30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 13


__ADS_3


"Saya tutup pelajaran hari ini, ingat tugas dikumpul besok sebelum jam masuk sekolah"


Tidak ada yang menghiraukan perkataan guru tersebut, hampir semua murid berhamburan keluar kelas terkecuali beberapa mulai teladan yang masih sibuk mencatat materi yang masih tertera di papan tulis.


"Belle, besok tolong kamu yang kumpulin bukunya dan antar ke meja saya ya"


"Baik, pak" guru tersebut mengangguk sebagai ucapan terimakasih lalu berlalu meninggalkan kelas yang hanya menyisakan beberapa murid saja.


"Val, masih diet?"


"Gak lagi, gagal sudah diet yang awalnya udah gue rencanain 3 bulan eh jadi-jadi juga cuma 3 minggu" Belle terkekeh lantas mengandeng lengan cewek itu. "Ayok kantin, Belle yang imut ini bakal traktir lo makan bakso"


"Jijik ish Belle"


"Biarin, sirik aja lo" Belle menjebil dan mambuat cewek itu dihadiahi sebuah toyoran dari Valerie.


"Kamu kasar, Belle gak suka ya"


"Kamu alay, Val gak suka"


"Kita sama-sama alay, berarti kita saling suka"


"Gak mau, lo aja yang alay, gue skip"


"Ish, penghianat"


"Penghianat apanya heh?"


"Penghianat aja pokoknya, kan kalo temen itu kalo yang satu gila semuanya juga harus gila, yakan?


"Apasih Belle, lo beneran udah gila ya?"


"Engak sih, lagi laper lebih tepatnya" Belle menghentakan bokongnya disalah satu kursi kosong yang masih tersedia dikantin tersebut. "Mau makan apa?" Belle melihat sekeliling kantin, mencari makanan yang mungkin saja ingin cewek itu makan.


"Kata lo mau traktir gue bakso tadi"


"Basa basi doang Val, masa lo gak ngerti gue sih"


"Ishh, pendusta lo"


"Astaga, mulutnya kelewatan"


Valerie tidak menanggapi perkataan Belle, bersikap seolah dia ngambek terhadap sahabatnya itu.


"Yaudah, bakso iya, elah ngambek mulu ni anak" Belle menamplok pelan wajah Valerie sembari cewek itu meninggalkan kursinya untuk memesan bakso.


"Makasih orang alay" tawa Valerie setelah Belle berlalu untuk membeli bakso. Walau begitu, cewek itu tetap mendapat tatapan tajam Belle.


"Bu, bakso telornya satu, bakso dagingnya satu ya"


"Iya, tunggu sebentar ya"


Belle bersenandung sembari menunggu pesanannya datang, saat seseorang tiba-tiba menepuk pundak kirinya. Belle menoleh tapi tidak lantas menepukan siapapun. Lalu pundak kanannya juga ditepuk seseorang. Lagi-lagi Belle menoleh kearah kanan tapi lagi-lagi juga tidak menemukan seseorang disana.


"Cie nyariin" wajah Felix muncul tiba-tiba saat itu dari belakangnya dan reflek Belle langsung memukul cowok itu. "Felix!"


"Takut ya" tawa Felix yang melihat wajah kesal serta takut Belle.


"Iyalah, udah mikir yang aneh-aneh gue asal lo tau aja" lagi-lagi Felix tertawa sembari mengelus puncak kepala cewek itu. "Felix!"

__ADS_1


"Apa Belle?"


"Jangan buat gue diserang fans lo cuma karena lo iseng"


"Tenang, gue serang balik" Belle hanya memoncongkan bibirnya kesal kearah cowok itu.


"Nih dek baksonya" ibu penjual bakso tersebut menyerahkan dua mangkuk bakso sekaligus kearah Belle.


"Sini gue bantu" Felix mengambil kedua mangkok tersebut selagi Belle membayar ke ibu-ibu penjualnya.


"Lo makan dua-duanya Belle?" Felix menatap mangkok bakso yang berada ditangannya karena Belle telah mengambil alih salah satunya.


"Ya gaklah, yang daging punya gue, yang telor punya Val"


"Oalah, ada Valerie? Gue pikir lo sendirian"


"Mentang gue gendut jadi lo pikir gue kuat makan dua mangkok bakso sekaligus kayak gini?"


"Ya gak Belle, jangan suuzon terus dong sama temen lo yang ganteng ini"


"Ganteng apanya?" cerocos Valerie karena keduanya sudah sampai dimeja tempat Valerie menunggu.


"Muka gue lah, masa e*k gue" Felix duduk disamping Belle sambil meletakan bakso milik cewek itu juga mengambilkan sendok untuknya.


"Tolong kata-katanya dijaga ya, gue mau makan" Valerie menyendok cabe dengan ganas sembari menatap tajam Felix.


"Kenapa lo? Gila ya karna Wilson gak nyamperin?"


"Belle tolong dibekep mulut temen lo" Belle tertawa melihat pertengkaran kedua orang tersebut.


"Belle, makan cabe jangan banyak-banyak" Felix menghentikan tangan cewek itu saat melihatnya akan memasukan cabe kesekian kalinya kedalam mangkoknya yang sudah dipenuhi dengan cabe.


