnya.
"Kau sudah bangun? Terlihat lebih cerah dari yang tadi." ujar Troy.
"Hmm, aku mandi dulu." jawab Intan.
Ia pun kemudian pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan kembali berdandan rapi. Meski nyatanya, mereka tak melakukan apapun, tapi itu agar mereka tak curiga dengan tingkah Intan dan pria yang telah menyewa tubuhnya semalaman itu.
"Kau yakin, tak menginginkan aku malam ini?" tanya Intan.
"Belum, entah esok hari. Aku tak ingin memilikimu dalam keadaan yang terpaksa." jawab Troy.
"Hidupku saja, aku jalani dengan serba terpaksa." goda Intan, yang mendekatkan wajahnya di depan mata Troy.
Pria itu menatap tajam mata Intan. Tangan yang tadinya memegang Hp, kini mengusap wajah Intan dengan kelembutan dan terasa begitu tulus hingga membuat hati Intan bergetar.
Intan mengalungkan tangan pada leher Troy, lalu mendekatkan bibirnya ke pada pria tampan itu.
"Jika kamu menginginkan, aku siap. Kau telah membayarku, dan anggap saja ini sebuah bonus tambahan." ucap Intan.
__ADS_1
"Aku tidak ingin seperti ini. Nanti, kalau kita sama-sama siap. Hubungan ini, aku harap akan menjadi sesuatu yang indah."
Troy turun dari tempat tidur. Ia menyambut tangan Intan, dan mengajaknya keluar bersama.
Intan terus menatapnya, dan otaknya berusaha mencerna apa arti dari ucapan Troy padanya.
" Tidak... Jangan berfikir macam-macam. Ucapan lelaki, begitu sulit untuk di percaya. Bahkan Troy, yang sepertinya tak pernah menganggap hidup ini serius." gumam Intan dalam hati.
Mereka keluar bergandengan tangan. Sebuah pemandangan yang langka, yang jarang sekali tampak bagi seorang wanita dan penyewa jasanya. Mereka lebih sering keluar masing-masing, tanpa memperdulikan satu sama lain. Karena hubungan mereka hanya di ranjang. Dan ketika keluar, mereka tak lagi saling kenal.
"Intan, kalian?" tanya Wulan yang menghampiri.
Madam Lola memperhatikan mereka dari kejauhan. Merasa ada yang janggal dari yang mereka lakukan. Bagi orang yang sudah berpengalaman sepertinya, hanya dengan tatapan mata saja sudah bisa terbaca. Tapi, Ia masih diam dan meneliti semuanya saat ini.
"Aku pulang dulu. Besok kita bertemu lagi ucap Troy, sembari mengecup kening Intan dengan mesra.
Selepas kepergian Troy, madam Lola meminta Intan agar Ia masuk dan menemuinya di ruangan.
"Kenapa?" tanya Intan, yang duduk di sofa tempat biasa mereka mengadakan pertemuan.
__ADS_1
"Ada apa diantara kalian?" tanya madam Lola tanpa basa-basi.
"Seperti seharusnya lah. Apalagi?"
"Tidak... Aku tahu tatapan kalian berbeda. Kalian tak bisa seperti ini."
"Kenapa? Kenapa tak bisa?" tanya Intan mulai nanar.
Madam Lola menghela nafas, "Kau harus sadar diri. Kau siapa, pekerjaanmu bagaimana. Dan lelaki itu, hanya akan memanfaatkanmu saja."
"Tidak... Troy berbeda." Intan mengelak.
"Aku hanya ingin menjaga hatimu. Aku hanya ingin, rasa sakit itu tak terulang lagi untuk yang ke sekian kalinya."
Intan meremas pahanya, menahan semua rasa yang bercampur aduk menjadi satu dalam di dalam dada. Begitu sesak, bahkan setelah baru saja Ia mulai merasakan sedikit rasa yang bahagia.
" Aku tak pernah menghalangi langkahmu, jika memang itu yang membuatmu bahagia. Aku hanya memperingatkan, karena aku menyayangimu. Aku tak ingin kau seperti aku." imbuh madam Lola..
"Bahagia, atau menderita. Itu tetap aku yang menjalani. Aku pun menyayangimu, dan kini.... Biarkan aku mencerna sejenak, tentang apa yang terjadi pada diriku sendiri."
__ADS_1
Intan kemudian beranjak pergi. Ia kembali ke kamarnya, menenangkan otak dan menghentikan semua yang ingin menyewa jasanya.