
BUG!
BUG!
BUG!
BUG! BUG! BUG!
"LO! YANG NGANCURIN MIMPI GUE! SEMUA INI GAK ADA ARTINYA ASAL LO TAU DIBANDING KELAKUAN B*NGSAT LO ITU!" wajah Jason memerah, cowok itu benar-benar marah saat ini.
"Lo-UHUK!-gak punya hak untuk ngomong kalo-UHUK-itu cuma mimpi lo, karna banyak orang yang juga punya mimpi yang sama kayak lo"
"Ya, lo bener, contohnya lo kan? Yang makek kekuasaan bokap lo untuk ngambil posisi gue semudah itu?"
Cowok yang sudah terkulai lemas dilantai itu terbatuk dengan keras hingga mengeluarkan darah sebelum membalas perkataan Jason. "Anak salah satu keluarga kaya paling terkenal kayak lo bukannya akan mudah untuk ngelakuin hal yang sama kayak gue, atau bahkan lebih?" cowok itu menampilkan smirk nya kearah Jason hingga membuat Jason kembali kalap dan hampir kembali memukulnya lagi andai saja Andrew yang berada dibelakangnya sedari tadi tidak menahan cowok itu. "Udah, dia bisa mati kalau lo lanjutin"
"Gapapa, lanjutin aja, soalnya gue penasaran sama reaksi bokap dia pas tau anaknya mati mengenaskan karena secara gak sadar dia main dengan orang yang salah" Wilson menyaut dari belakang dengan smirk khasnya.
"Apa bedanya gue sama kalian sebenarnya? Kalo kalian aja juga pakek kekuatan bokap nyokap lo untuk ngancurin orang lain" Erick namanya, cowok itu kembali menyaut walau ia tau ia seperti sedang menjobloskan dirinya sendiri untuk masuk kelahar panas.
"LO!-" Felix beranjak dari samping Wilson dan langsung mencengkram baju Erick dan mendorongnya hingga menghantam dinding dengan keras. "Lo udah beneran bosen hidup huh?"
"Gue ngomong bener kan? Kalo gue salah kenapa lo sewot?"
BUG!
"Ngomong lagi ayo" mata Felix berubah menghitam. Cowok itu sudah benar-benar kalap.
Andrew menarik Felix kali ini untuk melepaskan Erick yang sudah terbujur lemah. Saat Felix melepaskan cengkramannya dari baju Erick, cowok itu langsung terduduk dengan nafasnya yang terdengar pendek.
"Drew, bawa pulang mereka berdua, gue yang bakal ngurus nih orang" Wilson beranjak dari tempatnya lalu menepuk pundak Andrew.
Setelah Andrew berhasil membawa kedua temannya yang penuh dengan amarah itu pergi, kini Wilson perlahan mendatangi Erick.
"Gimana? Gue rasa lo gak sebuta itu sih sebenernya untuk gak tau siapa Jason" Wilson mengeluarkan tangannya yang sedari tadi berada didalam kantungnya. "Padahal udah lama banget semenjak Jason gak punya masalah, eh lo dateng ngebangunin singa tidur" Erick tidak menjawab melainkan membuang wajahya dari Wilson.
"Songong ya lo, padahal nafas udah pendek" Wilson berdecih lalu mendekatkan wajahnya kearah Erick. "Lari sekarang, sebelum gue kalap dan lo gak akan pernah ngerasain bernafas lagi" Wilson menendang tubuh Erick dengan keras sebelum cowok itu berlari meninggalkan Wilson dengan tertatih.
"Well... let see what we can do with you family business" Wilson menampilkan smirk khasnya sembari menatap kepergian Erick.
•••••
"Belle, open the door, come on, we need to talk" saat itu pintu putih tersebut perlahan terbuka dan menampilkan wajah datar seorang cewek dibaliknya.
Melihat Belle dibalik pintu tersebut, Valerie menghela dengan lega lalu perlahan masuk kedalam kamar tersebut.
