
Pagi ini saat baru saja menginjakan kakinya digedung sekolah, kedatangan Belle disambut oleh Valerie yang seakan telah menunggunya didepan pintu kelas sedari tadi. Cewek itu menunggu seorang diri dan kala Belle berdiri tepat dihadapannya, Valerie langsung memeluk erat dirinya. "Makasih Bel, makasih...."
Belle tersentak saat itu, namun senyumnya langsung muncul dengan lembut kala itu dan ia memeluk balik Valerie. "You deserve it Val, everything is supposed to be yours from the beginning"
Valerie melepas pelukannya dan memengang erat tangan Belle. "Maaf atas sikap gue sebelumnya, maaf kalo gue terkesan benar-benar egois, kasar, dan keras kepala, gue bener-bener minta maaf Belle, harusnya dari awal gue gak langsung menyimpulkan semuanya sendiri, harusnya gue denger penjelasan lo dulu sebelumnya"
"It's okay, gue juga salah sudah buat lo salah paham, maaf ya"
Valerie tersenyum senang dan menarik cewek itu masuk dalam kelas dengan bangga saat Belle baru menyadari kehadiran seseorang disana. Wilson duduk ditempatnya dengan mata yang terus-terusan menatap kearah mereka.
"Wil" Valerie memanggil cowok itu lalu ketika tiba tepat dihadapannya, Valerie dengan senang langsung merangkul Belle. "Kami udah baikan" Valerie cengengesan.
Wilson tidak langsung menanggapi. Cowok itu melirik sejenak Belle yang berada disamping Valerie dengan ekspresi datarnya barulah ia menatap Valerie dengan senyumnya dan berdiri untuk mengelus pucuk kepala Valerie. "Bagus dong, ngomong-ngomong, I haven't eat my breakfast yet, do you want to go with me to the canteen?"
"Mau dong" jawab Valerie sangat bersemangat lalu menatap Belle. "Ayo, lo juga ikut"
"Gak dulu Val"
"Ayo Bel, udah lumayan lama kita gak makan bareng masa"
"Iya, nanti kapan-kapan kalau ketemu waktu pas ya?" Belle tersenyum, berusaha memberi sahabatnya itu pengertian.
Valerie menatap Wilson kala itu, ada tatapan aneh antara keduanya yang membuat Belle bingung karenanya. Lalu tidak lama kemudian Wilson berbicara. "Udah biarin aja, jangan maksa kalau orang gamau" Belle tersenyum kecut mendengar ucapan Wilson.
"Tapi..."
"Ayo Val, nanti keburu bel terus lo gak sempet sarapan kalo kelamaan disini" Belle mendorong cewek itu kearah pintu lalu melambaikan tangannya.
Usai keduanya pergi, Belle baru menyadari tatapan-tatapan teman sekelasnya. Mereka menatap Belle, seolah dirinya adalah sebuah keanehan yang paling aneh diantara yang teraneh. Ada yang malah menatapnya dengan senyum, namun tetap saja terasa aneh, bahkan sangat aneh bagi Belle.
__ADS_1
Jengah dengan tatapan dari mereka, Belle memutuskan untuk tidak menetap didalam kelasnya dan duduk dikursi panjang depan kelasnya. Cewek itu duduk sendirian dengan telingannya yang ia sumbat dengan earphone dengan lagu yang mengalun indah disana.
Belle rasa sudah cukup lama semenjak ia merasakan ketenangan seperti ini semenjak perjanjiannya dengan Wilson, yang mereka buat dengan maksud kebahagiaan namun malah sempat membawa petaka. Tapi puji Tuhan, karena semuanya sudah berlalu.
Belle tidak mengatakan bahwa perasaannya terhadap Wilson sudah benar-benar pergi, hanya saja, saat ini ia sedang membangun kembali tembok yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya yang sempat hancur kala itu. Dan semua itu berkat bantuan dari seseorang yang sedang berjalan diujung koridor sana dengan senyumnya yang seakan menyambut kehadiran Belle padahal ia yang mendatangi Belle.
Felix datang dengan membawa sebuah kantung ditangannya yang ia sembunyikan dibalik badannya. "Gue ada sesuatu buat lo" ujarnya dengan senyum mencurigakan.
"Apa?"
"Tebak dulu lah"
Belle berifikir dan dengan sembarangan menebak. "Yupi?"
