
Jumat ini, SMA Trevanor tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar mereka seperti biasa dikarenakan untuk merayakan ulang tahun sekolah ke 37 tahun.
Maka dari itu semua murid hari ini melakukan kegiatan bazar serta perfomance-perfomance khusus bagi mereka yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba-lomba yang tersedia.
Felix sendiri sudah tiba bersama Belle sejak pagi padahal mereka baru memulai acara pada jam 10, tapi mereka berdua telah berada di sekolah sejak jam 7.
"Seriusan Felix.... lo nyanyi apa, gitu aja gamau kasih tau, ngeselin" Belle memukul pundak Felix berpuluh-puluh kali tapi tetap saja cowok itu kekeuh untuk tidak memberi tahu lagu yang akan ia nyanyikan kepada Belle. "Nanti aja, kan nanti denger gue perfom juga"
"Tau ah Lix, capek gue" Belle merajuk. Felix menghembuskan nafasnya lalu mecubit pipi Belle dengan gemas. "Perfomance ini gue siapin sebagai surprise untuk lo, jadi kalau lo udah tau duluan, udah bukan surprise lagi Belle" Belle berdecih namun akhirnya tetap luluh.
Disisi lain, percakapan canggung antara 2 orang yang pernah saling menaruh hati satu sama lain itu dimulai.
"Gue minta maaf..."
"It's okay, gue ngerti, sejak awal gue sudah berusaha untuk mengerti semuanya, cuma memang gue baru bisa menerima semua kenyataan itu akhir-akhir ini"
"You deserve to be happy Val, with another men who is more able to give you the happiness you've been dreaming of"
"I know Wil, everything is all about time, sooner or later" Valerie tersenyum lalu meraih tangan Wilson saat itu. Dan tidak lama kemudian, sebuah liontin terlihat disana. Liontin dengan huruf WE terletak diatas telapak tangan Wilson. "Nama kalian bahkan sudah sangat bagus walau digabungkan hanya dengan satu huruf, WE... kita..."
Wilson menatap raut wajah Valerie, sudah tidak ada lagi kesedihan disana, tidak ada lagi rasa dendam, tidak ada lagi rasa benci seperti saat pertama kali cewek itu mengetahui semuanya. "Makasih Val..." Wilson menutup telapak tangannya dan menyimpan liontin tersebut disaku bajunya.
"Gue itu sahabat Belle, dan alasan kenapa kami bisa sahabatan itu karena kami sama, kalau kata Belle, kelinci gak mungkin sahabatan sama anjing, kalau kelinci ya pasti sahabatan sama kelinci, karena itu gue bilang, kami sama, sesakit apapun rasa yang harus gue rasakan, semuanya pasti ada balasannya, Belle sahabat gue juga, bukan cuma gue yang sahabat Belle, karena itu gak seharusnya hanya Belle yang terus-terusan berkorban untuk gue, ada waktu dimana akhirnya gue dikasih waktu untuk berkorban untuk kebahagiaan dia, ngerasain semua hal yang dia rasakan waktu dia bekorban untuk gue"
Wilson tersenyum ketika mendengar penuturan Valerie. Sebelumnya cowok itu sudah sangat khawatir karena berfikir Valerie akan bereaksi sama seperti sebelumnya. Namun melihat reaksi dan tanggapannya hari ini, Wilson yakin, jalannya untuk mendapatkan Belle akan semakin lancar.
"Belle gendut, dia gak secantik cewek kurus, dia gak sebagus itu untuk dipandang badan dan wajahnya yang dipenuhi dengan lemak, but atleast itu yang dikatakan orang-orang sebelum tau betapa baiknya dia, sebelum tau that inner beauty is exist, gue gak setega itu untuk nyakitin Belle, dia sudah cukup terluka, gue gak bilang gue kasihan sama dia, karena gue melakukan semua ini tulus, karena gue juga pengen dia mendapat kebahagiaan yang selama ini dia impikan"
"Lo satu-satunya harapan gue saat ini untuk ngasih Belle kebahagiaan itu Wil, jangan sampai lo hancurin kepercayaan gue, jangan sekalipun lo nyakitin Belle, itu pesan gue, lo gores hati Belle, sekecil apapun itu, jangan pernah berharap untuk melihat wajah Belle lagi seumur hidup lo"
Wilson mengangguk tanpa ragu. "Kebahagiaan Belle adalah prioritas gue saat ini" Valerie tersenyum lalu menepuk lengan Wilson. "Sudah saatnya lo kembali ketempat dimana seharusnya lo berada"
•••••
TFest dimulai. Acara tersebut sangat ramai karena bukan hanya murid dari Trevanor saja yang datang tetapi juga murid-murid dari sekolah lainnya. Masing-masing sekolah mengenakan jas kebangaan mereka masing-masing sesuai dengan peraturan dari Trevanor sendiri agar dapat membedakan masing-masing sekolah. Karena itu TFest tahun ini benar-benar terkesan berwarna.