"Terakhir, seriusan" Felix menggeleng lalu merebut wadah berisi cabe dan menyimpannya disampingnya.


"Apa? Mencret ****** lo" Belle tidak menjawab lagi dan dengan kesal langsung menyuapkan bakso kedalam mulutnya.


Dan begitulah bagaimana Felix diacuhkan oleh kedua cewek yang sedang duduk bersamanya itu.


Wilson Kyle: Dimana lo? Ngeliat si Belle gak?


Felix menerima pesan dari Wilson dan sesegera mungkin langsung membalas pesan cowok tersebut.


Felix G: Kantin, lagi bareng gue, ada gebetan lo juga nih


Wilson Kyle: Gue kesana


Dan hanya selang beberapa menit sampai Wilson benar-benar muncul dihadapan ketiga orang tersebut. Wilson menepuk pundak Felix sebagai salam dan dibalas cowok tersebut dengan anggukan.


"Val" Valerie dan Belle yang awalnya tidak menyadari tentang keberadaan Wilson, langsung menoleh kearah cowok itu.


"Wil, kok bisa disini?" Valerie menatap cowok itu dengan mata berbinar.


"Bisa dong, gak liat ada detective conan didepan lo?" canda Wilson dan begitu saja langsung duduk disebelah Valerie yang otomatis berada dihadapan Belle.


Belle meletak sendok serta garpu miliknya, lalu segera berdiri dari duduknya. "Hei, mau kemana lo?" Felix menahan Belle yang akan segera pergi.


"Kelas"


"Makannya dihabisin dulu"


"Udah kenyang, Felix"

__ADS_1


"Astaga, itu masih banyak"


"Gapapa daripada nanti muntah kekenyangan yakan? Udah ah, gue kekelas dulu Val, ntar lo nyusul aja ya"


"Sip" Valerie menunjukan jari jempolnya sebagai tanda setuju. Dan begitu saja Belle berlalu dari sana.


Dalam diam Wilson menatap Belle yang berlalu. Lalu juga ikut berdiri beberap detik kemudian. "Wilson, mau kemana?"


Wilson tersenyum menatap Valerie. "Trust me, you're gonna be happy for it" menyadari maksud Wilson, cewek itu mengangguk dengan senang dan membiarkannya pergi begitu saja menyusul Belle.


Diam dan pasti. Felix tersenyum kala itu karena dia mengerti hal yang bahkan orangnya sendiri tidak mengerti.


•••••


10 menit sudah Wilson berkeliling sekolah mencari keberadaan Belle tapi tak kunjung cowok itu temukan. Juga chat yang dikirimnya sertas telephone tidak ada yang dibalas dan diangkat satupun olehnya.


Dengan harapan terakhir Wilson berjalan menuju tempat terakhir yang belum ia kunjungi untuk mencari Belle. Perpustakaan.


Perpustakaan saat itu sedang cukup ramai tapi tetap saja sangat sunyi. Hanya ada suara berbagai kertas yang sibuk dibolak balik oleh pemiliknya.


Langkah kaki Wilson menuntun cowok itu menuju tempat dimana beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan Belle. Dan benar saja, cewek itu berada disana, duduk manis dengan novel yang sama ditangannya.


"Belle"


Tidak ada jawaban.


"Woi Belle"


Masih tidak ada jawaban.


"Woi budek ya lo?!" Wilson sedikit berteriak saat itu yang membuatnya mendapat teguran dari Bu Cecil. "Wilson, jangan buat keributan di perpustakaan"


Kali ini Wilson duduk dihadapan cewek itu. "Lo gak lupa kan sama tugas lo?" Wilson berbicara dengan geram.


Saat itu Belle akhirnya mengangkat kepalanya dan mengambil surat yang berada ditangan Wilson dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepata kata apapun.


Begitu Belle melangkahkan kakinya menjauh, rasa frustasi menghantui Wilson saat itu juga. Ada yang aneh dengan cewek itu. Belle memang jarang menjawab pertanyaannya, namun tidak dengan mendiamkan atau bahlan menghiraukannya seperti ini.


Dan bayangkan tentang bagaimana keduanya bertengkar kemarin didepan rumah cewek itu menyadarkan Wilson. Dan saat itu juga rasa bersalah langsung menghantui cowok itu begitu saja tanpa ia sendiri sadari. "Bodoamat emang siapa dia!"


"Wilson!"


"Iya Bu!!""


Wilson keluar dari perpustakaan dengan kesal dan rambut yang barusan ia acak-acak karena kekesalannya.


•••••


"Val, surat hari ini" Belle menyerahkan surat pemberian dari Wilson sesaat setelah cewek itu sampai dikelasnya.


"Thankyou" Valerie tersenyum dengan senang dan langsung menyimpan suratnya kedalam tasnya.


"Tumben gak langsung dibaca?"


"Lebih enak dibaca di rumah, lebih menghayati" Valerie terkekeh sedangkan Belle membalasnya dengan senyum tipis.


Diam sempat meliputi kedua cewek itu, saat Belle mulai bertanya kepada sahabatnya itu. "Val, Have I fulfill my duty?"


"Hah? What duty you're talking about?"


Belle menggeleng pelan dan tersenyum. "No, Just stay happy, it's enough"

__ADS_1


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗


__ADS_2