
Entahlah, tapi karena perkataannya kepada Wilson kemarin, sejak saat itu ada perasaan tidak enak didalam hati Belle. Ada perasaan tidak lega menginggat semua perkataan jahatnya kepada Wilson. Tapi, sekali lagi, Belle tau bahwa itu semua adalah yang terbaik untuk saat ini.
Pagi ini, ada satu hal yang sangat ini Belle lakukan. Yaitu, mengubungi Valerie. Sahabat baiknya. Belle memang tidak yakin bahwa Valerie akan menjawab telepon. Bahkan untuk Valerie tidak memblokir nomor atau pun kontaknya pun, Belle sudah sangat bersyukur akan hal tersebut.
Sejak bangun Belle terus-terusan menatap kontak Valerie yang tertera dilayar ponselnya tersebut. Ia hanya perlu menyentuh tombol telepon, dan tentu saja keduanya akan langsung terhubung. Tapi Belle tahu bahwa saat ini, semuanya tidak semudah dulu lagi.
Setelah menatap layar ponselnya selama 10 menit, cewek itu akhirnya memberanikan dirinya untuk menelpon Valerie.
Nada dering terdengar saat itu, tapi dalam beberapa detik nada tering tersebut sudah tidak terdengar lagi melainkan digantikan dengan suara operator yang menandakan bahwa penerima mematikan sambungan teleponnya.
Belle meringis kala itu. Tidak menyangka bahwa dengan kejadian 3 hari lalu, itu semua sudah berhasil mengubah hubungan saudara antar keduanya menjadi hubungan permusuhan yang paling sangat Belle hindari dan tidak harapkan dari dulu.
Berkali-kali sudah Belle mencoba untuk menghubungi Valerie pagi ini, namun tetap tidak cewek itu angkat hingga akhirnya suara operator terdengar berbeda.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi..."
Ya, Valerie mematikan ponselnya hanya karena Belle. Dan sekarang Belle sangat yakin bahwa Valerie pasti sedang memainkan iPAD nya, yang dimana Belle sama sekali tidak mengetahui nomor iPAD milik Valerie.
Merasa putus asa, Belle memutuskan untuk mengubungi teman satu-satunya yang ia miliki saat ini, Felix. Dalam kurung waktu beberapa detik, cowok itu langsung menjawab.
"Halo?"
"Lix, meet me at the park"
"Belom mandi gue Belle"
"Astaga, ini udah jam 12 Lix"
"Gue aja baru bangun ini, trus gak lama lo nelpon"
Belle berdecih. "Pasti nemenin Jason main game lagi kan"
"Tau banget lo, jadi gemes"
Belle menampilkan wajah kesalnya, walau ia tahu Felix tidak akan dapat melihat ekspresinya saat ini. "Kemarinan aja ngomongnya males ini itu, gamau lagi ini itu, eh akhirnya ketagihan juga kan"
"Kumat jiwa emak-emak tukang ngomelnya"
"Ish..."
"Yaudah-yaudah, lo berangkat dari rumah lo 5 menit lagi, sekalian nunggu gue selesai mandi, jadi lo gak perlu nunggu lama-lama sendirian disana, nanti lo ketiduran lagi, ****** gue"
"****** kenapa? ****** karena harus ngangkat gue yang gendut ini?"
"Astaga Belle, suuzon amat sih, lagian lo itu gak gendut, lo itu chubby, inget, chubby"
__ADS_1
"Udahlah, mending lo cepet mandi sekarang, telat lebih dari 5 menit, rumah lo gue bakar"
"Kek berani aja"
"1 menit"
"IYA!"
Dan dalam sekejap telpon tersebut sudah tidak terhubung lagi. Belle terkikik senang saat itu. Sebenarnya tidak pernah terbayang baginya untuk bersahabatan dengan orang seperti Felix. Ya, maksudnya Felix yang famous, ganteng, idaman banyak cewek, sporty, dll. Tapi nyatanya saat ini, cowok itu adalah satu-satunya sahabat yang saat ini masih setia berada disampingnya.
Menuruti perkataan Felix tadi, Belle beru mulai berjalan kearah taman kompleknya setelah 5 menit berlalu. Dan setelah 5 menit menunggu juga barulah Felix datang dengan rambutnya yang masih terlihat basah yang juga menyebabkan kaos hitam polos ketat yang cowok itu kenakan terlihat menjeplak ditubuh atletisnya.
