30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 27


__ADS_3


Hari ini, ada suatu rencana yang akan Wilson serta Belle jalankan. Atau lebih tepatnya Wilson sendiri, karena Belle tidak memilik keberanian untuk melakukannya.


Senin ini, Wilson berinisiatif untuk mengumumkan tentang hubungan mereka disekolah. Walaupun Belle sangat menentang ide tersebut dan lebih memilih untuk menjalankan hubungan backstreet, tapi Wilson serta ketiga temannya malah lebih menentang ide miliknya.


Dan disinilah Belle berdiri. Dengan Wilson yang menggenggam erat tangannya, juga dengan Felix, Andrew, serta Jason yang berada dibelakangnya, seolah siap menghajar siapapun yang berani menyentuh ujung rambut Belle sekalipun.


"Wil..." Belle terus-menerus menundukann kepalanya setelah keluar dari mobil Wilson tadi.


Tatapan demi tatapan seolah menjadi bayangannya sedari tadi, tatapan penuh iri, benci, jijik, dan seribu satu hinaan terus ia rasakan mulai saat ia menginjakan kaki disekolah.


"Gak usah takut, Belle" Wilson mengelus tangan Belle dengan lembut.


"What if something bad happen after this?"


"Kan ada gue!" suara riang seorang cewek yang sudah tidak asing lagi ditelinga Belle terdengar dari sampingngya dan disana wajah Valerie muncul dengan senyum manisnya.


"Val?!"


"Tenang aja, gue gak akan ngebiarin siapapun ngelukain lo, sama seperti yang keempat prince charming lo lakuin untuk lo" Valerie mengedip kearah Felix, Andrew, dan juga Jason.


"Alay" canda Belle.


"Serius atuh Belle" Valerie menghentakan kakinya dengan kesal sehingga membuat sahabatnya itu tekekeh.


"Belle, lo juga sudah harus berani untuk ngelawan mereka" Felix tiba-tiba menimpali dari belakang.


"Gue... gak seberani kalian untuk ngelakuin hal itu" cewek itu tersenyum kaku.


"Lo harus berani, demi diri lo sendiri" ujar Jason.


"Yups! Annabelle Clarine mah harus berani! Mana boleh kalah sama cewek-cewek jadi-jadian gitu" lanjut Andrew.


"Beberapa juga mantan lo ayam" sungut Jason yang hanya dijawab Andrew dengan menaikan kedua pundaknya.


Belle menatap Wilson sejenak saat itu. Mata cowok itu seakan dipenuhi dengan dukungan penuh cinta kepadanya. Belle tersenyum lalu memutar balik badannya untuk menatap keempat temannya itu. "Siap!"


•••••


Sudah sekitar 5 menit berkeliling dan Felix belum juga mendapati keberadaan Belle. Awalnya, niatnya mencari Belle adalah untuk memastikan keadaan cewek itu atas suruhan Wilson yang masih harus berlatih basket untuk lomba DBL yang sebentar lagi akan berlangsung dikota mereka. Keempat prince charming memang ikut semua, bahkan termasuk Jason yang lebih sering olahraga jari ketimbang badan, tapi tetap saja jangan ragukan kemampuannya dalam bermain basket.


Awalnya Wilson sendiri yang ingin mencari Belle, namun cowok itu tiba-tiba saja dipanggil oleh pelatih mereka dan karena itu Felix sekarang mengantikannya. Felix awalnya mendatangi kelas Belle, namun ia tidak dapat menemukan cewek itu dan hanya melihat Valerie disana yang mengatakan bahwa Belle tadi diminta tolong oleh guru untuk mengumpulkan tugas kelas mereka dan menyerahkannya langsung ke guru tersebut. Sibuk mencari keseluruh penjuru sekolah, Felix baru sadar bahwa ia belum mencari disatu tempat. Taman belakang sekolah.


Benar saja, Belle ada disana. Duduk dengan tenang ditempat favoritnya. Cewek itu terlihat menutup mata serta menyumbat telinganya dibawah rimbunan pohon. Hingga Felix datang dan mencabut headset yang tersumpal ditelinga cewek itu.

__ADS_1


"He-" Belle langsung menatap kearah Felix dan menghela nafasnya. "Gue kira siapa..."


"Kenapa disini? Cewek yang lain sibuk ngeliatin cowok lo main, sampe tega bolos kelas dan dimarahin dari tadi pagi, eh ceweknya sendiri malah duduk sendirian disini, bukannya nyamperin cowoknya"


Belle tersenyum lalu menggeleng. "Belum berani"


"Katanya 'Siap!' gitu tadi pagi, kok sekarang balik gak siap lagi?"


Belle tidak menjawab. Pikirannya dipenuhi oleh banyak kemungkinan yang selalu menjadi ketakutan terbesar baginya.


"Belle, kalo lo bilang lo takut untuk ngadepin cewek-cewek itu, terus lo rela kalo cowok lo dideketin sama mereka? Gak kan?"