Belle tidak mengatakan apa-apa kala itu. Cewek itu hanya diam begitu juga dengan Valerie, yang sama sekali sekali tidak mengatakan apapun sejak masuk kedalam kamar Belle 10 menit yang lalu.
"Gimana bisa kejadian kemarin terjadi?" Belle akhirnya membuka mulut. Hal yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh Valerie.
"Bisa, karena perasaan yang lo pikir akan terus sama, nyatanya gak seperti itu, gue sama Wilson emang pernah saling mencintai, gue juga pernah berbuat naif saat tau Wilson udah gak cinta lagi sama gue, tapi akhir-akhir ini gue mulai berfikir kalau gue seharusnya memastikan lagi, apakah mencintai dan memiliki Wilson hanya sekedar obsesi belaka" Valerie tersenyum menatap Belle.
"Dan apa jawabannya?"
"Ya, obsesi"
"Kenapa?"
"Karena awalnya yang gue tau dia adalah cassanova sekolah dan dari awal gue terlalu senang pas gue tahu gue dicintai balik oleh cassanova sekolah itu, sampai-sampai gue buta dan gak bisa bedain lagi yang mana cinta dan yang mana obsesi"
Belle menatap wajah sahabat didepannya. Mencari kebenaran maupun kebohongan dimata cewek tersebut, dan akhirnya yang ia dapatkan adalah sebuah kebenaran.
"Lo paling tau ya kalau mata gue yang paling gak bisa bohong" Valerie terkekeh dan sedetik kemudian meraih tangan Belle. "Untuk lo" sebuah liontin terpapar indah dipucuk telapak tangan Belle.
"Ini...?"
"Gue udah kasih yang sama juga ke Wilson kemarin"
"Tapi-"
__ADS_1
"Belle, sudah terlalu banyak dan sering lo berkorban, sudah saatnya lo meraih kebahagiaan lo sendiri"
Belle tersenyum senduh sembari menatap liontin yang berada ditelapak tangannya. "Menurut lo, semuanya akan berjalan sesuai mimpi gue?" Belle menatap Valerie.
"Pasti Belle, karena memang sudah waktunya bagi mimpi lo untuk terwujud"
•••••
"Wilson!"
"Wilson!"
"Wilson! Tolong buka! Gue harus ngomong sama lo!"
Pintu mewah itu perlahan terbuka dan menampakan seorang wanita paruh baya dengan apron yang terpasang ditubuhnya. "Ada apa ya nak?"
Dengan nafas tersenggal Belle menjawab. "Wilsonnya ada?"
"Tuan Wilson sedang tidak dirumah, kalau boleh tau dengan siapa ya? Mungkin nanti bisa disampaikan"
Belle tidak menjawab. Harapannya pupus saat mengetahui Wilson yang tidak berada dirumahnya. Entah mengapa perasaanya seakan tidak tenang mengetahui cowok itu sedang tidak berada dirumahnya.
"Nak?" panggil ART rumah Wilson. Belle menoleh lalu tersenyum. "Gapapa bi, saya pulang dulu ya"
Saat Belle akan melangkahkan kakinya, ART tersebut kembali memanggil Belle. "Nak, boleh tau namanya siapa?"
Belle menoleh dan lantas tersenyum senduh. "Belle, nama saya Annabelle"
•••••
"Wilson pulang!" seruan itu membuat salah satu ART yang sedang bekerja menghampiri cowok itu.
"Mama sama papa mana?" tanyanya sembari menyerahkan jaketnya kepada salah satu ART.
"Nyonya dan tuan besar sedang diruang keluarga"
"Haduh, jangan dipanggil nyonya dan tuan besar dong mama papa, geli Wilson dengernya" Wilson menggerakan lehernya dengan geli sembari berjalan kearah kedua orang tuanya yang telah memperhatikan tingkah laku cowok itu sedari tadi.
"Dasar kamu ya, iri ya kamu mama sama papa dipanggil tuan dan nyonya" mama Wilson menepuk lengan cowok itu.
"Merendah untuk meninggi dia mah, ma" ejek papanya sembari merangkul sang istri yang dudik disebelahnya
"Idih, bucin" ejek Wilson dengan jebilannya.
