30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 11 (1)


__ADS_3


Pukul 6 pagi, Belle sudah bangun dari tidurnya. Semalam dirinya dan Wilson hanya menghabiskan waktu yang sangat singkat disana karena Wilson yang berkata bahwa dia ingin pulang. Belle sebenarnya ingin bertanya alasan cowok itu, tapi dia terlalu takut untuk melakukannya. Ia pikir cowok itu akan menyukai pemandangan itu, namun sepertinya tidak. Atau bisa jadi karena cowok itu juga mengantuk dan lain halnya.


Setelah membersihkan tubuhnya, cewek dengan rambut yang dikuncir kuda tersebut berjalan dengan santai menyelusuri komplek perumahannya dengan lagu Speechless yang menyumbat kedua telinga cewek itu.


Sesekali Belle mengumamkan lagu yang ia dengar, sesekali juga menyapa beberapa ibu-ibu yang lewat yang ia kenal. Udara pagi seperti ini adalah kesukaan cewek itu. Ditambah lagi, suara motor mobil yang berlalu lalang masih belum terlalu terdengar apalagi hari weekend seperti ini.


Dan lagi-lagi, Belle duduk di spot favorite nya ditaman komplek perumahannya. Matanya ia pejamkan. Lalu pikirannya kembali mengarah ke kejadian semalam.


Semalam, setelah Belle perkataan terkahir Belle, Wilson menatap cewek itu dengan datar dan tidak mengatakan apapun setelahnya. Dan saat cowok itu mengantarkan kembali Belle kerumahnya, ada satu kalimat yang lagi-lagi membekas diingatan cewek itu.


'Gak perlu berusaha untuk melupakan, yang penting adalah terbiasa dengan ketidakhadiran'


Dan Belle sadar, secara tidak langsung Wilson memintanya untuk benar-benar menjauhi cowok itu. Belle tersenyum kecil, tidak, ia tidak terkejut sama sekali, karena dia sudah bisa menebak hal seperti itu untuk terjadi suati saat nanti. Dan ternyata saat itu adalah kemarin malam.


Belle menutup matanya kala itu dengan lagu-lagu tenang yang menemani cewek itu, bermaksud untuk menenangkan pikirannya untuk sesaat, tapi tanpa sadar perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang dan cewek itu tertidur.


••••


Belle terbangun saat menemukan dirinya berada ditempat asing. Cewek itu terkejut dan langsung dengan cepat memeriksa pakaiannya yang masih utuh. Saat itu tiba-tiba pintu kamar bercat hitam tersebut terbuka.


"Udah bangun?" wajah Felix muncul dibalik pintu tersebut.


"Felix?!" Belle langsung menegakan tubuhnya menghadap cowok itu.


Felix tertawa melihat ekspresi terkejut Belle saat itu. "Gak gue apa-apain kok, santai aja"


"Kenapa bisa disini?"


"Apanya? Kan ini kan rumah gue"


"Bukan! Maksud gue, guenya kenapa bisa ada disini?!" nada bicara Belle tinggi, tapi malah membuat Felix tertawa karenanya.


"Felix"


"Iya Annabelle Clarine, lo tadi tuh ketiduran ditaman komplek lo, gue mau kerumah lo tapi kagak ada yang nyaut pas gue panggil"


"Seriusan gak ada?"


"Gak ada orang seriusan, lagian itu masih jam 6an, bibi lo mungkin blom dateng"


Belle menepuk jidatnya, teringat fakta tersebut setelah Felix mengingatkannya.

__ADS_1


"Lagian bisa-bisanya lo ketiduran ditaman kayak gitu, untung komplek lo aman, coba kalo banyak cowok-cowok nakal, ****** dah lo"


"Ishhh, lo doain gue ya?" Belle menatap kesal cowok dihadapannya itu.


"Gak Belle, gue kan cuma ngasih tau lo kemungkinan terburuk yang bisa aja terjadi, supaya kedepannya lo lebih hati-hati"


"Kan gue gak sengaja..." Belle menundukan kepalanya dengan nada sedih, tapi sedetik kemudian mengangkat kepalanya. "Anginnya sepoi-sepoi sih" Belle menyegir lucu, membuat Felix yang melihat hal tersebut tertekun dan langsung membuat pipi cowok itu memerah.


"Tapi kok kenapa bisa lo yang nemuin gue disana? Emang lo kekomplek gue?"


"Iseng, nyari angin pagi, eh malah ketemu bidadari pagi" mendengar hal tersebut Belle langsung meringis. "Jijik ah, bidadari apaan, kucing tetangga aja masih lebih imutan daripada gue"


"Astaga, emang lo mau disamain sama kucing tetangga lo?"


"Ya gak juga sih" Belle menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ngomong-ngomong kok lo bisa bawa gue sampai kesini? Gue kan berat jadi lo gak mungkin gendong gue, lo... LO SERET GUE YA!?" wajah terkejut bercampur marah Belle lagi-lagi malah menjadi hiburan tersendiri bagi Felix.


"Lo lupa julukan gue di Trevanor apa?"


