30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 16


__ADS_3


"Gak! Lo harus sekolah"


Pagi ini saat hendak menjemput Bele untuk berangkat bersama, Felix didatangkan dengan kabar bahwa cewek itu memutuskan untuk tidak bersekolah yang tanpa harus Felix tanya, ia sudah tau alasan Belle tidak ingin pergi bersekolah.


"Jangan kayak anak kecil Belle, come on"


"Gue gak kayak anak kecil, gue cuma belum tau apa yang harus gue lakuin kalo ketemu mereka berdua nanti"


"Hadapi Belle, jangan malah lo hindari, masa cuma karena ini lo rela gak sekolah"


"Tapi gue gak berani, masalah kemarin bukan cuma tentang mereka berdua tapi juga anak-anak lain, lo pikir aja, gue yang notabenya cuma sahabat lo aja udah dihate seperempat anak Trev, dan masalah kemarin juga sudah cukup jadi alasan untuk semua anak Trev benci sama gue, entah itu cowok yang mikir gue udah nyakitin Val, ataupun cewek yang mikir gue ganjeng padahal muka sama badan gue jelek, gue masih terlalu takut, mental gue belum siap"


Felix menatap cewek yang masih memakai baju tidurnya itu lalu meletakan tangannya tepat diatas pucuk kepala Belle. "Lo punya banyak pangeran disekeliling lo untuk ngelindungi lo, jadi gak usah khawatir tentang lo yang akan dijudge oleh seluruh sekolah, karena gue janji sama lo, siapapun itu yang ngejudge ataupun nyentuh lo, kami berempat gak akan tinggal diam"


Belle menggeleng lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. "Lebih baik lo pergi sekarang daripada nanti lo telat terus kena hukum"


"Belle..."


"Stay safe!" Belle berteriak dari dalam rumahnya, tidak mempedulikan Felix yang terus ingin membujuk cewek itu untuk pergi kesekolah.


•••••


Ketidak hadiran Belle menjadi teka-teki bagi seluruh siswa siswi Trevanor. Banyak dari mereka yang sebenarnya menunggu kehadiran Belle untuk mereka caci maki tapi melihat cewek itu tidak hadir, urung semua niat jahat yang akan mereka lakukan.


Felix yang kala itu baru saja menginjakan kakinya di dalam kelas langsung disambut dengan kehadiran Wilson dan pertanyaan yang siap cowok itu lontarkan.

__ADS_1


"Dimana Belle?" Felix tidak mengidahkan perkataan Wilson dan terus berjalan menuju tempat duduknya.


"Lix!" Wilson menyusul sahabatnya itu, berusaha menepuk pundaknya tapi sudah ditepis terlebih dahulu oleh Felix.


"Refleksi diri dulu baru berani tanya dimana Belle"


"Lix, gue serius"


"Gue juga" Felix hendak pergi dari tempat duduknya saat Wilson tiba-tiba menarik kerah baju cowok itu dan mendorongnya dengan keras kedinding.


"Gue nanya serius!" mata Wilson penuh dengan amarah saat itu. Tapi berbeda dengan Felix yang menatap balik Wilson dengan sangat santai. "So am I"


"Gue tanya sekali lagi dimana Belle?!" nada Wilson terdengar tegas.


"Belle ada ditempat dimana dia gak perlu berhadapan dengan orang kayak lo, dimana dia gak perlu merasakan sakit hati lagi karena lo, dimana hati dia bisa beristirahat dari semua masalah yang sudah lo buat dari awal"


"Gue tau tapi gue gak mau tau"


"Lo!-"


"Sama kayak lo dulu kan? Saat gue bilang untuk gak memulai surat itu, tapi lo gak peduli dengan kata-kata gue dan tetap bertahan dengan keinginan lo. Ini konsekuensi dari keras kepala lo dulu, jadi kenapa sekarang lo malah kayak gini? Bukannya seharusnya lo sudah tau bakal selalu ada konsekuensi dari setiap perbuatan lo?"


Wilson tidak mengatakan apa-apa setelah itu, tapi cowok itu menghantam tangannya sendiri kedinding dan setelah itu pergi membawa tasnya meninggalkan sekolah.


•••••


Motor sport besar Wilson melewati tiap rumah demi rumah di perumahan tersebut hingga berhenti didepan sebuah rumah berpagar hitam. Jarinya berkali-kali memencet bel rumah tersebut tanpa henti hingga sang pemilik rumah muncul.

__ADS_1


Belle yang kala itu melihat keberadaan Wilson didepan rumahnya, menghentikan langkahnya dan berniat untuk kembali masuk kedalam rumah tanpa membukakan pagar untuk cowok itu.


"Belle, please.... Gue mau ngomong sama lo"


Belle menghentikan langkahnya, menarik nafasnya sebelum menjawab cowok tersebut tanpa menatapnya sama sekali. "Apa lagi Wil?"


"Penjelasan, gue mau lo denger penjelasan gue"


"Bukannya kemarin udah cukup? Karena gue udah bilang, kalo lo aja bisa melakukan hal sekejam itu ke cewek yang lo bilang sangat lo cinta, jelas aja suatu saat nanti lo juga bisa nge-"


"Belle" Wilson menghentikan Belle ditengah-tengah perkataannya. "Please... listen to me first"


"Wil, apapun itu yang pengen lo omongin saat ini, gak akan pernah mengubah apapun bagi gue, tapi kalo lo mau, sebelum lo benar-benar menyesal, lebih baik lo perbaiki hubungan lo dengan Val, minta maaf ke dia, dan berjanjilah untuk gak pernah nyakitin dia lagi kayak kemarin"


Saat itu Belle memberikan senyum tipis kearah Wilson sebelum cewek itu benar-benar masuk kedalam rumahnya dan meninggalkan Wilson sendirian disana.


"Belle, gue serius dengan perasaan gue" Wilson terduduk lemas untuk pertama kalinya tepat didepan pagar rumah Belle dan demi Belle. Perasaan yang datang tanpa ia ketahui ini ternyata memberi ia pengertian bahwa seni dari mencintai adalah berani untuk tersakiti. Dan saat ini untuk pertama kalinya, ia merasakan sakitnya patah hati dari seseorang yang pernah ia benci mati-matian, tapi sedang ia cintai hatinya saat ini.


"Tapi kenapa lo malah nolak perasaan yang sudah lo tunggu dari lama ini Belle? Apa yang ada dipikiran lo?"


Disisi lain, Belle juga terduduk tepat dibelakang pintu rumahnya, cewek itu menelungkupkan kepalanya. Menahan tangis yang segera akan membasahi wajahya.


"Ada saat dimana ketika gue sudah menghilang tanpa kabar, itu berarti tugas gue sudah selesai untuk membuat lo tersenyum. Tapi kenapa lo malah nambahin tugas gue Wil? Kenapa ketika gue berharap untuk segera menyelesaikan tugas dan janji gue, kenapa lo selalu datang untuk memberikan tugas yang lebih berat lagi? Kenapa...."


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗

__ADS_1


__ADS_2