"Belle, your biggest fear itu bukan mereka sebenarnya, tapi diri lo sendiri, lo bisa tapi lo takut, lo takut lo akan nyakitin mereka, right? Tapi Belle, in some case, jadi orang jahat sesekali itu gapapa, demi diri lo dan orang yang lo sayang"


"Tapi gimana kalo semua itu akan jadi bumerang buat diri gue sendiri? Gimana kalo yang gue rasakan semua ini cuma fana? Dan nyatanya, Wilson milik orang lain dan gak pernah ditakdirkan untuk gue...." mata Belle memerah, siap menitihkan air mata yang telah terbendung di pelupuknya.


Felix tersenyum. "Is it you fear?" Belle tidak menjawab namun Felix sudah mendapat jawabannya tanpa harus cewek itu sendiri yang mengatakannya.


"Gue terlalu sering menghadapi ketakutan sampai-sampai disetiap langkah gue, yang selalu gue temui pertama kali itu ketakutan diri gue sendiri"


"And you don't know how to face that fear right?" Belle mengangguk sebagai jawaban.


"Kalo gitu gue gak bisa ngasih lo saran apa-apa" Belle menatap Felix dengan bingung sekaligus terkejut.


Tidak ada jawaban. Belle hanya duduk diam dengan kepalanya yang tertunduk.


"Belle gue gak mau jadi melankolis atau apa tapi kalo dengan cara itu lo bisa sadar, gue rela dijuliki sebagai drama king" Belle terkekeh saat itu lalu menatap Felix dengan mata merahnya. "Makasih Felix"


"Karena?"


"Karena lo selalu ada buat gue, lo selalu dengerin curhatan gue, lo selalu dengerin keluh kesah gue, lo selalu ngasih gue saran-saran terbaik yang selalu bisa gue jadiin pedoman dalam hidup gue"


"Gue... gak tau apa yang bisa gue lakuin dan apa yang akan gue hadapi kalau aja gue gak pernah kenal sama lo"


"Sama, gue juga, karena kalo aja gue gak kenal deket sama lo, mungkin gue sekarang udah mati karena kanker paru-paru karena terlalu sering merokok, atau bahkan mati karena berantem karena gak bisa nahan emosi gue, tapi kedatengan lo dalam hidup gue sudah berhasil merubah banyak sikap buruk dalam gue menjadi hal yang lebih positif"


Felix tersenyum lembut kepada Belle lalu mengulurkan tangannya. "Mau ketempat Wilson?"


•••••


"Belle, darimana aja?" Wilson langsung menghampiri pacarnya itu sesaat setelah melihatnya datang dari arah belakang sekolah bersama Felix.


"Ngobrol bentar tadi bareng Felix" Belle tersenyum canggung, menyadari banyaknya mata yang menatap benci kearahnya dari segala sisi.


Wilson yang menyadari hal tersebut langsung memberi kode kepada Felix lewat matanya. Selang beberapa detik Felix berlalu meninggalkan keduanya untuk bermain basket bersama Andrew dan juga Jason sebagai pengalihan perhatian-perhatian tersebut.

__ADS_1


Saat itu Wilson langsung menarik Belle untuk menuju keparkiran dan masuk ke mobil cowok itu. Karena Wilson tahun, Belle sangatlah tidak nyaman dengan keramaian tersebut. "You okay?"


Belle mengangguk. "Yups, kamu udah makan?"


"Belum, nanti bareng kamu ya, selesai aku latihan, gapapa?"


"Iya, gapapa"


"Belum laper kan? Kalo laper kamu makan dulu aja" Wilson mengelus rambut Belle dengan lembut sehingga menciptakan rona merah dipipi cewek itu. "Wil..."


"Iya, iya" tawa Wilson.


Sepasang sejoli itu terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada percakapan maupun gerakan. Hanya diam layaknya patung hidup.


"Belle" panggil Wilson memecahkan keheningan mereka.


"Ya?"


"Mau cerita sesuatu?"


"Hah?"


"Cerita semua yang pernah kamu alamin, atau bakan sedang kamu alamin dan rasain saat ini" Belle menatap Wilson dengan bingung, seolah tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan cowok itu.


"Kamu masih takut kan?" pertanyaan Wilson saat itu seolah menjadi belati yang menusuk hatinya. Cewek itu tidak menjawab dan memilih untuk mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil.


"Belle..."


"Wil, kamu tau alasan waktu TFest kemarin aku gak berani naik keatas panggung?"


"Karena bahkan dilangkah pertama aku, aku sudah mendapat banyak cacian"


"Aku tau, I shouldn't feel like this, tapi aku terlalu takut untuk ngelawan rasa takut itu sendiri"


"Belle-"


"I know I have you guys by my side, tapi aku juga tau, bahwa itu semua gak akan pernah cukup kalau diri aku sendiri aja masih takut, I don't know how to face it, I don't know how to be brave" nada frustasi terdengar dari setiap kata yang terlontarkan oleh Belle.


Wilson tersenyum menangkan. Diraihnya kedua tangan Belle lalu menyatukannya. "It's okay Belle, don't force yourself, kita lalui ketakutan kamu itu bersama dan perlahan, oke?"


"Belle, you will be happy again, you will be more yourself than ever, you will understand your heart better when you heal, you will be whole, you will be healed, you will be okay" dan pelukan hangat yang diberikan Wilson saat itu mampu menghilangkan seluruh kekhawatiran dalam diri Belle. Setidaknya untuk saat itu.


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗

__ADS_1


__ADS_2