"Jomblo gak boleh iri, udah" balas papanya yang semakin membuat Wilson kesal.
"Bi, coklat panas Wilson mana?" teriak cowok itu sebagai pengalihan atas kekalahannya.
"Kamu preman diluar tapi didalem rumah masih kayak anak bayi"
"Gapapa dong, daripada penakut diluar tapi pemberani didalam rumah, emang mama papa mau Wilson jadi pembangkang?"
"Kalau kamu mau ya gapapa, tinggal dicoret dari KK aja palingan"
"Sumpah, sadis amat jadi ortu" Wilson menampilkan wajah kesalnya yang malah terkesan imut bagi orang tuanya.
"Oh iya, tadi Bi Rani bilang ada yang nyariin kamu tadi siang, cewek, kalau gak salah namanya...hm...lupa ah, kamu tanya Bi Rani aja nanti pas dia nganterin coklat panas kamu" Wilson bersikap tidak acuh dan memilih menonton TV didepannya, karena merasakan ketidak seriusan dalam suara mamanya.
"Diajak ngomong malah dicuekin, dasar anak durhaka, entar mama kutuk kamu jadi pisang, mau kamu?" Wilson memutar bola matanya jenuh lalu kemudian mendekati sang mama dan memeluknya. "Pa, aku rasa udah saatnya kita masukin mama ke rumah sakit jiwa" Wilson menatap mamanya dengan wajah iba sehingga membuat cowok itu mendapat pukulan di lengannya secara bertubi-tubi.
"Sakit atuh ma!" teriakan Wilson mengema di ruamahnya.
"Mangkanya, masa mama sendiri mau dimasukin ruma sakit jiwa"
Papanya yang sedari tadi hanya menonton tingkah keduanya tertawa tanpa henti melihat kelakuan istri serta anak satu-satunya itu. "Papa jadi ngerasa punya 2 anak TK ini"
"Enak aja Wilson udah besar ya, itu mama, lulus TK aja gak mungkin"
"Heh sembarangan kamu, kalaupun memang mama gak lulus TK, yang penting udah punya suami, lah kamu? Ganteng-ganteng, keren-keren, masih aja jomblo"
Wilson bersungut mendengar ejekan mamanya lalu melempar tubuhnya diatas sofa depan kedua orang tuanya. "Wilson udah terlanjur buat dia kecewa" cowok itu menghela nafasnya. Suasa diruang keluarga itu berubah seketika.
__ADS_1
Mama dan papanya saling menatap satu sama lain kala mendengar perkataan Wilson. "Siapa emangnya?" tanya sang papa dengan lembut.
Wilson tidak menjawab. Cowok itu memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan sang papa.
Saat itu, Bi Rani dengan perlahan datang sembari membawa secangkir coklat panas kesukaan Wilson. Tubuh renta Bi Rani membuatnya tidak dapat berjalan secara cepat lagi.
"Wilson, ini minumnya" Bi Rani meletakan coklat panas tersebut diatas meja dan hendak meninggalkan ruang tersebut saat ia teringat tentang cewek yang datang siang tadi.
"Wilson"
"Ya, bi?"
"Tadi siang ada yang nyari kamu nak, cewek"
"Siapa? bibi ada tanya namanya?"
"Ada, kalau gak salah namanya Annabelle" ucapan yang keluar dari mulut Bi Rani berhasil membuat cowok itu terkejut dan langsung menghentakan tubuhnya untuk berdiri dari tidurnya. "Siapa bi?"
"'Belle, nama saya Annabelle' gitu kata nya"
Dan tanpa aba-aba lagi, Wilson langsung mengambil jaket serta kunci mobilnya dan berlari meninggalkan rumah.
"Wilson, kamu mau kemana?" teriak sang mama.
"Mau ngelepas status jomblo" balas cowok itu sembari memakai jaketnya.
Dan saat hendak keluar dari rumahnya, cowok itu menoleh kearah kedua orang tuanya untuk sesaat. "Belle, nama dia Annabelle, pa, ma" Wilson tersenyum.
