30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 20


__ADS_3


Dan benar saja sesuai dugaan Belle selama berhari-hari kemarin, karena kata-kata yang dilontarkan Belle kepada Wilson 3 hari lalu, hari ini cowok tersebut benar-benar tidak menghiraukannya sama sekali.


Ada perasaan lega, apalagi saat mendengar dari banyak pihak bahwa Wilson sudah meminta maaf dan berbaikan dengan Valerie. Tapi entah mengapa, hatinya terasa berat saat melihat cowok tersebut mengabaikannya sepanjang hari, dan balik kesosok yang dingin, cuek, dan enggan berbicara dengannya. Seperti ia sudah terbiasa dengan Wilson yang kemarin seolah-olah terus mengejarnya.


Tapi tetap saja, saat melihat senyum Valerie yang sudah lama ini tidak muncul membuat Belle benar-benar merasa lega. Karena sekali lagi, biar dia harus menanggung rasa sakit asalkan dia bisa melihat salah satu orang yang paling ia sayang tersenyum dengan bahagia.


"Belle"


"Belle"


"Hey embul" Felix memanggil Belle yang melamun dipinggir lapangan bola basket sembari menunggu cowok itu selesai dengan ekskul nya.


Belle terhentak dan langsung memeluk leher Felix. "Kejut gue Lix" cewek itu menenggelamkan wajahnya ditengkuk leher Felix.


"Lo sih, ngelamunin apa aja dari tadi sampe gue panggil gak nyaut-nyaut?" Felix mengelus rambut cewek itu. "Ayo"


"Kemana?" tanya Belle sembari menyerahkam minum kearah Felix.


"Emang gak mau pulang?" Belle hanya mengangguk lalu mulai membantu Felix membereskan barang cowok itu.


"Laper gak? Mau makan dulu?" Felix duduk disamping Belle sembari bertos ria dengan teman-teman sepermainannya yang akan pulang terlebih dahulu.


"Gue gak, tapi kalo lo mau makan, ayo aja"


"Gak, gue juga lagi males kemana-kemana, capek" Belle mengangguk mengerti lalu berdiri dari duduknya, bermaksud untuk langsung mengajak Felix pulang tapi keberadaan seseorang membuat cewek itu langsung menghentikan segala kegiatannya dan tidak berkutik sama sekali.


"Lix, cafe Andrew dulu?" ya, itu Wilson. Cowok itu sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Belle yang berada disamping Felix.


"Gak dulu, lagi capek gue" Wilson hanya mengangguk lalu menoleh kearah Belle sejenak. Mata cowok itu tajam, seolah penuh dengan rasa benci. Belle seketika itu langsung menunduk untuk menghindari tatapan Wilson.


"Gue pergi dulu" Wilson menepuk sejenak pundak Felix dan berlalu begitu saja.


Felix menyadari tentang Wilson yang seolah-olah benar-benar menjauhi Belle. Karena ketika biasanya cowok itu terus saja membicarakan betapa bodohnya dia untuk tidak pernah menyadari bahwa dia mencintai Belle, hari ini bahkan tidak pernah sekalipun nama Belle keluar dari mulut Wilson.

__ADS_1


Terkadang Felix sendiri berfikir. Bagaimana bisa ada cowok seperti Wilson yang sangat baperan dan labil itu. Entahlah, karena itu bahasa kasarnya. Intinya, Felix saat ini berada ditahap ingin membuat keduanya merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dulu.


"Ayo Belle, pulang" Felix mengendong tasnya lalu menarik pelan tangan cewek itu untuk mengikutinya.


•••••


Felix tidak langsung mengantar Belle kerumahnya ketika mereka sudah memasuki komplek perumahan cewek itu, melainkan menurunkannya ditaman komplek rumah Belle, tempat dimana mereka sering bertemu selain sekolah.


"Tunggu disini, 5 menit aja, jangan kemana-kemana" Felix masih berada diatas motornya.


"Ehh, mau kemana?"


"Bentar aja, gue mau ngambil sesuatu"


Bele sempat terdiam sesaat sebelum menatap Felix dengan pipinya yang ia kembungkan. "Awas lama!"


"Iya, bayi" ujar Felix dengan gemas dan langsung melesat pergi bersama deruman motornya yang meninggalkan taman tersebut.


Belle menunggu disana walau sebenarnya pikirannya berlalu lalang kesana kemari dan tidak berada ditempatnya.


Wajah yang terus muncul di hari-harinya, baik dimimpi maupun dunia nyata, wajah yang terlihat seolah sangat dekat, namun ternyata sangat jauh sampai dia bahkan gak pernah bisa menyentuhnya. Dan akhirnya yang bisa Belle lakukan cuma menikmati cahayanya dalam keheningan, dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalo cowok itu nyata.


"Belle" Felix sudah kembali. Bahkan tanpa Belle sadari, padahal ia merasa baru beberapa detik sejak Felix pergi.


Dan kala itu tanpa aba-aba atau satupun kata yang keluar dari mulut cowok itu sebelumnya, tiba-tiba saja suara Felix terdengar. Felix bernyanyi. Dengan iringan gitar yang baru saja Belle sadari kehadirannya.


Kau tak selamanya tangisi kepedihanmu


Felix menatap Belle dengan lembut sembari mulutnya melanjutkan menyanyikan lagu tersebut.


Hingga kau harus lewati semua waktumu


Terdiam meratapi kepedihanmu


Selalu ku temui wajahmu yang tak bersinar

__ADS_1


Seolah kau tak mampu hidup kembali


Cobalah kau lawan rasa itu


Lepaskan saja bila kau tak bisa bertahan


Ku yakin mampu kau cari kekasih sejatimu


Dia bukan satu-satunya yang ada di dunia


Dan kala itu dengan tetes air mata yang mulai membasahi wajahnya, Belle juga ikut bernyanyi dengan senyum yang terukir di bibirnya.


Ku yakin kau bisa hidup


Bisa hidup


Hidup bahagia tanpa dirinya


Seusai itu, Felix langsung meletakan gitarnya dan memeluk Belle dengan lembut.


"Belle kalau orang bilang dalam persahabatan itu pasti akan tumbuh benih cinta, mereka benar"


Belle sedikit terkejut dan berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Felix namun ditahan cowok itu.


"Gue cinta sama lo, sampai-sampai gue baru sadar kalo cinta gue ke lo adalah cinta seorang kakak kepada adiknya yang gak bisa ngelihat saudaranya disakiti cowok lain"


"Belle"


"...ya?"


"Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang akan terus memilih lo dalam kondisi apapun. Dia akan melihat segala kekurangan lo, dia akan mengetahui segala rahasia dan masa lalu buruk lo, dia akan menemukan semua bagian retak dalam hati lo. Dan untuk pertama kalinya, lo akan terkejut, karena dia memilih untuk tinggal"


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗

__ADS_1


__ADS_2