
Sejak pagi, Belle dan Valerie telah menghabiskan waktu mereka bersama. Hari Sabtu memang menjadi hari merdekanya para murid SMA Trevanor yang menerapkan sistem full day school sehingga pada hari Sabtu para murid mendapatkan hari libur.
"Gila Alladin bagus banget" ujar Valerie dengan semangat setelah keluar dari salah satu cinema theater.
"Kapan coba gue bisa jadi Jasmine?" lanjut nya.
"Kapan-kapan" satu tabokan keras mendarat dilengan Belle. "Kalo ngomong emang pedes banget ya" Belle terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya itu.
"Beli eskrim ayo" ajak Belle.
"Es terosss"
Belle tertawa melihat Valerie yang menirukan salah satu meme yang pernah dikirimnya.
"Udah ayo"
Saat di salah satu stan eskrim, keduanya duduk santai sembari mengobrol. Belle dengan eskrim vanillanya dan Valerie dengan eskrim coklatnya.
"Jalan cerita princess disney mana aja yang gak lo tau?" tanya Valerie.
Belle berfikir sejenak. "Itu ada, yang dihutan-hutan, apa sih namanya, ohhh-bukan, itu mah kan yang kodok-kodok, tapi ada yang lain, yang mana ya?"
Valerie juga ikut serius berfikir. "Yang hutan-hutan emang ada tapi lupa gue..."
"Ohh tau-tau, pochantos?"
"Gotcha, gue juga gak tau princess yang satu itu tentang apa"
"Kalo mulan lo-" belom selesai berbica, telepon yang berada di saku celana Belle bergetar. Cewek itu melihat nama penelfon dan langsung mematikannya.
"Siapa?" tanya Valerie yang melihat Belle tengah gugup. Belle hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Jari cewek itu sibuk mengetik diponsel rosegold miliknya tersebut.
Wilson Kyle: Kirimin alamat lo cepet. Gue g*send suratnya.
Wilson Kyle: Woi
Wilson Kyle: WOI
Wilson Kyle: WOIIIIII
Wilson Kyle: WOIIIII JAWAB!!!!
Annabelle.C: Jangan g*send
Annabelle.C: Gue lagi gak dirumah
Wilson Kyle: Ya jadi gimana bodoh!?
Wilson Kyle: Lagian lo dimana sih, heran gue sok-sokan pergi kayak ada aja cowok yang mau pergi bareng lo
Belle menghela nafasnya. Kenapa cowok itu tidak bisa berhenti menghinanya. Bahkan ketika dia sedang ingin meminta tolong.
Annabelle.C: Lagi di mall bareng Valerie
Wilson Kyle: Serius?
Annabelle.C: Iya
Tidak ada jawab untuk beberapa saat yang membuat Belle memutuskan menyimpan ponselnya. Tapi belum sempat ia memasukan ponselnya kembali. Wilson kembali mengirimkannya sebuah pesan.
Wilson Kyle: Gue kesana sekarang. Tunggu disana dan jangan pergi kemana-mana
Tentu saja Belle sangat terkejut dengan chat terakhir yang dikirim oleh Wilson. Cowok itu benar-benar sangat tidak terduga.
Valerie yang sedari tadi memperhatikan Belle, akhirnya memilih bertanya saat melihat ekspresi terkejut sahabatnya itu. "Kenapa?"
"Apa?" jawab Belle spontan.
"Lo kenapa?" tanya Valerie sekali lagi dengan sedikit menekankan kata-katanya. "Kek abis di DM member EXO aja" lanjutnya dengan kiasan yang sangat tidak masuk akal.
Belle terdiam sesaat lalu kembali menjawab. "...no, nothing important"
"Lo mah bohong mulu" ujar Valerie sambil menepuk keras lengan Belle.
__ADS_1
"Sakit astaga. Tenaga lo hulk banget sih, badan kecil tenaga hulk, bisa-bisanya ya" Belle mengelus lengannya yang memerah.
"Anugerah itu"
"Anugerah buat nyakitin orang?"
"Nonono, lebih tepatnya anugerah buat nyakitin orang yang bohong ke gue"
"Gue gak bohong"
"Lo bohong, belakang ini lo kayak nyembunyiin sesuatu dari gue. Iya kan?" Valerie menunjuk Belle dengan tatapan curiganya.
