30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 9


__ADS_3


Belle duduk diteras depan rumahnya, sesekali ia melihat jam tangannya untuk memastikan waktu, sesekali juga melihat keluar pagarnya untuk memastikan keberadaan Felix yang berjanji untuk menjeputnya.


Kemarin setelah bertemu ditaman, Felix berinisiatif untuk menjemput Belle dan berangkat bersam kesekolah. Awalnya Belle menolak, memikirkan resiko besar yang akan dihadapinya karena berangkat bersama dengan salah satu dari prince charming Trevanor. Tapi sayangnya Felix tidak peduli dan tetep kekeuh untuk berangkat bersama Belle.


Setelah menunggu sekitar 15 menit, suara dengungan motor berhenti didepan rumah Belle. Cewek itu langsung berdiri, berpamitan dengan bibi yang bekerja dirumahnya dan menemui Felix.


"Sorry agak telat, begadang gue semalem" Belle menatap Felix, melihat mata cowok iti yang seperti panda lalu terkekeh.


"Kenapa ketawa?" Belle menggeleng. "Mata lo kayak panda" ujarnya dengan senyum.


"Gue baru tidur jam 4 tadi"


"Ngapain aja emangnya baru tidur jam 4?"


"Nemenin Jason main PS, gila bisa mati cepet gue kalo nemenin dia kayak gini tiap hari" Belle tertawa melihat ekspresi lelah Felix.


"Oh iya, ini ada bekal untuk lo, sebagai bentuk terimakasih gue karena usah mau susah-susah jemput gue kayak gini" Belle menyerahkan sekotak siomay yang baru saja datang pagi ini setelah ia memesannya semalam.


"Wuihhh, baik banget, thanks ya" Belle tersenyum sebagai balasan.


"Baru dateng tadi, langsung dimakan, anget-anget lebih enak"


"Yaudah gue makan sekarang" Felix memasang standar motornya lalu membuka kotak berisi siomay tersebut.


"Gak lo kasih sianida kan?" canda Felix sambil memasukan sebuah siomay kedalam mulutnya.


"Gak la, racun tikus aja palingan" ujar Belle menangapi candaan Felix.


"Palingan kalo gue mati, lo gue hantui kayak difilm-film" Felix memperagakan sosok hantu sambil menyebut nama Belle. Membuat keduanya tertawa geli karena tindakan lucu Felix.


"Aaaaaa" Belle terkejut saat Felix menyodorkannya siomay yang tadi ia berikan untuk cowok itu.


"Itu punya lo Felix"


"Gue bilang aaaa" Felix memaksa memasukan siomay tersebut kedalam mulut Belle.


"Karena ini pemberian lo, lo juga harus makan bareng gue" Felix tersenyum dengan pipi nya yang memgembul setelah memasukan langsung 2 siomay kedalam mulutnya.


Setelah menyantap seluruh siomay pemberian Belle sembari mengobrol dengan gadis itu, Felix kembali membenarkan posisi motornya dan menyalakan mesin motornya.


"Ayo naik, nanti telat" menuruti perkataan Felix, Belle nelangkahkan kakinya menaiki motor besar milik cowok itu. Felix menyerahkan helmnya kepada Belle, setelah itu melajukan motornya meninggalkan rumah Belle.


•••••


Sesuai dugaan Belle, sekarang hampir semua siswi Trevanor yang melihatnya turun dari motor Felix, menatap kearahnya dengan rasa penasaran, jijik, benci, iri, dan tentu saja semua tatapan tersebut mengarah kepada Belle. Tidak ada satu pun tatapan itu yang mengarah kepada Felix.


"Gue udah bilang kan..." Belle melepaskan helmnya dan menyerahkan kepada Felix.


"Diemin aja Belle"


Belle menggeleng dengan kepala yang tertunduk. "Gue gak terbiasa diliatin kayak gini tau, lo mah udah terbiasa kayak gini, tapi gue gak..."


