30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 8


__ADS_3


"BELLE!!! BELLE!!!" teriakan Valerie pagi itu memenuhi koridor lantai kelas 12 Trevanor. Belle menoleh dan mendapati Valerie sedang berlari mengejarnya.


Belle menghentikan langkahnya lalu menunggu Valerie menghampirinya. "Morning bestie" Belle menyapa sahabatnya itu dengan senyum manis andalannya.


"Belle, belle, lo harus denger, sumpah" Valerie ngos-ngosan sembari berbicara, membuat Belle tertawa melihatnya.


"Tarik nafas dulu neng, nanti ada berita di TV gini lagi 'seorang gadis remaja meninggal kehabisan oksigen saat berlari mengejar temannya karena ingin menyampaikan sebuah gosip'"


"Apasih gaje banget gue" Belle menertawakan dirinya sendiri.


"Lah, sedeng banget lo, ngomong sendiri, jawab sendiri, ngehina sendiri" Belle menanggapi ucapan Valerie dengan tawa ringan.


"Oh ya, lo tau gak... TADI MALEM WILSON TIBA TIBA NGAJAK GUE NGEDATE!" Valerie berseru sambil melompat-lompat senang.


Belle terdiam sesaaat mendegar hal tersebut lalu sedetik kemudian menampilkan senyum andalannya. "Wahhh, udah ngedate aja nih, tinggal nunggu PJ aja gue berarti bentar lagi kayaknya"


"Ihhh, jadian aja blom udah mau lo porotin aja nih orang" Valerie mengerucutkan bibirnya.


"Iyalah orang, masa monyet"


"Ejek terus" Belle tertawa melihat Valerie yang jengkel.


"Jadi gimana date nya? Sukses?" Belle tetap tersenyum


"Sangat sukses! Asal lo tau ya, semalem pas di restoran, dia tiba-tiba ngelap mulut gue dong pakek tangannya, sumpah gue malu banget pas itu" Valerie bercerita dengan mengebu-ngebu, warna merah muda setia menghiasi pipi cewek itu.


Belle tersenyum hangat lalu merangkul sahabatnya itu. "Mukanya dikondisikan dong neng" Belle tertawa.


"Ishh Belle, kan gue jadi tambah malu!" Valerie melepaskan tangan Belle dari pundaknya dan menatap Belle dengan serius. "Kalo menurut lo kapan dia bakal nembak gue?"


"Hah?"


"Iya, kemarin sebelum kami pulang, dia ada bilang gini 'Tunggu sebentar lagi ya', gitu"


"Oh ya? Yaudah tunggu aja, secepatnya pasti, gue yakin"


"Iya?"


"Iya, percaya sama gue, gue kan cenayang"


"***** lo" Belle dan Valerie tertawa, lalu berjalan bersama kekelas mereka. Tapi ada yang salah, karena mungkin mereka terlihat bersama, namun pikiran mereka tidak disana, mereka berpisah, sangat jauh.


•••••


Belle masuk kedalam Perpustakaan, menyapa sejenak Bu Gendut lalu duduk dikursi favoritnya, tepat disamping jendela yang menghadap kearah lapangan sekolah.

__ADS_1


Novel berjudul Five Feet Apart menemani cewek itu disela-sela jam pelajaran kosong yang ia habiskan di perpustakaan. Tadinya Belle ingin mengajak Valerie, tapi mengingat kalo sahabatnya satu itu benar-benar anti dengan kondisi sunyi di dalam perpustakaan, membuatnya mengurungkan niatnya tadi.


Belle yang terlalu fokus dengan novel yang sedang ia baca, tidak menyadari kehadiran seseorang yang telah duduk dihadapannya.


5 menit.


10 menit.


15 menit.


20 menit.


Belle sama sekali tidak menyadarinya sampai sekarang. Wilson yang mulai jenuh, memutuskan untuk menoyor kepala cewek dihadapannya itu. Belle terkejut dan langsung menurunkan novelnya saat itu juga.


"Wilson!" Belle meninggikan suaranya dan menatap tajam Wilson. Tapi langsung menundukan kepalanya seketika tersadar.


"20 menit gue nunggu lo, mati rasa banget lo an*ir"


"Maaf..."


Wilson berdecih kesal. "Liat gue"


Melihat Belle tidak ada pergerakan maupun jawaban, Wilson menggunakan tangganya, menarik wajah Belle menghadapnya.