"Gak astaga, suuzon banget hidup lo"
"Jujur lo, apa yang lo sembunyiin dari sahabat cantik imut nan jelita kayak gue ini"
"Gak ada Val"
"Ada Bel"
"Gak"
"Ada"
Dan begitulah kedua sahabat itu terus bertengkar selama 10 menit sebelum tiba-tiba suara seorang laki-laki yang sangat mereka kenal menginterupsi keduanya. "Hei"
Disitu Wilson berdiri, menatap mereka, ralat, mungkin lebih tepatnya menatap Valerie. Belle dapat melihat jelas bagaimana Wilson tersenyum dengan sangat bahagia saat melihat Valerie. Belle yang melihat itu lantas tersenyum pahit. Mengingat bagaimana cowok itu memperlakukannya sangat jahat dan bahkan tidak pernah sekalipun tersenyum kepadanya.
"Kebetulan banget ketemu, lagi hangout bareng?" ujar Wilson yang memulai percakapan diantara mereka. Mata cowok itu tidak pernah lepas dari Valerie. Seakan Valerie adalah berlian paling berharga dimuka bumi ini.
"O-oh, iya, kami emang udah dari pagi kok disini" jawab Valerie gugup.
"Girls time?" tanya Wilson dan mendapat anggukan dari Valerie.
Wilson tersenyum dan kembali bertanya. "Ngapain aja?"
Tanpa keduanya sadari, percakapan mereka terus berlanjut. Tanpa menyadari ada sebuah hati yang kini tengah remuk melihat kedekatan mereka. Hati yang kini tengah menahan sakitnya sebuah luka yang sangat dalam. Hati yang kini sedang menahan sesaknya sebuah cemburu yang sama sekali tidak dapat diungkapkannya.
Tanpa berkata apa-apa kepada Valerie, cewek itu langsung melengang pergi menuju toilet. Berusaha menahan tangisnya lagi dan lagi. Seolah menahan sebuah tangis adalah kebiasaan barunya saat ini.
Sesampainya di toilet, tangis cewek itu pecah. Rasanya ia benar-benar terlihat lemah hanya karena seorang cowok. Selalu menangis dan terus-terusan merasakan sakit yang begitu dalam hanya karena seorang cowok. Seorang cowok yang bahkan gak pernah dan gak akan pernah mau untuk memikirkan tentang perasaanya.
•••••
"Lo bisa gak sih gak nyusahin orang sebentar aja?! Valerie dari tadi nyariin lo, dan lo ternyata ada didalam sana gak tau udah berapa lama tanpa mikirin sahabat lo yang lagi cemas karena lo ngilang tiba-tiba"
Wilson menatap Belle dengan sengit. Matanya dipenuhi oleh kebencian saat menatap cewek itu. Belle menghela nafas. "Maaf"
"Sekali nyusahin tetap nyusahin ya lo, gak ada guna banget hidup lo sumpah"
Belle tidak menjawab dan hanya menundukan kepalanya. Banyak orang yang melihat kearah mereka dan Belle benar-benar merasa sangat malu saat ini.
"Dengar, nanti lo kasih surat ini ke Valerie dan buat alasan yang masuk akal kayak biasa ngerti?"
Belle menatap bingung saat Wilson tiba-tiba menyerahkan sebuah surat kepadanya "Tapi kenapa lo gak ngasih ini langsung ke dia?"
Wilson menyeringai. "Gak usah banyak tanya. Lagian bukannya lo sendiri yang janji bakal bantu gue untuk dapetin sahabat lo? Jadi lebih baik lo diem dan nuruti perintah gue, ngerti?"
"Sekarang lo pergi, karena Val pasti balik dari toilet bentar lagi dan gue gak mau dia ngeliat gue sama lo"
"Val ada ditoilet? Tapi gue gak ngeliat dia tadi"
"Well, berarti lo keluar pas dia udah masuk bilik toilet, sekarang lo bisa pergi?"
Belle lantas langsung pergi dari daerah toilet tersebut dan memutuskan naik lift menuju lantai teratas mall tersebut untuk mengurungkan waktu.
Tidak lama kemudian kedua sahabat itu kembali bertemu. Valerie memukul Belle dengan kesal. "Lo kemana aja sih? Tiba-tiba ngilang, ngomong apa gak, pamit juga gak, cemas tau gak gue ngeliat lo tiba-tiba udah ilang aja"
"Ya maaf, namanya juga kebelet, langsung lari deh jadinya"
"Ya kenapa gak langsung balik? Tadi gue juga ada masuk toilet tapi gak ada lo didalem"
Belle terdiam sesaat lalu menatap Wilson yang menatapnya dengan datar. Belle lantas kembali menatap Valerie dan menampilkan senyumnya. "Gue ke toilet atas, lo mau pulang sekarang? Kalo gak gue pulang duluan" Belle langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
"Hmm" Valerie menatap Wilson sejenak dengan malu dan cowok itu mengangguk seakan memberikan izin kepadanya untuk pulang.
