30 Days Love Letter

30 Days Love Letter
Day 29


__ADS_3


Seperti hari biasanya, Belle bangun pagi dan berangkat pergi kesekolahnya, namun pagi ini cewek itu memutuskan untuk tidak diantar oleh Wilson. Walau semalam Wilson sempat menolak untuk menurutinya, namun pada akhirnya cowok itu mengalah dan menuruti kemauan Belle, dan begitulah juga awal dan akhir chat mereka kemarin. Tidak ada pembicaraan seru seperti sebelumnya, persis seperti orang asing.


Saat tiba disekolah, lagi-lagi puluhan pasang mata menatap Belle dengan intens. Tapi kali ini Belle memutuskan untuk mengabaikan mereka, karena nyatanya mengabaikan mereka jauh lebih menenangkan setidaknya.


Tiba dikelas, beberapa teman sekelasnya menyapa Belle, termasuk Valerie yang langsung menghampiri cewek itu dan duduk disebelahnya. "Belle, u okay?" pertanyaan tersebut terlontar begitu saja setelah bokong Valerie menyentuh kursi.


Belle dengan santai mengangguk dan membenarkan posisi tasnya. "Baik dong, emang gue keliatan kayak cewek penyakitan gitu?" canda Belle.


"Ya bukan gitu, masalahnya kemarin Andrew ada sempat cerita sama gue..."


"Cerita apa?"


"Ya gitu..." Belle tertawa lalu menatap gemas Valerie. "Sok-sokan misterius lo"


"Sumpah Belle lo freak parah" Belle lagi-lagi tertawa namun beberapa saat kemudian cewek itu terdiam, menatap lurus kedepan masih dengan senyum yang merekat dibibirnya. "Sama seperti yang gue ngomongin bareng Felix kemarin, beberapa hari ini gue bener-bener butuh waktu untuk berfikir, gue tau hubungan gue dengan Wilson bahkan 1 minggu aja belum nyampe, tapi karena itulah gue mau balik mikirin semua hal ini, karena gue sadar, semakin lama gue tunda, semakin sakit juga rasanya nanti ketika ternyata keputusan yang harus gue ambil memang harus menyakiti seseorang"


"Lo terlalu mikirin orang lain sampe-sampe lo selalu lupa dengan diri lo sendiri, selalu sama, selalu kayak gini" Belle tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum sebagai balasannya.


"Lo yakin lo akan membuat keputusan yang terbaik? Lo yakin kali ini lo bakal bahagia? Lo yakin lo gak akan nyakitin siapa-siapa? Lo yakin gak akan ngebuat perjuangan lo selama ini sia-sia?" rentetan pertanyaan Valerie membuat Belle terdiam.


Setelah beberapa saat, Belle akhirnya menghela nafasnya lalu menatap Valerie "Ya, akan gue pastikan yang terbaik yang akan gue putuskan" Belle tersenyum kecil lalu menepuk pelan pundak sahabatnya itu. "Udah lama kita gak ngobrol kayak gini, rasanya kayak udah bertahun-tahun"

__ADS_1


Valerie meringis geli. "Ishhh, jangan melow-melow lah, alay tau!"


"Jahat lo, awalnya juga lo yang ngajak gue melow-melowan gini" mendengar penuturan Belle, Valerie malah cengengesan geli dan mencoel tubuh Belle dengan centil. "APAAN? JIJIK TAU!" Valerie tertawa puas saat melihat Belle yang meringkih jijik karena ulahnya.


•••••


Kedatangan Felix yang sedari tadi telah ditunggu, membuat Wilson langsung menghampiri sahabatnya itu dengan cepat.


Semalam saat ditanya tentang obrolannya dengan Belle, Felix menjawab seperti ini. "Nanti aja, besok gue kasih tau" maka dari itu Wilson benar-benar menunggu kehadiran cowok itu bak orang gila pagi ini.


