30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 19


__ADS_3


Pagi ini Belle rela bangun lebih pagi untuk melakukan hukuman yang diberikan oleh Felix kepadanya kemarin.


Saat dikedai eksrim kemarin, cowok itu menantang Belle untuk secepatan makan eskrim yang tentu saja sudah pasti dimenangkan oleh Felix. Maka dari itu, sebagai hukuman kekalahannya, Felix memintanya untuk membuat cupcake coklat dan memberikannya kepada Felix hari ini juga.


Bagaiman cara Belle memberikannya? Toh, cowok itu sekarang sudah duduk sembari memainkan ponselnya dihadapan Belle. Karena Belle juga memberikannya syarat untuk menemainya kalau ingin dibuatkan cupcake. Jadi intinya, tetap Felix yang rugi.


"Lix, cicip" Belle memyerahkan sendok kecil dengan sangat sedikit adonan didalamnya.


"Apanya yang mau dicicip?" tanya Felix setelah melihat isi sendok tersebut.


"Ya, itu" tunjuk Belle kearah sendoknya.


"Lo suruh gue makan adonan mentah gitu?"


"Astaga Lix, itu dikit aja, untuk ngetes apa rasanya kemanisan atau gak ada rasa atau gimana" Felix mengangguk dengan mulutnya yang membentuk huruf 'O'.


Setelah mencoba Felix langsung mengacungkan jempolnya. "Sip, lanjutkan prestasimu nak" dan kembali bermain ponselnya.


Belle berdecih. "Keliatan banget gak ikhlasnya"


Felix mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Belle. "Apanya yang gak ikhlas Belle?"


"Lo nya" Belle bersikap acuh sembari memasukan adonan yang telah jadi kedalam cetakan yang telah cewek itu susun rapi.


"Iya udah, gue gak main HP nih" Felix telah menyimpan HP nya karena cowok itu tau Belle kesal ketika ia sedang bersama seseorang tapi orang tersebut malah sibuk dengan ponselnya sendiri.


Belle tidak menjawab dan tetap sibuk dengan urusannya sendiri. "Belle yang manis semanis cupcake jangan ngambek dong" Felix mencoel-coel pipi gadis itu, berusaha membujuknya agak tidak merajuk lagi.


"Gak usah muji gue, nih bantu, padahal lo yang mau makan" Belle memberikannya semangkuk lagi yang berisi adonan kepada Felix untuk cowok itu masukan kedalam cetakan seperti yang sedang ia lakukan.


"Gue gak bisa Belle, gue hibur lo aja nih, nari-nari gimana?" Felix berdiri dari tempatnya dan memperagakan tarian orang gila yang berhasil membuat Belle terkikik saat itu.


"Felix gila" ejek Belle sembari melempar tepung kearah cowok itu sehingga membuat semua tubuh Felix dibaluti tepung putih. "BELLE! LO YA!" hampir saja Felix melemparkan tepung juga kearah Belle tapi cewek itu menahannya. "Tunggu! Masukin dulu adonannya kedalam oven"


"Ohhh, bisa ya nunggu-nunggu gitu kalo mau nyerang orang?"


"Bisa dong" jawab Belle dengan tertawa.


"Emang orang kalo perang, kalo musuhnya belum siap, bisa ya nunggu-nunggu gitu?"


"Bisa, kalo gue yang diajak perang" Belle menyengir geli dengan tangannya yang memasukan adonan terakhir kedalam oven.

__ADS_1


Selesai memasukan semua adonan kedalam oven, Felix tanpa aba-aba lagi langsung melempar semangkuk penuh tepung keatas kepala Belle sehingga cewek itu terlihat seperti udang goreng tepung dan itu berhasil membuat Felix tertawa sangat puas.


"FELIX!"


"Kenapa?" tanyanya dengan senyum tanpa berdosanya.


"Lo ganteng... apalagi kalau mandi tepung" dan byurr mangkuk lainnya berisi tepung menghiasi tubuh Felix dan membuat keduanya terbatuk-terbatuk karena asap tepung tersebut.


Perang tepung yang berhasil mengotori seisi dapur Belle itu terhenti saat keduanya mendengar suara dentingan dari oven yang menandakan bahwa cupcake yang mereka buat telah jadi. Dengan segera Belle segera mengambil sarung tangan oven miliknya dan mengambil cupcake-cupcake tersebut dari dalam oven.


"Gue mau gue mau" Felix dengan cepat langsung duduk di hadapan Belle dan menadakan tangannya kearah cewek itu. "Tunggu bentar lagi, ini masih panas"


"Gapapa, lebih enak kalau panas"


"Gak, beresin dulu dapur ini baru boleh makan"


"Yahh Belle..."