Termasuk keempat prince charming Trevanor, Belle, dan juga Valerie, keenamnya juga tidak lupa memakai jas sekolah mereka sehingga tentu saja menarik perhatian banyak pihak dengan betapa goalsnya mereka.
"Panas" Belle mengeluh sembari menyenderkan kepalanya kepundak Felix. Cowok itu terus saja terlihat sibuk memetik gitarnya, tapi Belle tidak kunjung menemukan judul dari lagu yang akan dinyanyikan cowok itu. "Minum gih, ada kan?"
"Gak ada, habis"
"Loh? Kan baru beli tadi sebelum kesini" ya, saat ini keenamnya sedang duduk disalah satu tenda kecil tempat khusus bagi siswa-siswi Trevanor yang mengikuti lomba.
"Diminum ya abis kali Lix, bukan lo kata dia Tuhan, 7 roti sama 2 ikan gak abis-abis padahal dibagi ke 5000 orang" celetuk Jason tiba-tiba.
"Ngegas **** dia" ujar Andrew dengan kekehan gelinya.
"Lagi patah hati lo ya? Gue ngomong baik-baik sama Belle, malah lo nya yang ngegas"
__ADS_1
"B*ngsat"
Semua yang ada disana bahkan termasuk Belle dan Valerie menatap Jason dengan aneh. "Kenapa lo *****?" Felix menendang kaki cowok itu.
"Bacot!"
"Lah? Kayak cewek" ejek Valerie dengan tawanya yang berakhir mendapat jelitan dari Jason.
Belle yang tidak berani melakukan apa-apa memilih untuk menatap Felix, meminta cowok itu menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Jason tetapi Felix membalasnya dengan gelengan kepala, menandakan bahwa dia juga tidak tau apa yang terjadi dengan sahabatnya satu itu.
"Gak usah kayak cewek, ada masalah dipendem, lo cowok, ada masalah ya diomongin, jangan malah caci maki orang yang gak tau apa-apa sama sekali" Wilson menatap cowok itu dengan datar. Tapi kata-katanya mampu mebuat Jason berdecih kesal, tanda bahwa ia pasrah tetapi cowok itu tetap kekeuh untuk tidak mengatakan apapun.
"Sudah, jangan diributin dulu sekarang, fokus kelomba dulu aja" Belle berusaha menenangkan suasana tegang di tenda tersebut.
"Iya, gue setuju sama Belle" Valerie menimpali perkataanya.
Ah iya, ngomong-ngomong Valerie, Belle merasa cewek itu sedikit berbeda hari ini. Terutama tentang sikapnya dengan Wilson. Biasanya Valerie akan selalu mengandeng dan bersikap manja kepada cowok itu, tapi entah mengapa hari ini bahkan keduanya saling duduk berjauhan. Valerie duduk disebelah ujung Belle, sedangkan Wilson, cowok itu sedang duduk disudut tenda dengan gitar yang setia menemaninya, sama seperti Felix.
"Val, lagi marahan ya?" Belle memberanikan dirinya bertanya dengan Valerie. Tapi tanggapam cewek itu malah tersenyum dengan selingan tawa kecil. "Gak dong, ngapain juga marahan"
"Kok jauhan gini tapi?"
"Gak Bel, seriusan" Belle memang tidak menjawab lagi tapi matanya menatap Valerie dengan tidak percaya. "Masih gak percaya?" ujar Valerie dan mendapat anggukan dari Belle.