•••••
Motor Wilson melaju menerobos kemacetan yang terjadi akibat demo. Tanpa rasa takut, cowok itu membawa motornya menerobos satu persatu para pendemo dengan mengumamkan satu nama yang sama terus menerus tanpa henti. Belle.
Saat hendak memasuki komplek perumahan Belle, cowok itu mendapati siluet seorang perempuan ditaman komplek tersebut. Wilson menghentikan motornya dan langsung turun dari motornya, mengikuti instingnya, dan benar saja, ia mendapati Belle sedang duduk sembari memejamkan matanya dengan kedua telinga yang ia sumbat dengan headsetnya.
Wilson tersenyum dan dalam diam ikut duduk disebelahnya juga menutup matanya. Dalam hening keduanya saling menikmati senja sore itu. Dan perlahan tapi pasti, Wilson menarik salah satu headset dari telinga Belle yang membuat cewek itu reflek membuka matanya dan menatap kearah Wilson yang masih memejamkan matanya.
"Wilson..." Belle menatap cowok itu dengan syok.
"Hm?"
"Kenapa disini?"
"Kenapa dateng kerumah tadi siang?" mendengar pertanyaan Wilson, Belle terdiam, tidak menjawab.
Wilson membuka matanya dan tersenyum menatap Belle. "Ada banyak alasan buat lo untuk pergi, tapi lo tetap memilih untuk gak Bel, gue gak tau apa yang buat lo rela tersakiti segini lamanya, tapi karena itu gue janji sama lo, apapun yang terjadi, start from now on, gue gak akan biarin lo terluka maupun berjuang lagi"
"Kasih gue kesempatan, dan gue gak mewujudkan mimpi lo, semuanya akan gue wujudin secara perlahan dan bersama, let's do it together Belle" Wilson tersenyum lembut kearah cewek itu.
Belle menghela nafasnya. "Gue gak tau apa gue cocok untuk lo atau gak, banyak cewek diluar sana yang jauh dan jauh lebih baik dari gue, karena kita gak pernah tau apa gue cuma cewek yang tanpa sengaja cuma numpang lewat dalam kehidupan lo"
"Akan selalu ada yang lebih dan lebih baik Belle, tapi yang dicari adalah kenyaman, apa dengan yang jauh lebih baik itu, gue bisa mendapatkan kenyaman yang sama ketika gue sama lo"
"Persis kayak novel" Belle tertawa kecil.
"Yes, I'm that story boy, dan lo beruntung karena lo bisa ngerasain rasa yang sama kayak cewek yang ada didalam novel itu" Wilson meraih tangan Belle dan menunjukan sebuh kalung tanpa liontin kepada cewek itu. "I bet you've already got that pendant from Val, right?" Belle megangguk dan mengeluarkan liontin yang diserahkan oleh Valerie tadi siang. Wilson meraih liontin tersebut dan memasangnya kedalam kalung yang telah ia beli.
"Can I?" tanya Wilson saat hendak memasang kalung tersebut kepada Belle. Dan dalam diam Belle menganggukan kepalanya sehinga menampilkan senyum dibibir Wilson.
"Cantik" Wilson tersenyum kala selesai memasang kalung tersebut dileher Belle. Cowok itu pun menyerahkan kalung milikmya kearah Belle. "Will you?" Belle meraih kalung tersebut dan memasangnya juga dileher Wilson.
"Makasih udah ngasih kesempatan ini Belle" Wilson tersenyum sembari meraih kedua tangan Belle.
Belle tertawa. "Jangan melow dong"
"Kok gitu? Aku lagi seneng ini"
"Aku?" wajah Belle memerah.
"Iya dong" Wilson mencubit pipi cewek itu dengan gemas. "Kan kamu pacar aku"
Dan Wilson telah berhasil membuat wajah Belle 100% mirip kepiting rebus sore itu. Cowok itu tertawa dan mengusap pipi Belle dengan telapak tangannya. "Makasih udah percaya tentang adanya pelangi setelah hujan, karena dengan itu kamu juga percaya ada kebahagiaan setelah perjuangan"
__ADS_1
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