"Yahh Felix..." Belle meniru perkataan Felix dengan nada mengejeknya. Felix tidak menjawab lagi dan mematung ditempatnya sembari menatap deretan cupcake yang berada tepat dihadapannya.


"Beresin dulu atuh Felix" Belle memukul punggung cowok itu.


"Kasih dulu gue cupcake"


"Astaga"


Belle menghela nafasnya. "Lo badan aja macho, julukannya hulk, makanan kesukaan juga cupcake manis-manis gini"


"Ya, apa salahnya coba"


"Gak ada, gak cocok aja" Belle hampir saja memberikan cupcakenya kearah Felix tapi cewek itu kembali menariknya. "Gue lupa, belum gue hias"


"Gak usah gapapa" dengan cepat Felix langsung merebut dan memakan cupcake yang tadinya berada di tangan Belle. "Eh-astaga..."


"Hm-hm" Felix bersenandung layaknya anak kecil sembari terus memakan cupcake yang sama sekali belum sempat dihias oleh Belle hingga cewek itu dibuat kesal sendiri oleh Felix.


"Felix! Pelan-pelan makannya, gue mau hias supaya cantik"


"gwausa dhwiyas jhugua thetuep uwehnwak"


"Ngoceh apa sih?"


Felix berusaha menelan sisa cupcake yang berada dimulutnya barulah ia kembali berbicara. "Gausah dihias juga tetep enak Belle"

__ADS_1


"Tapi kan gak cantik!" Belle menghentakan kalinya dengan kesal.


"Dasar cewek, lagian mau dimakan, masuk mulut, dikunyah, hancur juga, ngapain dicantik-cantikin segala"


"Dasar cowok, gak ngerti seni, taunya makan aja, huh!"


"Dasar cewek-"


"APA?!"


Mendengar teriakan kesal Belle, nyali Felix seketika itu juga langsung menciut. Nyali hulk nya Trevanor langsung menciut saat mendengar teriakan kesal seorang Belle.


"Iya, iya, maaf, yaudah ayok dihias"


"Bodo, gak peduli lagi" Belle langsung melepas apron yang terpasang dibadannya dan pergi meninggalkan dapur dengan perasaan kesal.


"Yah... Ngambek lagi si eneng"


•••••


30 menit sudah Belle duduk sendirian diruang keluarga rumahnya tanpa sedikit pun itikad baik dari Felix untuk mendatangi dan membujuknya.


Masih dengan perasaan kesal yang sama bahkan mungkin bertambah kesal, Belle berjalan menuju dapur, berniat untuk memarahi Felix besar-besaran. Tapi apa yang ia lihat dengan kedua matanya saat ini, mengurungkan semua niat-niatnya tadi.


Dapurnya yang tadi penuh dengan kekacauan, tepung berserakan dimana-mana, cangkang telur, plastik-plastik bekas, dan barang-barang lainnya kini telah bersih dan tidak terlihat lagi.


Belle dapat melihat Felix yang tengah memakai apron yang tadi seharusnya ia gunakan, cowok itu saat ini sedang sibuk menghias cupcake-cupcake yang masih tersisa dengan susah payah. Banyak dari mereka yang hancur hiasannya tetapi jadi terlihat lucu.


Belle mendatangi Felix dan duduk dihadapan cowok itu dengan menopang dagu dikedua tangannya.


"Kok baik?"


Felix menatap sejenak Belle dan kembali fokus menghias cupcake dihadapannya. "Gue gamau ngeliat lo marah-marah terus"


Belle terdiam untuk sesaat sebelum kembali bicara. "Maaf, gue ngeselin"


Felix tersenyum. Cowok itu melepaskan semua peralatan yang tadinya ia pegang dan mengelus pucuk kepala Belle. "Gapapa, gue juga ngeselin, maaf ya"


"Oh iya, lo liat ini" Felix memperlihatkan Belle salah satu cupcake dengan krim kuning diatasnya. "Niatnya sih buat minion, jadinya kayak larva obesitas pakek baju badut" Belle tertawa keras saat itu dan tiba-tiba saja ditengah tawanya cewek itu langsung mencoel sedikit krim kocok dan menempelkannya kepipi Felix dan berlari meninggalkan dapur dengan tawa senangnya. Yang tidak lama kemudian dikejar balik oleh Felix dengan segenggam penuh krim kocok ditangannya. "DON'T YOU DARE TO RUN GIRL"


Ya, sebahagia itulah kedua sahabat itu. Kedua sahabat yang andai saja dapat saling mencintai mungkin sudah dapat menciptakan kehidupan cinta yang sangat indah.


Ya, andai saja....

__ADS_1


#?#?#?


Thaank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗


__ADS_2