30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 12


__ADS_3


"Iya ma"


"Iya, mama sama papa disana juga jangan lupa makan"


"Gapapa astaga ma, udah biasa lagian, jadi udah gak jadi beban lagi buat aku"


"Iya serius"


"Iya, makasih ma"


"Byee"


Belle menutup ponselnya lalu meletakannya diatas nakas. Pagi ini ia terbangun karena mendapat panggilan telephone dari mamanya yang sedang berada diluar kota menemani papanya yang sedang mengerjakan proyek mereka disana.


Selesai membersihkan tubuhnya pagi ini, cewek dengan rambut cepolnya itu berjalan keluar menuju dapur.


"Bi, hari ini boleh tolong masakin ind*mie?"


"Aduh nak, jangan makan mie instant pagi-pagi, gak sehat, nanti saya kena marah papa kamu"


"Gapapa kok, nanti Belle yang nanggung deh" Belle menyengir dengan jarinnya yang membentuk 'peace'.


"Aduh nak, jangan ya, bibi masakin yang lain aja mau gak? Nasi goreng? Kentang goreng? Fish and chips?"


"Gak mau, maunya ind*mie"


"Tapi-"


"Please..... sekali ini aja ya bi" Belle merapatkan kedua tangannya menjadi satu lalu menatap pembantu rumah tanganya dengan puppy eyes andalan cewek itu.


"Astaga, yaudah sekali ini aja ya, bibi takut kena marah papa kamu"


"SIP TENANG AJA" Belle tersenyum senang lalu menunggu sang bibi untuk memasak mienya sembari mendengarkan musik-musik kesukaannya.


"I won't be silence, you can't keep me quiet, won't tremble when you try it, all i know is i won't go speechless"


Nyanyian Belle membuat sang bibi yang tadinya sibuk memasak mie tersenyum bangga.


"Nak Belle jadi penyanyi aja nanti" ujar bibi yang meletakan piring berisi mie instan dihadapan Belle.


"Ah gak bi, suara pas-pasan gini"


"Kalo suara kamu pas-pasan gimana suara anak bibi? Setiap dia nyanyi rasanya mau pecah aja kaca dirumah" candaan sang bibi membuat Belle tertawa geli mendengarnya sampai-sampai cewek itu tersedak.


"Aduh, hati-hati nak Belle" sang bibi membantu Belle untuk meminum air putih. "Hahahah, santai aja bi"


"Kamu ini" Belle menyengir lucu lalu kembali melanjutkan makannya.


Keadaan sempat hening selama beberapa saat sebelum sang bibi mendatangi Belle dan duduk disamping cewek itu.

__ADS_1


"Nak Belle udah ada pacar?" mendengar pertanyaan dari sang bini Belle langsung melotot kaget. "Gaklah bi, pacar darimana?"


Sang bibi terdiam sesaat lalu kembali bertanya. "Serius?" Belle menatap aneh bibinya. "Iyalah bi, kenapa sih emangnya? Kok tanyanya aneh gitu"


"Gak, soalnya kemarin sama tadi pagi sebelum kamu bangun, bibi ngeliat cowok yang sama kayak kemarin nunggu digerbang depan rumah, tapi pagi ini dia cuma diem aja gak ngomong apa-apa, pas bibi tanya dia cuma bilang gapapa terus pergi gitu aja"


"Terus?"


"Ya, bibi pikir nak Belle udah ada pacar terus lagi berantem sama pacarnya" bibi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Belle diam. Cewek itu tidak mengatakan apa-apa tapi pikirannya benar-benar dipenuhi dengan pertanyaan tentang siapa cowok itu dan berbagai perpsepsi lainnya.


"Bibi inget gak ciri-cirinya?"


"Ganteng, tinggi, putih" bibi menjawab dengan polos sehingga membuat Belle menepuk jidatnya.


"Belle banyak bi temen disekolah yang kayak gitu, maksud Belle misalnya dia pakek motor warna apa, rambutnya gimana atau hal-hal khusus lainnya gitu?"


"Oh iya, motornya besar warna merah hitam, rambutnya sih bibi gak tau stylenya kayak gimana, bibi gatau sebutannya, tapi ya warna hitam"


Belle lagi-lagi hanya diam. Hanya ada satu orang yang ia kenal yang memakai motor besar bewarna merah dan hitam. Satu orang yang sangat kecil kemungkinannya untuk dijadikan orang tersebut. Atau lebih tepatnya sama sekali tidak mungkin orang tersebut. Tapi, kalau bukan dia, lalu siapa?


•••••


Usai menghabiskan sarapannya, Belle segera berdiri dan berlalu menuju kamarnya. Mengambil sling bag miliknya dan juga surat pemberian Wilson untuk diberikan kepada Valerie.


"Bi, Belle pamit kerumah Valerie"


"Iya"


Saat hendak keluar dari rumahnya, wajah seorang laki-laki terpapar jelas dihadapannya. Wilson sedang berdiri didepan gerbang rumahnya. Belle sadar jika cowok itu sedang melamun karena tidak jua menyadari keberadaan Belle yang sudah berada didepannya.