"Kasih tau gue sekarang" Wilson telah berdiri tepat didepan meja Felix dengan wajah seriusnya. Melihat hal tersebut Felix malah terkekeh dan menatap Andrew serta Jason yang duduk dibelakangnya. "Kenapa nih anak? Pagi-pagi udah kayak gini" Andrew dan Jason dengan enteng menaikan pundak mereka tanda tidak tahu.


"Gue serius Lix!" Wilson menarik pundak cowok itu dengan kasar, memaksa cowok itu menghadap wajahnya.


Mendengar jawaban Felix, Wilson malah menatap cowok itu dengan tidak percaya, seakan setiap kata yang keluar dari mulut Felix saat itu sepenuhnya bohong. "Gue serius"


"Iya, gue juga serius, gue udah bilang kan sama lo kemarin kalo gue akan bantu lo, dan apa yang gue kasih tau lo tadi itu ya jawaban Belle" Wilson langsung terduduk lemas kala itu. Pikirannya benar-benar penuh dan dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Gue pengen ngasih dia kebahagiaan, tapi kenapa selalu aja ada hambatan yang datang?" Wilson mengepal tangannya dengan sangat kuat seakan siap menyerang siapa saja yang berani menyentuhnya.


"Semuanya butuh proses, lo cuma harus sabar, itu yang paling penting dalam membina sebuah hubungan, berfikir sedikit lebih dewasa gak ada salahnya kan? Lo udah bukan anak kecil lagi"


Wilson tidak menjawab, cowok itu memilih mengalihkan pandangannya dari Felix. Melihat hal itu, Felix menenangkan cowok itu dengan menepuk pundaknya. "Lo harus janji Wil, keputusan apapun yang nantinya Belle ambil, jangan pernah sekalipun lo nyalahin dia, karena itu juga bukan kehendak dia sepenuhnya, she just want to be happy, and you... she also want you to be happy"

__ADS_1


•••••


Sepulangnya dari sekolah, Wilson nekat ingin mendatangi rumah Belle. Otaknya benar-benar dipenuhi dengan ribuan pertanyaan untuk cewek itu juga dirinya sendiri yang sudah tidak dapat lagi menahan rindunya.


Tapi sayangnya niat Wilson seakan terbaca oleh ketiga temannya yang langsung dengan cepat mencegahnya untuk mendatangi kediaman Belle.


"Kan udah dibilangin Felix kalo dia butuh waktu" Andrew menarik cowok itu kearah lapangangan basket, menjauh dari parkiran.


"Tahan diri lo, jangan sampe buat sesuatu yang merugikan diri lo sendiri cuma karena lo gak bisa nahan diri" Jason ikut menimpali.


Mendengar penuturan kedua temannya, Wilson mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue pengen denger semuanya sendiri, gue pengen ketemu dia, ngasih dia perasaan nyaman supaya dia yakin sama hubungan ini, supaya dia gak goyah lagi, supaya dia gak takut lagi, karena sekarang dia gak berjuang sendirian lagi, dia berjuang bareng gue"


Felix yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu menghela nafas. "Wil, semakin lo gila kayak gini, maka semakin lama lo akan ketemu sama Belle, tenang aja, gue yakin dia gak bakal ngebiarin lo untuk nunggu lama, so be calm"


"Itu yang gue gak mau, Belle sudah terlalu sering ngertiin gue, sampe-sampe dia gak ngasih gue ruang untuk berusaha ngurus dia dan ngertiin dia"


"Kalian tau? Gue jadi ngerasa seengak berguna itu gue dikehidupan dia" suara Wilson melemah dengan wajahnya yang benar-benar frustasi.


"Gue tau, tapi mungkin kali ini, dengan ngasih dia waktu dan ngebiarin dia berifikir itu jadi salah satu cara buat lo untuk ngasih dia perhatian dan ngertiin dia" ujar Andrew. Cowok itu sebenarnya jarang ingin ikut campur dalam hal melow seperti Felix dan Wilson, tapi dia juga tau ada waktu dimana ia memang diharuskan untuk melakukannya seperti saat ini.


"The day you plant the seed is not the day you eat the fruit. Be patience"


#?#?#?

__ADS_1


Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗


__ADS_2