30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 30


__ADS_3


Bergelut dengan dirinya sendiri selama berhari-hari membuat Belle bangun dengan mata pandanya yang sangat besar. Cewek itu terlentang begitu saja diatas kasurnya masih dengan rambut yang lembab sembari menghela nafas lelahnya. Terlalu banyak yang memenuhi pikirannya saat ini dan ia sadar kalau dirinya sendiri tetap tidak segera mengambil keputusan, maka semua permasalahan ini tidak akan ada habisnya. Karena itu, semalam cewek itu akhirnya menentukan keputusan terakhirnya. Tentu saja setiap keputusan pasti ada konsekuensinya tersendiri, dan oleh karena itu dengan keputusan yang diambilnya, Belle akan siap menerima segala konsekuensi tersebut.


Belle berdiri dari posisinya dan segera mengambil ponsel yang ia letakan diatas nakas. Cewek itu membuka aplikasi bergambar telphone dan menekan nama teratas di history telphone nya. Hanya dalam beberapa detik, dan telphone tersebut langsung tersambung.


Suara seorang laki-laki menyambutnya dengan hangat disebrang sana. Suara yang sangat dicintainya. "Halo? Bisa jemput?"


•••••


Kemacetan lalu lintas pagi itu menjadi teman bisu kedua insan tersebut. Ingin sekali rasanya bagi Wilson untuk memeluk tubuh cewek disampingnya itu, tapi ia sadar untuk saat ini ia tidak memiliki wewenang itu, walaupun saat ini Belle adalah pacarnya sendiri.


"Wil" kala itu Belle akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka. Cowok itu menoleh, mendapati wajah cewek yang sangat dicintainya sedang tersenyum kala itu. "How's your day? Good?" seolah telah sangat lama tidak bertemu, Belle menanyakan hal yang benar-benar membuat cowok disebelahnya itu kebingungan.


Wilson menghela nafasnya dengan berat setelah diam untuk beberapa saat karena pertanyaan yang dilontarkan Belle. Cowok itu lalu memilih untuk menghentikan mobilnya dipinggiran jalan yang sepi pengendara. "Belle, kita pacaran, aku mohon kalau kamu ada masalah atau apa, kita bicaraiin, tolong jangan kaya gini, jangan buat aku bingung" ujar Wilson to the point.

__ADS_1


"I'm not, Wil"


"'I'm not' gimana Belle? Jelas-jelas kamu ngejauhin aku, Belle hubungan kita bahkan belum nyampe seminggu, but why? Apa yang salah dari hubungan yang baru seumur jagung ini? Atau ternyata apa yang selama ini kamu harapkan dari aku ternyata sebenarnya gak aku miliki? Right?" saat itu Belle dapat merasakan rasa sakit dari suara Wilson yang membuat cewek itu juga ikut merasakan sakitnya.


"Bukan gitu Wil..." Belle menghela nafasnya lalu memegang lembut tangan Wilson. "Ayo kita bicarain baik-baik oke?"


Wilson mendengus kesal namun sepersekian detiknya lagi, cowok itu langsung melemah dan mengengam erat jari jemari Belle. "Tolong Belle, tolong jangan pernah ninggalin aku" ujarnya dengan tatapan senduh.


Belle terdiam ditempatnya tanpa mengatakan apapun. Cewek itu menatap balik mata senduh Wilson dan langsung memeluknya erat. "Jangan gini Wil, tolong..."


"Pakek nanya lagi"


Belle terkekeh melihat respon Wilson. Lalu tiba-tiba saja sebuah kecupan lembut mendarat dipipi Wilson. Cowok itu tersentak kaget dan spontan menatap Belle yang balas menatapnya dengan senyuman tanpa dosa.


"Mau say thanks gak nih abis dikasih ciuman?" canda Belle yang berhasil menimbulkan rona merah dikedua pipi Wilson. Ya, sangat jarang bukan?

__ADS_1


Namun Wilson malah kembali membenamkan wajahnya dipundak Belle. "Kamu mau ngomong apa?"


"Ngomong apa?"


"Kamu... mau ngomongin tentang hubungan kita kan?"


Belle tersenyum lalu menggeleng. "Gak kok, gak ada yang harus diomongin kan?" Wilson diam, tidak memberikan reaksi apapun.


"Aku udah denger semuanya dari Felix, he told me everything...." Wilson tiba-tiba angkat bicara.


"Then?"


Cowok itu akhirnya mengangkat kepalanya lalu menatap dalam mata Belle. "Told me everything, let us be honest to each other now and either we'll start or end everything"


#?#?#?

__ADS_1


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗


__ADS_2