Felix dengan cepat langsung menghampiri Belle setelah turun dari motornya. Nafas cowok itu memburu, membuat Belle sedikit cemas karenanya. "Tarik nafas dulu Lix, gak akan langsung gue bakar serumah-rumah juga, paling-paling halaman dulu, soalnya kan api nyambar, jadi pelan-pelan aja" canda Belle kala itu yang mendapat tepukan pelan dijidatnya oleh Felix.
"Bukan masalah rumah gue kebakar atau gimana Belle, gue lebih takut kena giling ortu gue pas pulang kerja tau-tau rumah mereka udah jadi abu aja"
Belle tertawa dengan keras mendengar penuturan Felix yang seakan sangat percaya bahwa Belle akan benar-benar membakar rumahnya. "Sumpah Lix, lo bener-bener percaya gue akan bakar rumah lo?!" Belle tertawa dengan gradak, bahkan hingga memukul-mukul lengan Felix.
Felix diam saat itu karena ia baru saja menyadari satu hal menarik lainnya dari diri Belle. Hingga Belle selesai tertawa, cowok itu masih menatap Belle dengan senyum lembutnya.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?"
"Iya tau gue jelek, gendut, tapi jangan diliat sampe segitunya, ketawan baget mau ngejek" Belle mengalihkan pandangannya dengan jengkel dan mengambil ponselnya langsung saat itu.
Felix terkejut dan saat itu langsung mempites leher Belle dengan gemas.
"Felix!"
"Belle"
"Apaan?! Lepas cepet! Sakit!" Belle meronta-ronta dalam cengkraman tangan Felix yang mengikat lehernya.
"Belle, beauty begins the moment you decide to be yourself, so stop saying that you're ugly, lagian siapa peduli kalo mukanya cantik tapi sifatnya kayak penganut setan?"
"Lo cantik Belle, apalagi pas lo ketawa tadi, gradak sih, tapi ngeliat orang yang selama ini ketawa aja mesti dipendem, rasanya adem banget sekali ngeliat lo ketawa"
"Felix alay"
"Astaga, diomongin yang bener malah bales kayak gitu" Felix melepaskan pitesannya dari leher Belle dan menatap cewek itu. Dan saat itu sadar mengapa Belle mengatakannya alay.
Wajah cewek itu memerah malu, yang tentu saja tanpa harus bertanya, Felix tau bahwa Belle malu karena mendengar pujian dan dukungan dari nya. "Wahhh, muka siapa yang merah nih?" Felix mencoel-coel pipi Belle dan langsung ditepis cewek itu.
"Felix mau eskrim!!" Belle berteriak tanpa sebab saat itu yang Felix sadari bahwa cewek itu hanya ingin mengalihkan topik pembicaraan mereka.
__ADS_1
Felix tertawa dan memberantakan rambut Belle dengan gemas. "Vanilla toping oreo dan almond?"
"Tau banget" Belle tersenyum dengan senang.
"Ya iyalah, tiap beli eskrim juga lo beli yang gitu-gitu aja gue liat, eh iya, tapi tokonya jauh, emang mau nunggu?"
"Gamau"
"Jadi?"
"Ikut"
"Yaudah ayo"
"Hah?"
"Ayo"
"Kemana?"
"Lah? Katanya mau beli eskrim bambang"
"Oh iya, ayo!"
"Gila ya lo" Felix mencubit gemas pipi Belle sebelum keduanya pergi membeli eskrim bersama.
•••••
"Lix" panggil Belle ditengah perjalan keduanya menuju kedai eskrim kesukaan Belle didekat sekolah mereka.
"Hm?"
"Kalo orang yang lo suka suruh lo untuk jauhi dia, gimana tanggapan lo?"
"Yaudah, berarti dia gamau sama gue, lagian masih banyak cewek yang pasti lebih baik dari dia suatu saat nanti, jadi-" perkataan Felix terhenti kala menyadari maksud dari pertanyaan Belle.
"Gitu ya..."
"Bukan, maksud gue-"
"It's okay, gue kan cuma nanya, santai aja"
"Come on, gimme ice cream ASAP" Belle dengan instan langsung mengubah moodnya saat itu dan memukul-mukul pundak Felix dengan semangat.
"Siap tuan putri!" Belle tertawa, walau Felix tau dalam lubuk hati terdalamnya, Belle sedang cemas, khawatir, dan semua perasaan tersebut bercampur aduk dalam benaknya.
#?#?#?
__ADS_1
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