
Di hari minggu ini Belle hanya menghabiskan waktunya diatas tempat tidur setelah melakukan sedikit pekerjaan rumah yang memang harus dilakukannya. Belle memang tidak tinggal bersama kedua orang tuanya sejak ia SMA. Orang tuanya yang sibuk bekerja di luar kota untuk menafkahi cewek itu membuatnya harus berusaha untuk mandiri dengan kehidupannya. Karena itu ia harus melakukan segala sesuatu sendirian. Termasuk memendam segala kesedihan yang seharusnya bisa ia ceritakan bersama orang tuanya. Biasanya, Valerie lah orang yang mengantikan posisi tersebut. Tapi sekarang, tidak ada satupun orang yang bisa ia ajak untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.
Kejadian kemarin memang membuat cewek itu kini tengah dalam tahap belajar. Ya, belajar untuk menerima kenyataan bahwa semua yang kita inginkan tidak akan selalu kita miliki. Dan juga belajar untuk selalu bahagia diatas kebahagiaan orang lain bukan malah bersedih karena mereka berhasil dan kita gagal.
Yang kini tengah Belle harapkan adalah untuk Wilson tidak mengetahui bahwa Valerie sudah mengetahui semua kebenaran dihari ke-4. Belle sangat yakin cowok itu akan sangat murka kepadanya mengetahui bahwa dia tidak bisa menyimpan rahasia dengan baik. Dan juga bayangkan tentang kata-kata pedas yang akan keluar dari mulut cowok itu yang pada akhirnya akan menyakiti hatinya.
Saat ini Belle memutuskan untuk keluar mencari udara segar di taman sekitar komplek rumahnya. Walau cuaca sedikit terik karena memang saat ini jam menunjukan pukul 2 siang. Sesekali cewek itu bertemu dengan orang yang ia kenal disepanjang jalan dan menyapa mereka.
Sampai ditaman, cewek dengan rambut sepunggung itu duduk disalah satu bangku taman. Senyumnya terukir manis saat melihat anak-anak yang dengan gembira bermain bersama teman-teman mereka. Kakinya digoyangkannya kala menemani cewek itu menikmati angin sepoi ditaman kecil tersebut.
"Belle?" cewek itu menoleh sesaat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Felix? Kok lo bisa disini?" ya, orang tersebut adalah Felix yang kini telah duduk disebelah Belle.
"Harusnya gue yang nanya lo, kok lo bisa disini?"
"Rumah gue kan dikomplek ini" jawab Belle yang masih sedikit terkejut dengan kehadiran cowok itu.
"Seriusan?"
"Iya, rumah lo juga disini?"
"Lebih tepatnya dikomplek sebelah sih"
Belle mengangguk mengerti. "Kenapa ketaman sini jadi? Bukannya dikomplek lo juga ada taman?"
"Iya ada, tapi banyakan ibu-ibu ngerumpi, jadi males gue disana, mending kesini kan, ngeliat anak kecil main, eh taunya ketemu lo"
"Sering kesini?"
__ADS_1
"Lumayan kalo weekend, tapi sama sekali gak pernah liat lo, karena itu gue kejut pas ngeliat lo tiba-tiba disini"
Belle tersenyum kecil. "Gue emang jarang keluar rumah, biasanya kalo abis pulang sekolah mendep dikamar aja dan kalo weekend gue nonton drakor"
"Pantesan disekolah introvert banget, dilingkungan tempat tinggal sendiri aja introvert"
Belle tekekeh. "Gue bingung aja gimana caranya bergaul sama mereka, apalagi gue anak tunggal dan ortu gue jarang dirumah, jadi gue udah terbiasa sendiri"
Felix hanya mengangguk lalu terdiam untuk sesaat seolah sedang memikirkan sesuatu. "Kalo gitu gue bakal jadi temen pertama lo disini"
"Hah?"
"Yups, gue bakal jadi temen pertama lo di sini, dan ngebantu lo supaya bisa ngilangin sifat introvert lo"
Belle terkekeh lalu menatap Felix dengan kepala yang sedikit dimiringkannya serta senyum lucunya. "Bisa emang?"
Felix sempat terkesima untuk sesaat melihat Belle seperti itu. Sangat imut. Dia tidak menyangka cewek yang sering menjadi bahan olok-olokan itu memiliki sisi imut seperti ini. "E-e-bi-bisa dong, lo pegang ya kata-kata gue, soon lo bakal jadi cewek extrovert yang disenangi banyak orang, gak kayak sekarang"
"Ya gapapa, namanya kita gak canggung dan gue suka cewek kayak lo yang gak sok-sok malu kayak cewek lain"
"Thanks for the compliment, gue jarang dapet pujian dari orang kayak gitu" Belle menyengir.
"U're wel, lagian gue gak bener-bener muji lo gimana-gimana, gue cuma ngomongin kebenaran dan itu kebenaran tentang diri lo yang gue lihat dengan mata gue sendiri"
Siang itu menjadi saksi bahwa kedua orang yang dulunya sempat menatap satu sama lain dengan tidak acuh kini telah menjadi seorang teman bagi satu sama lain.
•••••
Felix baru saja sampai dirumahnya saat dikejutkan dengan kehadiran Wilson yang sedang duduk diatas motor ninja hitam merahnya.
"Ngapain lo weekend kesini?" Felix mendatangi cowok itu dan keduanya bersalaman dengan gaya ciri khas mereka.
__ADS_1
Wilson, Felix, Andrew, dan juga Jason, keempat prince charming Trevanor itu memang sudah membuat kesepakatan bahwa hari weekend adalah hari bagi mereka dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Karena itu mereka jarang bertemu satu sama lain di hari weekend.
"Undangan dari bokap" Wilson menyodorkan sebuah undangan berlatar putih kepada Felix.
"Ulang tahun kantor?" tanya Felix setelah membaca undangan tersebut.
"Iya, kasih ke bokap lo jangan lupa, lo nya juga dateng jangan ortu lo aja yang muncul"
"Yoi, kalo gak mager tapi"
Wilson hanya mengangguk simple. "Dari mana lo?"
"Main ke komplek sebelah"
"Ada gebetan?" goda Wilson. Mendengar itu Felix lantas tertawa. "Kalo gue jadiin dia gebetan gue, gue takutnya ada yang gak setuju"
"Siapa emang? Jangan bilang lo suka sama pacar orang!"
Satu pukulan ringan mendarat di perut Wilson dan membuat cowok itu merintih kecil tapi masih dapat tertawa karena berhasil menggoda Felix. "Gak seb*ngsat itu kali gue, lagian tuh cewek gak ada pacar"
"Langsung aja kalo gitu mah, tampang-tampang kayak lo mah mudah aja pasti dapetin cewek. Walaupun muka gue masih lebih ganteng dari lo"
"Najis b*ngsat, mirip Andrew lo"
Wilson tertawa kecil mendengarnya, lalu menepuk pundak Felix. "Gue pulang dulu, masih ada kerjaan. Kenalin tuh cewek kapan-kapan, jangan lupa"
"Lo udah kenal Wil..." ujar cowok itu setelah kepergian Wilson.
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗
__ADS_1