
Troy telah berdiri disebuah jembatan saat ini. Sesuai dengan segala rencana yang ada, Ia akan membidik seorang wisatawan asing yang menjadi sasaran dendam kekasihnya yang Ia khianati. Entah betapa sakit hatinya wanita itu hingga rela membayar Troy dengab jumlah besar demi kematian mantan kekasihnya itu.
"Kau tahu disana. Yang memakai kemeja hitam, memeluk beberapa gadis bi nal didekatnya. Buat dia bahkan tak lagi merasakan sakit dalam hidupnya.," titah wanita itu dari telepon, dengan jarak yang cukup jauh dari mereka semua.
Troy tak menjawab dengan ucapan apapun, tapi tangan itu mulai bergerak sesuai dengan arah bidikannya. Perlahan, tapi pasti menuju titik paling vital dari pria itu disana yang tengah diraba oleh salah seorang gadisnya.
Gerakan troy cukup lambat, karena ia tak ingin ada korban lain kali ini yang tak ada sangkut paut dengan segala tugas yang diberikan padanya. Mereka hanya bekerja sesuai tugasnya, dan mereka mengingatkan troy pada kekasihnya dirumah sana.
"Apalagi yang kau tunggu? Akan ku tambah bayaranmu nanti diatas kontrak yang ada." sergah wanita itu padanya.
Troy hanya diam dan mengikuti rencananya saja, karena prinsip yang telah ia buat tak dapat diganggu gugat. Dan setelah tangan gadis itu menyingkir, barulah troy kembali fokus pada targetnya disana.
__ADS_1
Doorrr!! Suara tembakan itu menggema ke seluruh alam danau yang ada. Melengking memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Troy sudah sampai pada targetnya dan benar-benar tepat pada sasaran yang ada. Pria itu menurunkan senjata dan pergi dari sana tanpa aba-aba.
"Selesai..." ucap Roy pada wanita yang masih terhubung padanya itu.
Wanita itu hanya terdiam puas, mematikan panggilan dan menatap kearah korban dengan seringai jahatnya. Ia akhirnya lega kerika pria itu benar-benar lenyap dari dunia ini dan dari depan matanya. Ia tak perduli, disungai sana semua orang cemas karena kejadian itu.
"Bye... Gun," ucapnya dengan lirih, mengenakan kacamata lalu pergi dari sana.
Rasanya ingin terjun ke danau itu untuk membersihkan dirinya dari noda, bahkan unrtuk sekedar berdiri saja Ia tak bisa. Hanya diam mematung dengan dirinya menatap semua kerumunan yang ada.
Troy pergi. Pekerjaannya hari ini selesai dengan nilai sempurna. Hanya tinggal menunggu bonus yang dijanjikan sang wanita padanya, tapi mereka juga tak bisa bertemu disana seenaknya. Ia memilih kembali kerumahnya, dan wanita itu mengurus semuanya.
__ADS_1
"Ku kirim melalui bosmu." jawabnya, dan dibalas Troy dengan berdehem ria. Ia hanya membereskan diri dan masuk kedalam mobilnya
Sepanjang jalan ia hanya memikirkan kekasihnya saja. Bagaimana cara menebusnya, dan bagaimana pernikahan mereka nantinya. Tapi yang terpenting adalah saat Intan lepas dari Madamnya, itu sudah cukup membuatnya lega.
"Aku bahkan bingung bagaimana caranya berdoa. Dan... Apakah akan diterima?" tanyanya dalam hati, karena ia juga tahu apa itu dosa yang sudah begitu menumpuk dalam dirinya.
Saat lampu merah menyala troy berhenti dengan segera. Ia menunggu bersama beberapa orang lain disana, dan saat ia menengok kearah kiri ada pemandangan yang menyejukkan mata.
Tampak pasangan suami istri yang berbonceng mesra dengan motornya. Sang istri tengah hamil besar dengan wajah yang ceria, seperti hanya tinggal menunggu hari bertemu bersama bayinya. Roy membayangkan jika mereka adalah intan dan dirinya. Pasti akan sangat bahagia jika itu terjadi padanya.
"Mungkinkah?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1