__ADS_1
"Oke ayo"
"Pulang dulu ya Wil" Valerie melambaikan tangannya kearah cowok tersebut dengan manis dan Wilson membalas lambaian tersebut. Disisi lain, Belle hanya dapat menatap senyum milik Wilson yang sebenarnya diperuntukan bagi Valerie.
•••••
"OMAIGAT GUE SENENG BANGET HARI INI!!" saat sampai dirumahnya, Valerie langsung melempar tubuhnya diatas kasur. Belle yang melihat itu berpura-pura bertanya tentang apa yang terjadi.
"Kenapa seneng?"
"Gapapa, senang aja"
"Bisa gitu?"
"Bisa dong, lo aja biasanya bisa kayak gitu" Belle tertawa lalu duduk di sofa yang berada dikamar Valerie.
"Lo deket sama Wilson?"
"Hah? G-gak kok"
Lagi-lagi Belle tertawa melihat sahabatnya itu gugup. "Lo mah kalo bohong ketawan banget Val"
"Seriusan gak"
"Gue seneng kok kalo semisalnya kalian saling suka satu sama lain"
Valerie menatap Belle setelah cewek itu mengatakan kalimat tersebut. "Tapi lo kan suka dia Bel" suara Valerie dipenuhi dengan rasa bersalah. Ia tau, bagaimanapun ia berusaha untuk menyembunyikan rahasia tersebut dari Belle, cewek itu akan selalu mengetahui semuanya pada akhirnya.
"Ralat Val, gue pernah suka dia, tapi perasaan gue yang pernah ada dulu itu gak bisa lo jadiin batasan buat diri lo untuk mencintai orang yang sama kan?"
Valerie terdiam sejenak lalu kembali bertanya. Pertanyaan yang sangat ia ingin tanyakan kepada Belle sejak pertama kali menerima surat. "Lo... tau siapa yang ngirim surat itu?"
Belle mengangguk tanpa ragu. "Ya, gue tau, dan Wilson sendiri yang minta gue untuk ngasih surat itu ke lo"
"Hah? Serius!?" Valerie sangat terkejut mendengar penuturan Belle.
"Kami berdua sudah sepakat untuk gak ngasih tau lo, tapi gue rasa tadi barusan ada yang keceplosan" Belle tertawa kecil.
Lalu cewek itu mengambil surat yang Wilson berikan tadi kepada Valerie. "Punya lo"
Valerie mengapai surat tersebut lalu mulai membacanya. Selesai membaca Valerie kembali menatap Belle yang masih menatapnya dengan senyum.
"Hari ini juga ada?"
"Ya"
"Kapan dia ngasih ini ke lo?"
Belle terdiam sejenak lalu menatap sahabatnya itu. "Maaf, untuk itu gue gak bisa ngasih tau lo"
Valeri diam sambil terus menatap mata Belle. "Lo tau dia suka gue?"
"Ya"
"Dan lo bantu dia buat dapetin gue?"
"Ya"
"Jadi selama ini lo bohong kalo lo gak tau siapa yang ngirim suratnya?"
"Ya dan maaf"
Valerie menggeleng. "Kenapa lo minta maaf? Jelas-jelas disini gue yang harusnya minta maaf. Jelas-jelas gue tau lo suka Wilson, tapi gue masih-tapi gue masih-" suara Valerie terdengar serak menahan tangisnya.
Belle mendatangi cewek itu lalu memeluknya. "Dengar Val, gue memang pernah suka Wilson, gue pernah mengharapkan cinta dia, tapi dia gak cinta gue Val, dia cintanya lo, dia sayang sama lo, dan lo adalah sahabat gue sendiri"
"And I'm not going to be that kind of girl in the drama, yang ngejauhin sahabatnya setelah tau orang yang dia suka ternyata suka sama sahabatnya dan bukan dia"
"Gue akan selalu ngedukung lo, termasuk ngedukung hubungan lo dengan Wilson"
Valerie menangis. "Gue bener-bener sahabat yang gak tau diri banget"
"Ngomong apaan sih lo" Belle melepaskan pelukannya lalu memegang erat tangan Valerie. "Denger, kalo lo memang ngerasa bersalah sama gue, cuma tolong jangan kasih tau Wilson kalo lo tau tentang semua ini, gue udah janji sama dia untuk gak ngasih tau lo, jadi tolong dukung gue yang juga sedang ngedukung lo, oke?" Valerie mengangguk lalu Belle memeluknya dengan erat.
"You and Wilson happiness is the matter right now. Not mine"
__ADS_1
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