"Wilson, kita gak berantem kan?" panggil Valerie kala itu. Wilson menoleh kearah mereka, menatap sejenak masing-masing Belle dan Valerie lalu menggeleng. "Berantem kenapa?" tanya Wilson enteng yang menandakan bahwa keduanya baik-baik saja.
Valerie tersenyum puas lalu menatap Belle. "Gak percayaan banget kan mangkanya" Belle memanyunkan bibirnya. "Kan gue takut lo sama Wilson kenapa-napa"
Saat itu, seorang anggota osis kenalan para prince charming mendatangi tenda mereka. "Felix, abis ini ya, abis itu baru Wilson" ujar cowok dengan jas nya yang berbeda sendiri dikarenakan ia anggota osis.
"Sip, thanks bro" anggota osis tersebut mengangguk lalu menunggu didepan tenda mereka.
"Felix, fighting!" Belle menyemangati cowok itu dengan gaya imutnya sehingga membuat cowok seisi tenda mereka tertawa.
"Nanti jadi cheerleader gue ya Belle pas gue tampil" canda Felix.
"Ohhh, tenang aja... gak mau" Belle terkikik senang walau dia akhirnya menatap jitakan dari Felix.
"Keluar semua lo pas gue tampil nanti, lo juga Son" Felix mewanti-wanti mereka untuk menonton perfom dia, apalagi Jason yang terkesan mageran dan hanya ingin terus-terusan bermain ponselnya ditempat adem. "Woi, jawab" panggil Felix sekali lagi kearah cowok itu tetapi hanya dijawab dengan anggukan tanpa niat.
"Felix, it's time" ujar osis yang tadi lagi setelah menonggolkan kepalanya masuk kedalam tenda mereka.
Belle lansung meloncat-loncat senang kala melihat Felix mulai menaiki panggung. Wilson yang berdiri disamping cewek itu tertawa geli dengan sikapnya. "Gak malu kayak gitu Bel?"
"Gak" Belle menjawab tanpa melihat siapa yang bertanya kepadanya.
"Nanti kayak gini juga ya pas gue perform, supaya ada yang nyemagatin juga kayak Felix" Belle menoleh saat mendengar kalimat tersebut dan sedikit terkejut saat mendapati Wilson berdiri disampingnya dan menatapnya dengan senyuman.
"Ah-ah, iya nanti gue sama Val pasti nyemagatin lo kok" Belle tersenyum canggung lalu kembali menatap kearah panggung, dimana Felix sedang mempersiapkan gitarnya sebagai peralihan.
Disisi lain Wilson hanya tersenyum melihat kecanggung Belle. Saat itu seorang anggota osis yang lain lagi mendatangi Wilson ditengah keramaian tersebut. "Wil, abis Felix ya" Wilson mengangguk dan menepuk pundak cowok itu sebagai ucapan terimakasih.
__ADS_1
Dan saat itu Felix memulai perfom nya. Sebuah nada yang Belle lupakan judulnya lagi-lagi mengalun diatas panggung tersebut. Sampai akhirnya Felix mulai bernyanyi dan akhirnya Belle mulai mengingat judul lagu tersebut.
https://youtu.be/DdrlMprQm\-o
•••••
"Felix, jjang!" Belle bersorak senang untuk cowok itu usai ia turun dari atas panggung. Felix mengacak gemas rambut Belle. "Jangan nangis, itu mata merah, masih sempat-sempatnya mau muji gue" Belle terkekeh lalu memeluk sejenak Felix. "Makasih, Lix" cewek itu menatap Felix dengan penuh ketulusan.
"Kebahagiaan lo sudah menjadi tanggung jawab gue semenjak kita sahabatan, Bel" Belle tersenyum dan kembali memeluk Felix. "How can I forget you when we were such a magic. Always. Forever"
Felix tertawa gemas. "Ya! don't you ever dare to forget me, remember that!" Belle mengangguk layaknya seorang bayi yang lagi-lagi berakhir dengan tawa garing keduanya.