Felix terkekeh sejenak saat melihat ekspresi bervampur Belle lalu membalikan badannya membelakangi Belle. "Udah, turun sini kebawah, emang lo mau dikamar gue terus apa" mendengar itu Belle langsung menyadari tentang siapa pemilik kamar tersebut karena memang sebenarnya bau kamar tersebut sangat mirip dengan Felix. Ya, lagian memang ini kamar Felix kan?


Belle yang tadinya berniat langsung pergi keluar kamar dan menyusul Felix, pendangannya teralihkan saat sebuah foto tanpa sengaja tertangkap indra penglihatannya.


Foto Felix, Wilson, Jason, dan Andrew, dengan gaya konyol mereka yang membuat Belle tertawa melihat pose keempat prince charming tersebut. Sedetik kemudian matanya terpaku terhadap satu sosok difoto tersebut.


"Belle, lo ngapain?" teriakan Felix dari luar kamar terdengar oleh cewek itu dan dengan sigap menutupi foto yang barusan ia lihat dengan tubuhnya. "Hah?"


Felix menatap Belle dengan curiga saat melihat gelagat cewek itu, tapi berusaha ia tepis. "Ayo turun, gue anter pulang" Belle mengangguk dan langsung berlari keluar dari kamar Felix.


Setelah Belle keluar, Felix mendatangi sejenak tempat Belle tadi berdiri dan menemukan foto dirinya dan sahabat-sahabatnya, termasuk Wilson. Felix terus menatap foto itu selama beberapa detik sebelum menyadari sebuah sidik jari tepat diwajah Wilson.


"Felix! Ayo, katanya mau nganter" teriakan Belle dari tangga membuat cowok itu bergegas keluar dari kamarnya dan menghampiri Belle.


•••••


Suara deruan motor terdengar disuatu komplek perumahan. Cowok dengan motor ninjanya itu berhenti disalah satu rumah lalu memencet bel beberapa kali dan tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari rumah bergaya minimalis tersebut.


"Permisi, ada apa ya nak?" wanita dengan daster tersebut mendatangi cowok itu.


"Belle nya ada bi?"


"Nak Belle dari tadi pagi pergi, sampai sekarang belum pulang" cowok itu menatap sejenak jam ditangannya lalu kembali menatap wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Kalo boleh tau kemana ya bi?"


"Saya kurang tau, tadi pagi pas saya datang nak Belle sudah gak dirumah"


Cowok itu sama sekali tidak menjawab setelah itu, melihat hal tersebut, wanita paruh baya itu kembali berbicara.


"Tapi mungkin nak Belle pulang sebentar lagi, mau masuk dulu aja? Temennya nak Belle kan?" wanita tersebut tersenyum lembut.


"Oh, iya bi, tapi saya tunggu disini aja gapapa"


"Seriusan gapapa nak?"


"Iya bi, gapapa" cowok itu tersenyum kecil.


"Yaudah, kalo gitu saya tinggal dulu ya, saya masih harus beres-beres rumah" wanita paruh baya itu kembali masuk kedalam rumah setelah menerima anggukan dari cowok tersebut.


Beberapa menit menunggu, deru motor lain mendekat kearah rumah tersebut. Cowok itu menatap kedatangan motor ninja lainnya yang semakin mendekat.


"Wilson?!" Belle langsung turun dari atas motor Felix saat melihat keberadaan Wilson didepan rumahnya.


Wilson tidak merespon tapi matanya menatap kearah 2 orang dihadapannya itu dengan kesal. Ya, tanpa ia sendiri sadari sebenarnya bahwa ia menatap 2 orang itu dengan kesal.


"Ngapain lo disini?" Felix juga ikut turun dari motornya dan menemui cowok itu.


"Lo abis jalan sama dia?"


"Gak jalan, abis dari rumah gue" jawab Felix santai.


Kali ini Wilson menatap kembali Belle yang berdiri tepat disebelah Felix namun sama sekali tidak mengatakan sepata kata apapun kepada cewek itu dan begitu saja langsung menaiki motornya dengan kasar dan pergi dari rumah Belle.


Belle menatap cemas Wilson yang telah berlalu dengan cepat menggunakan motornya, berfikir bahwa cowok itu memiliki masalah besar. "Dia kenapa? Lo tau? Muka dia kesel banget, apa mungkin dia berantem sama Val? Gimana nih?" Belle menyatukan kedua tangannya dengan cemas sambil terus menatap jalan yang baru saja Wilson lewati.


Melihat hal tersebut Felix menepuk pelan tangan Belle. "Udah Belle, santai aja, dia gapapa"


"Tapi Lix, dia kayak marah banget, pasti ada yang buat dia kesal, pasti, gue yakin, ahhh iya, coba gue chat Val" saat hendak mengambil ponselnya, Felix menahan tangan Belle dan menyatukannya dalam genggaman cowok itu.


"Gue"


"Apa?"


"Dia marah sama gue Belle" Belle menatap bingung Felix karena jawaban aneh cowok itu.


"Ada masa dimana seseorang gak sadar dengan perasaan dia sendiri, dan saat itu tiba, orang itu terkadang menjadi sosok yang sangat keras dan egois. Dan lo tau karena apa? Karena didalam setiap tindakan dan tingkah laku dia yang seperti itu, terkadang dia menyimpan seribu satu perasaan terpendam yang mungkin bahkan dirinya sendiri gak sadar akan hal itu"

__ADS_1


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗


__ADS_2