"Wilson...."


Wilson seakan baru tersadar dan langsung menatap Belle dengan terkejut. "Kenapa disini?" lanjut Belle.


Wilson tidak sempat mengatakan apapun karena saat itu Belle langsung membuka pintu pagarnya dan menemui cowok itu.


"Wil"


"Mau kemana lo?" Wilson menatap dari atas rambut hingga ujung kaki Belle yang tertata rapi.


Belum sempat menjawab, Wilson kembali berucap. "Ngedate sama Felix?"


Seketika itu juga mata Belle langsung membesar. "Enggak! gue mau nganter surat dari lo untuk Val" Belle memperlihatkan Wilson surat berwarna biru muda yang Wilson titipkan kepadanya 2 hari lalu.


"Kenapa harus pagi?"


"Pagi? Ini udah jam 12, Val biasanya pasti udah bangun kok jam segini, seriusan gue gak mungkin ganggu tidur dia jadi jangan khawatir"


Wilson diam sesaat sambil terus menatap cewek dihadapannya itu. "Ada hubungan apa sama Felix?" tanya cowok itu tanpa mengidahkan ucapan Belle mengenai Valerie sebelumnya.

__ADS_1


"Hah?"


"Ada hubungan apa sama Felix?"


"Temenan kok"


"Temen? Mesra banget hidup lo sama dia, masih berani bilang temen?"


"Maksudnya?"


"Kemarin sukanya gue, sekarang Felix, bahkan sekarang udah berani banget ngedeketin Felix, pura-pura jadi temen trus lo berharap suatu saat nanti bakal jadi pacar gitu?"


"Wilson!"


"Kenapa?" Wilson masih menatap Belle dengan santai, seolah tidak peduli telah menyakiti perasaan cewek itu dengan kata-katanya.


Berusaha tidak mempedulikan ucapan Wilson, Belle melangkahkan kakinya memasuki rumah. Tapi Wilson menahan cewek itu untuk tidak melangkah lebih jauh lagi. "Gue harus pergi sekarang, masih ada yang mau diomongin?" Belle menundukan kepalanya, tidak ingin melihat wajah cowok dihadapannya itu.


"Jangan berharap untuk jadi Valerie ataupun memiliki takdir kayak Val, karena lo gak berhak punya takdir yang sama kayak dia"


Belle mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya menatap tajam Wilson dengan kedua matanya yang memerah karena menahan tangis. "Gue gak pernah berharap untuk jadi Valerie atau memiliki takdir yang sama kayak dia, gak pernah sama sekali dan gak akan pernah, karena gue memiliki takdir gue sendiri dan gue gak akan pernah menukar atau mengubahnya agar sama seperti takdir orang lain. Gak, bahkan untuk lo!"


Belle melepaskan lengannya dari cengkraman Wilson dan berlalu begitu saja memasuki rumahnya setelah menutup pintu gerbangnya.


•••••


Selama perjalanan menuju rumah Valerie. Isak tangis Belle terus terdengar, tiada hari bagi Wilson tanpa menghina ataupun mencacinya. Terkadang dirinya terbiasa, tapi terkadang juga hal tersebut masih terasa sakit baginya. Dan tadi adalah kali pertamanya seorang Belle berani untuk menentang dan melawan Wilson.


Sampai dirumah Valerie, mata Belle masih terlihat bengkak dan merah, cewek itu mengetuk pintu beberapa kali dan sesaat kemudian wajah Valerie muncul.


"Belle! Lo kenapa?" Valerie terkejut kala melihat keadaan Belle saat itu.


Belle menggeleng lalu menyerahkan surat berwarna biru pemberian Wilson. "Nih"


"Lo kenapa Belle? Ayok sini masuk dulu" Valerie berusaha menarik tangan sahabatnya itu untuk masuk kedalam rumah tapi ditolak oleh Belle.


"Gak dulu ya hari ini, gue mau langsung pulang"


"Astaga Belle, keadaan lo lagi kayak gini, disini dulu aja ya, cerita, tenangin diri lo"


"Gapapa, gue mau langsung pulang aja" Belle tersenyum tipis lalu kembali masuk kedalam mobilnya.


Dalam mobil, tangisan cewek itu kembali pecah. Menelungkupkan kepalanya dalam kesendirian dan tanpa dukungan, menangis dengan kencang dan putus asa.


Kala itu, sebuah kalimat yang pernah diucapkan Wilson terlintas di benak Belle. "Gak perlu berusaha untuk melupakan, yang penting adalah terbiasa dengan ketidakhadiran" bayang-bayang wajah datar Wilson saat mengucapkan kalimat tersebut benar-benar merekat kuat dibenaknya.


Dan saat itu juga sebuah keputusan telah dibuat oleh Belle. Keputusan yang memang sulit tapi berhasil cewek itu putuskan dalam keadaannya saat ini.


#?#?#?


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗

__ADS_1


__ADS_2