
Pov Troy.
Intan langsung menatapku tajam. Mungkin tak percaya dengan semua perkataanku. Tapi aku benar-benar serius mengucapkan ini padanya.
"Kenapa diam?" tanyaku.
"Kamu... Ngawur." sergah Intan, dengan memukul dadaku berkali-kali.
"Aku serius. Aku tidak pernah main-main, meski gaya ku seperti ini."
"Tinggalkan aku, dan jangan pernah kembali." ucapnya.
Kadang aku bertanya, apa mau wanita sebenarnya. Membingungkan, bahkan kadang ucapannya tak sesuai kenyataan.
"Aku serius! Denger, Intan. Aku akan lamar kamu, aku akan nikahin kamu, dan kita akan hidup bersama. Sederhana, asal kita bahagia."
"Aku ngga pantes buat kamu. Aku...."
"Aku tahu, bukannya kita tadi bertemu. Kamu kenapa sebenarnya? Kamu lupa kejadian tadi?" tanyaku padanya.
Ia hanya menatap datar padaku. Aku tahu, banyak pertanyaan yang tampak dari matanya. Tapi, bibirnya seolah terkunci, dan begitu sukar Ia ucapkan.
"Mau bicara apa? Bicaralah." bujukku.
__ADS_1
"Ka-kau, harus membeli ku dari Madam Lola. Aku punya harga, jika kau ingin membawaku pergi." ucapnya terbata.
"Apapun, akan aku lakukan. Berapapun, akan aku cari demi kamu. Tapi, kamu harus berhenti."
Aku memeluknya dengan erat, meski Ia masih diam tanpa kata. Harapanku semakin tinggi bersamanya. Meski aku tahu, akan begitu banyak rintangan yang akan kami hadapi nantinya..
"A-aku mau pulang. Mau istirahat. Bukankah, kau janji akan memperkenalkan aku pada pemilik ninimarket, besok?"
"Oh iya... Maaf, aku lupa. Mau pulang sendiri, atau aku antar?"
"Sendiri saja. Kamu, juga pulanglah. Maaf, motormu rusak sedikit." ucap Intan. Ia pun berlari kecil meninggalkan aku yang masih diam menatapnya.
Pov Intan.
Seolah, itu semua hanya mimpi yang terasa nyata. Yang sakit dan manisnya terasa sampai ke ulu hati, namun tak akan pernah bisa terobati.
Seperti biasanya, gang di rumahku sudah begitu sepi. Semua sudah tidur dengan lelap, disertai mimpi indahnya masing-masing. Aku masuk, dan langsung merebahkan diri dikamar. Karena setelah kedatangan Troy, aku tak membuka pintu kamar untuk siapapun.
Nyuuuut!!! Sialnya nyeri di kepalaku mendadak datang lagi. Sebentar, tapi sangat luar biasa rasanya. Dari bagian tengkuk belakang, hingga ke mata kananku. Rasanya, mata ini ingin lepas karena sakit yang begitu kuat.
"Aaarrrghhh, kenapa lagi? Ada saja yang menganggu kebahagaiaanku!" gerutuku.
Aku bahkan begitu malas, meski hanya meski hanya untuk meraih air minum di belakang. Aku hanya terlentang, merasakan nikmatnya rasa sakit yang semakin menjadi-jadi itu.
__ADS_1
"Luka, di tambah luka. Akankah, jadi bahagia?"
Aku berusaha memejamkan mata, sembari berkhayal sejenak, mengingat semua pelukan dari Troy hari ini untukku.
Pov Author.
Pintu rumah Intan terdengar di ketuk. Ia pun langsung bangun dan membuka pintu. Berharap, Bu Tutik akan datang membawa sarapan untuknya.
"Hay... Baru bangun?"
Ternyata Troy yang datang, dengan mengulas senyum manisnya pada Intan.
Gadis itu bengong, apalagi Ia sadar keadaannya begitu berantakan. Rambut kusut, mata sembab, wajah kusam. Dan semuanya yang pasti tampak begitu jelek.
"Apa?" tanya Intan.
" Kan, hari ini mau ngelamar kerja. Jadi ngga?" tanya Troy.
" Hmmm, aku mandi dulu."
Intan pun masuk kembali, dan menutup pintu tanpa mempersilahkan Troy masuk. Troy pun hanya tersenyum melihat kelakuan Intan, yang dari awal memang begitu aneh baginya.
"Ya, aneh. Tapi keanehan itu yang memikat hatiku." gumamnya.
__ADS_1