Felix terkekeh lalu merangkul dan langsung menarik Belle untuk berjalan dengannya. "Felix!" Belle berbisik dengan nada tegas dibawah rangkulan Felix.

__ADS_1


"Udah santai aja, mereka gak bakal berani ngapa-ngapain lo"


"Tau darimana lo? Gimana kalo tiba-tiba gue diseret ke WC trus disiksa kayak di film-film" Felix tertawa mendengar perkataan Belle yang sama persis seperti kejadian di film-film.


"Wake up girl, disini mana ada rombongan cewek-cewek yang kayak difilm-film atau novel-novel yang sering lo baca, yang kalo benci sama orang, langsung disiksa gitu? gak ada Annabelle Clarine" secara spontan Felix mengelus puncak kepala cewek itu dengan gemas. Belle terkejut dengan aksi Felix untuk sesaat sebelum akhirnya kembali sadar. Cewek itu melihat kearah Felix yang tetap tenang dan seperti tidak peduli dengan tidakannya barusan tadi.


"Lo nyenyes juga ya ternyata, gue pikir introvert parah" ujar Felix tiba-tiba lalu menatap kearah Belle yang saat itu juga sedang menatap cowok itu.


"Hah? Ah-gak la, gue cuma gak pinter bersosialisasi karena dari kecil emang seringnya sendirian, jadi baru berani ngomong kalo udah kenal deket"


"Berarti perjalan gue masih jauh"


"Perjalanan apa?"


"Lo gak inget waktu ditaman pertama kali kita ketemu, gue janji buat lo supaya jadi cewek extrovert? And I'm on my way"


Belle tersenyum. "Gue pikir lo cuma bercanda"


"Nope, that's my promise, and I will grant it no matter what"


Belle tersenyum teduh mendengar ucapan tulus teman barunya itu. "Sometimes you look like an angel in devil mask, but i'm afraid that you are actually the one who were wearing the angel mask"


"I'm not either one of them, I'm just me, Felix, who wants to see a girl name Belle to smile and help her find her happiness"


•••••


Wilson Kyle: Woy, gue di parkiran motor


Wilson baru mengirimi Belle pesan setelah bel pulang sekolah berbunyi, Belle yang kala itu sedang membaca buku diperpustakaan terkejut begitu menerima pesan dari cowok itu. Belle kira Wilson melupakan tentang suratnya hari ini dan membuat Valerie seharian penuh tidak tersenyum sedikitpun karenanya.


"Wilson" Belle memanggil cowok itu. Wilson menoleh dan menemukan Belle yang sedang mengatur nafasnya akibat berlarian sepanjang koridor.


"Suratnya..." Belle berbicara disela-sela mengambil nafasnya.


"Kenapa?" tanya Wilson santai.


"Valerie... Dia marah... Lo telat ngasih suratnya" Belle masih berusaha menstabilkan nafasnya.


"Nafas dulu baru ngomong"


Belle meneguk ludahnya setelah berhasil mengambil nafas lalu menatap Wilson. "Lo harus bicara sama Valerie, dia marah karena mikir lo gak ngasih dia surat hari ini" wajah Belle cemas memikirkan keadaan Valerie saat terakhir kali sebelum cewek itu pulang.


"Kalo gitu naik" Wilson berbicara setelah menghidupkan mesin motornya.


"Hah?"


"Naik, lo bilang suruh gue bicara kan sama dia? Tapi gue gak tau rumah dia dan juga suratnya belum lo kasih dia"


"Ta-Tapi-"


"Naik"


"Gue send loc ya"


"Naik cepet atau temen lo bakal tambah marah"

__ADS_1


"Gak bisa, dia bakal lebih marah kalau tau gue pergi bareng lo"


"Setakut itu lo disalah pahimi sama sahabat lo?"


"Gue bukan takut dia salah paham, gue takut yang terjadi setelah itu"


"Well, then today maybe there is no letter for your friend"


"Wilson!"


"Naik kalau gitu" Wilson menatap tajam cewek didepannya itu.