Saat itu, suara Wilson terdengar dari atas panggung. "Selamat siang semuanya, hari ini gue mau perform diatas panggung ini bukan untuk menang ataupun mendapat hadiah, tapi perform gue hari ini gue khususkan untuk seseorang yang sangat gue cintai, dan gue berharap dia sadar, kalau kisah kami nanti gak akan jadi seperti kisah cinta Romeo Juliet, tapi kisah cinta yang akan berakhir dengan kebahagiaan" Belle tersentak saat mendengar kalimat Romeo dan Juliet tersebut dan spontan langsung menatap Felix. Felix tersenyum lalu menepuk-nepuk punggung belakang Belle. "Ayo, kita semangatin Wilson"

"Lagu ini untuk lo, yang selalu gak percaya dengan cinta yang ada dalam diri kita masing-masing, lo yang selalu memberikan kebahagiaan lo untuk orang lain, sampai-sampai lo sendiri lupa, apakah lo pernah merasakan kebahagiaan itu, satu hal yang paling penting yang gue ingin lo tau, gue cinta sama lo, jauh dari lubuk hati terdalam gue, tulus dan akan selalu" ujar Wilson seusai ia bernyanyi, mata Wilson, mata cowok itu sama sekali tidak pernah terlepas dari Belle sepanjang perform, bahkan sampai sekarang, cowok itu terus menatapnya.
"Belle, sudah waktunya" Belle mematap aneh Felix. "Apanya?"
"Gak bisa selamanya lo terus-terus sembunyin perasaan lo kayak gini Belle"
"Bener kata Felix" Valerie datang mendekat.
"Val!" Belle terkejut dengan kehadiran sahbatnya, berfikir cewek itu akan berlaku sama seperti kejadian sebelumnya.
"Gak Belle, gue udah ngerti, semua yang gue paksakan selama ini, pada akhirnya tetap gak pernah bisa gue milikin dan malah berakhir menyakiti banyak orang, gue gak mau lagi jadi sahabat yang egois, gue gak mau lagi jadi cewek gak punya perasaan yang terus-terusan memakasa orang yang gak cinta sama gue untuk cinta sama gue, gue yakin, cepat atau lambat, gue pasti akan ketemu sama orang yang akan mencintai gue lebih dari dia mencintai diri dia sendiri, dan karena hal itu gue akan luluh"
"Belle, lo juga pantas merasakan kebahagiaan, gendut bukanlah penghalang untuk orang menemukan kebahagiaan mereka, lo boleh gendut, tapi hati lo jauh lebih indah dari mereka yang mempunyai tubuh yang indah, Belle, find your happines, make your dream came true"
Saat itu dari atas panggung Wilson kembali berbicara. "Gue mohon, bagi lo yang gue maksud untuk naik keatas panggung" mata Wilson secara terang-terangan menatap kearah Belle. Cewek itu sama sekali tidak tahu apa yang harus ia perbuat saat ini.
"Belle, ayo" Felix mengandeng tangan cewek itu dan menuntunnya kearah tangga untuk keatas panggung. Tatapan semua orang sudah mulai mengarah kearahanya. Dan saat itu banyak bisikan-bisikan tentang betapa menjijikannya dirinya yang terdengar ditelinga Belle. Cewek itu menghentikan langkahnya tepat saat mulai menaiki satu anak tangga lalu menatap Felix yang berada dibelakangnya. Dan berbalik menatap Wilson yang sudah menunggunya.
"Maaf..." Belle berlari dari sana. Keluar dari kerumunan yang mulai bersorak tanpa tujuan.
"Belle!" Wilson meletakan gitarnya sembarangan diatas panggung dan pergi mengejar cewek itu tapi ditahan Felix ditengah jalan. "Biarin, don't make a drama, kasih dia waktu, jangan lo paksa"
Wilson mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue gak tau kenapa dia kayak gitu Lix, gue mau perbaiki kesalah gue, emang salah ya?"
"Gak salah, tapi hati dia sudah terlalu penuh dengan luka, karena itu susah buat dia untuk membuka hati dia lagi untuk orang yang sama yang melukai hati dia"
"Gue gak bermaksud" Wilson kembali mengusap kasar wajahnya.
"Bermaksud atau gak Wil, tapi hati dia udah terlanjut terluka, this is the karma, dan tanggung jawab lo untuk melaksanakan karma ini"
"Karna luka tercipta dari orang yang dianggap istimewa, itu yang terjadi dengan kalian berdua, gue gak mau ikut campur terlalu dalam, tapi gue janji untuk ngebantu yang terbaik yang gue bisa untuk kalian berdua, but still, everything is in your hand right now"
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗
__ADS_1