"Wil!"


"Maaf..."


Wilson melepaskan tangannya dari wajah Belle dan menatap kesal cewek itu.


"Lo kasih tau Valerie kan?"


"Apa?" kali ini Belle menatap Wilson, dan entah mengapa ada rasa senang tersendiri melihat cewek itu menuruti kemauannya.


"Valerie semalam cerita sama gue kalo lo udah kasih tau semuanya ke dia tentang surat ini, lo lupa gue ngomong ke lo untuk gak ngasih tau dia?"


"Maaf Wil..." Belle menggepal erat tangganya, menahan kegugupan yang sedangelanda dirinya saat ini.


"Mulut lo gak bisa ngomong kata-kata lain ya selain maaf?"


"Gue... gue bener-bener minta maaf, gue cuma gak mau dia salah paham sama gue waktu itu" lagi-lagi Belle menundukan kepalanya.


"Kenapa harus salah paham?"


"Karena gue gamau dia salah paham kalo gue sama lo deket"


Wilson diam sejenak, lalu menatap Belle yang masih menundukan kepalanya. "Liat gue"

__ADS_1


"Gu-gue-"


"Liat gue"


Belle mulai mengakat kepalanya dan menatap kearah Wilson dengan takut. Wilson menghela nafasnya lalu menyerahkan suratnya untuk Valerie kepada Belle. "Sudahlah, yang penting gue tau Valerie senang"


Wilson berdiri dari duduknya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Belle yang sudah dapat bernafas dengan lega karena Wilson tidak memarahi serta mencaci makinya. Tapi juga bingung dengan reaksi cowok itu yang sama sekali tidak meneriakinya seperti apa yang selama ini ia bayangkan. Tapi sekali lagi, semuanya pasti karena Valerie.


•••••


Setelah pulang dari sekolah, Belle langsung menuju taman didekat rumahnya. Tempat dia dan Felix bertemu beberapa hari yang lalu.


Kali ini taman itu sudah cukup sepi, mungkin karena hari sudah sore dan anak-anak yang biasa bermain sudah pulang kerumah mereka masing-masing.


Belle menutup matanya dan perlahan-lahan menghirup udara segar ditaman tersebut. Sebenarnya, mungkin dapat dibilang sunyi adalah teman bagi Belle, semenjak kecil dia terbiasa bermain sendirian didalam rumahnya. Tanpa teman, benar-benar sendirian dengan boneka-boneka nya dulu. Karena itu sampai dewasa, ia jadi lebih suka sendiri dan lama-lama menjadi sosok introvert. Sampai akhirnya bertemu dengan Valerie dan menjadi sahabatnya. Walau begitu, masih dapat dibilang dia tetap cewek introvert. Berteman dengan Valerie memang menyenangkan. Tapi terkadang, she just want to appreciate silence in a world that never stops talking.


"Ketemu" Belle membuka matanya saat mendengar suara yang ia kenali. Felix menatapnya dengan senyum lalu duduk disampingnya.


"Jadi, kali ini kebetulan juga?" Belle tersenyum.


"You know the answer" Belle hanya mengangguk dan tetap tersenyum.


"Dikantin kemarin... lo gak apa-apa?"


"Emangnya kenapa?"


"Gak, gue kira mungkin perasaan lo jadi kayak gimana setelah Wilson ngejek lo"


Belle menggeleng santai. "Gak sih, gue gak anggep dia ngejek gue, dan juga dia gak salah, lagian ngapain juga dia ngeliatin gue kalo disampingnya aja ada cewek secantik Valerie, iya kan?"


"Dan apa yang buat lo berpikir kayak gitu?"


"Hah?"


"Iya, kan gak ada yang tau dia bener-bener ngeliat lo atau gak, bisa aja kan dia memang ngeliat lo"


Belle tertawa mendenger perkataan Felix. "You know your bestfriend Lix"


"That's why gue ngomong kayak gitu"


"And i bet you don't really know him"


Felix berdecih. "Pusing gue ngomong sama lo" Belle lagi-lagi tertawa.


"Lix, gue cuma mau jadi orang yang realitis, karena gue pernah bermimpi, dan sayangnya kenyataan yang gue hadapi gak seindah mimpi yang gue harapi"


#?#?#?

__ADS_1


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗


__ADS_2