"Tas gue" Belle menujuk kearah perpustakaan setelah memutuskan untuk menuruti perintah cowok itu. Alasan apa yang akan dia pakai ke Valerie nanti juga sudah dia siapkan.


"3 menit" mendengar itu Belle dengan cepat langsung berlari lagi, dalam diam saat Belle sedang Berlari, Wilson terkekeh melihat cewek dengan pipi tembamnya yang memerah akibat kepanasan serta kelelahan. Bukan, Wilson bukan psikopat yang sedang melihat orang menderita, hanya saja warna merah dipipi cewek itu membuatnya benar-benar terlihat imut. Sadar dengan apa yang baru dipirkannya, Wilson langsung menampar keras wajahnya. "Sadar an*ing, dia Belle, cewek gendut dan jelek yang dulu tanpa malunya nembak lo didepan semua orang"


Saat Belle kembali dengan tasnya, Wilson langsung menyuruh cewek itu untuk naik kemotornya. Belle yang awalnya sempat ragu, tetap saja menaiki motor milik Wilson akhirnya. Mengingat Valerie benar-benar membuat Belle rela melakukan apa saja demi sahabatnya itu.


Tidak ada obrolan sedikit pun kecuali saat Wilson bertanya arah kepadanya. Sampai dirumah Valerie, Belle dengan cepat langsung turun dari Motornya setelah menerima surat dari Wilson.


"Valerie, Valerie, Val" Belle memanggil cewek itu sambil mengetuk pintu kayu rumahnya. Valerie datang setelah Belle terus-terusan mengetuk pintu rumah cewek itu tanpa henti.


Valerie muncul dengan wajah datarnya. "Kenapa?" Belle dengan cepat langsung menyerahkan surat pemberian Wilson kepada cewek itu. Wajah Valerie yang tadinya tidak bersemangat seketika langsung cerah melihat surat berwarna unggu tersebut.


"Ini ada Wilson juga" Belle menunjuk kebaradaan Wilson kepada Valerie. Valerie melihat kearah jari Belle menujuk dan benar saja menemukan Wilson yang sedang tersenyum manis kepadanya.


"Kalian kesini berdua?" Valerie bertanya dengan wajah Serius.


Saat itu Belle langsung tersadar. "Gak-gak kok, gue tadi pakek g*car, dia nyusul di belakang soalnya dia gak tau rumah lo jadi minta gue untuk nunjukin arahnya"


Valerie tidak mengatakan apa-apa untuk sesaat seperti sedang meneliti sesuatu. "Gak bisa send loc?"


"Hp gue abis batre, sorry..." Valerie terdiam saat sebelum mengangguk mengerti.


Saat itu Wilson berjalan menghampiri Valerie. "Maaf suratnya telat, tadi gue nemeni mereka bolos, sampe kelupaan sama suratnya" Valerie mengangguk. "Iya gapapa"


"Lo gak marah lagi kan?" Valerie menggeleng dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.


"Val, gue pulang dulu ya" Valerie dan Wilson menoleh bersamaan kearah Belle.


"Mampir dulu Belle, lo udah lama gak kerumah gue"


"Kapan-kapan aja ya, lagian kalian juga masih harus ngobrol" Belle tersenyum, tapi entah mengapa saat melihat senyum cewek itu, hati Wilson merasa ada yang salah.


"Tapi Belle-"


"G*carnya udah dateng" Belle menunjukan ponselnya yang menampilkan salah satu aplikasi ojek online.


"Yaudah, hati-hati ya dijalan, telpon gue kalau ada apa-apa" Valerie memeluk sahabatnya itu sebagai tanda terima kasih.


Saat mobil yang dinaiki Belle mulai melaju, Wilson benar-benar merasa ada yang salah dengan dirinya, hatinya gundah entah karena apa, ada yang salah dan ia tidak tau penyebabnya. Tapi bayangan senyum Belle tadi berhasil menghantui pikirannya.


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗

__ADS_1


__ADS_2