Wajah Felix berubah kaget saat mendengar jawaban Belle dan duduk disebelah cewek itu dengan kesal. "Sok-sok gak tau kek, gak seru kan jadinya" Belle tertawa geli melihat ekspresi kesal Felix. Lalu menyodorkan tangannya kearah cowok itu. "Gak jadi, gue aja yang makan semuanya"
"Yahhh, lo ini!" Belle memukul lengan cowok itu dengan kesal.
"Yaudah-yaudah, nih makan sampai lo kencing manis" Felix memberikan kantong tersebut kepada Belle.
"Woi, pelan-pelan makan, gak akan ada yang ambil"
"Kata siapa? Gimana kalo tiba-tiba ada yang minta?"
"Siapa banget si Belle?"
"Valerie kan juga suka yupi"
"Lah?" Felix menatap Belle dengan bingung saat itu. Dan Belle baru sadar bahwa ia lupa menceritakan kejadian yang barusan saja terjadi ini.
"Gue sama Valerie udah baikan barusan aja" Belle tersenyum sumingrah seolah ia baru saja mendapatkan kehidupannya kembali.
__ADS_1
Dan benar saja kata kebanyakan orang bahawa senyum itu menular, karena saat ini Felix juga ikut tersenyum kala melihat Belle yang tersenyum sangat bahagia untuk pertama kalinya setelah semua kejadian yang terjadi beberapa hari ini.
Belle kembali membuka satu bungkus yupi, mengambil beberapa buah yupi didalamnya dan memasukannya kedalam mulut Felix secara tiba-tiba. "Enak kan?" Belle tertawa imut sembari memakan sisa yupi didalam bungkus tersebut.
"Belle, Felix" suara Valerie terdengar dari kejauhan dan membuat keduanya menoleh keasal suara.
Dan dalam sekejap Valerie serta Wilson telah berada dihadapan Belle dan Felix.
"Diapelin mulu Belle nya" goda Valerie tapi tidak membuat Belle maupun Felix merona. Keduanya malah tertawa geli mendengar perkataan Valerie.
"Ishhh, malah diketawain guenya"
"Lo sih ngelawak, masa kakak datengin adek dibilang ngapel"
"Kakak?" dan seketika tawa Valerie pecah. Cewek itu bahkan sampai memukul Wilson yang berada disampingnya, benar-benar tidak dapat terkontrol.
"Val, astaga, ketawanya dikontrol Val" Belle mengigatkan sahabatnya itu.
"Iya, lagian gila kali lo ya, padahal gak ada yang lucu tapi lo ketawa" Felix menatap aneh Valerie dan kembali duduk ditempatnya tadi.
"Lo yang lucu Felix, jelas-jelas Belle lebih tua beberapa bulan dari lo, dan juga emang bisa ya dalam perteman antara cewek dan cowok gak ada perasaan apa-apa? Ya kan Wil?" Valerie jelas-jelas sedang menggoda keduanya saat ini, cewek itu beberapa kali menyenggol lengan Wilson, tapi Wilson sendiri tidak mengatakan apa-apa sedari tadi, seolah sedang menahan untuk mengatakan sesuatu.
"Tolong ya, jelas-jelas gue bilang, hubungan perasaan kami ya hanya sebatas kakak adik, lo kenapa sih? Kek pengen banget ada apa-apa antara gue sama Belle?" suara Felix terdengar kesal, wajahnya juga menunjukan kekesalannya kepada Valerie. Tapi orang yang dituju malah terlihat santai.
Belle menyenggol Felix, memperingati cowok itu untuk menahan emosinya. "Udah ah, masa masalah kecil aja dijadiin ribut" dan saat itu sudut mata Belle tanpa sengaja menangkap Wilson yang sedang menatapnya. Belle terkejut, namun berusaha sebisa mungkin untuk tidak membiarkan siapapun mengetahuinya.
Tapi tiba-tiba saja perkataan yang keluar dari mulut Felix berhasil membuat Belle, Wilson, dan bahkan Valerie membeku ditempat mereka.
"Jangan sengaja pergi agar dicari, jangan sengaja melepas biar ditahan, cinta gak sebercanda itu, perasaan orang gak sekuat itu, ada yang sakit karena sabar, ada yang kecewa karena setia, ada yang menangis karena rindu, dan ada yang terluka karena terlalu cinta" lalu cowok itu pergi begitu saja dari sana.
Ya, Felix memperhatikan semuanya sejak awal, bahkan sebelum Belle menyadari semua hal tersebut.
__ADS_1
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