
Aku ingin begini
Aku ingin begitu
Ingin ini itu semua banyak sekali
Aku senang semua
Dapat dikabulkan
Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib
Aku ingin terbang bebas diangkasa
Hey! Baling-baling bambu
Lalala
Aku senang sekali
Annabelle...
Belle tertawa sesaat setelah Felix selesai bernyanyi. Kedua sahabat itu sedang duduk di taman belakang sekolah, menghabiskan waktu istirahat mereka ditemani gitar yang berada di pangkuan Felix dan juga sekantung penuh snack yang dibeli oleh Felix saat berangkat sekolah tadi pagi.
"Bel, aaa..." Felix membuka mulutnya bak anak kecil dan langsung dimasukan beberapa chips kedalam mulutnya oleh Belle.
Cowok itu mengunyah dengan lucu dan kembali memetik gitarnya.
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na...
"Lix, ikut TFest mau gak?" ujar Belle setelah Felix menyelesaikan nyanyiannya.
Felix menggeleng setelah melepaskan gitar dari tangannya dan memasukan lagi beberapa chips kedalam mulutnya.
"Gak ah, nanti makin banyak cewek yang klepek-klepek sama gue" candanya.
"Ayolah, suara lo bagus, terus lo jago gitar"
"Males gue Belle"
"Ada hadiah Lix"
"Apa emangnya hadiahnya?"
"Juara tiga aja, uang sama boneka lucu"
"Juara satu sama dua apa?"
"Gak tau, tapi katanya juara tiga dapat uang sama boneka"
"Kalo gue juara satu gimana?"
"Uangnya beliin boneka untuk gue" Belle menyegir lucu.
"Yaelah, tujuannya cuma boneka itu namanya"
"Emang" Belle terkikik lucu saking bersemangatnya, dan tanpa berfikir lagi langsung memasukan segepok chips kedalam mulutnya hingga benar-benar penuh dan akhirnya cewek itu langsung tersedak.
"Kan, kan, makannya gak sabaran"
Belle tidak mampu menjawab dan hanya menampilkan telapak tangannya didepan wajah Felix. Namun cowok itu mengambil dan menggenggam tangan Belle setelah itu memberikannya minum. "Pelan-pelan"
__ADS_1
Belle terbatuk tepat setelah selesai mengunyah seluruh isi mulutnya. Felix langsung membantunya untuk meneguk minum dan menepuk punggungnya dengan pelan.
"Mangkanya, makan tuh pelan-pelan, ini malahan kayak dikejer setan"
"Kan gak tau" Felix berdecih gemas mendengar jawaban Belle lalu kembali mengambil gitarnya setelah Belle terlihat baik-baik saja.
"Kalo gue menang, lo mau ngelakuin apa buat gue?" ujarnya sembari mulai memetik gitarnya.
"Apapun" jawab Belle dengan enteng. "FELIX MAU IKUT TFEST?" Belle menepuk tangannya dengan gembira.
"Hm...."
"Ayo Felix, gue janji ngelakuin apapun, serius" Belle menunjukan jari peace nya.
"Oke, lakuin apapun kan?"
"Iya" Belle mengangguk mantap tanpa sedikitpun keraguan dalam dirinya. Dan tanpa ia ketahui juga bahwa Felix telah merencanakan sesuatu.
•••••
"Gak, gue ada kerkel hari ini"
"Sampe jam berapa? Gue tungguin mau?"
Belle menggeleng. "Gak usah, lo pulang duluan aja, istirahat sana, gue bisa pulang sendiri"
Felix menatap Belle ragu karena sudah cukup lama semenjak Belle pulang sendirian setelah keduanya saling mengenal. Karena biasanya, Felix lah yang akan mengantar jemput cewek itu. "Serius Lix, I'm okay"
"Gak deh, gue tungguin aja disini" Felix duduk didalam kelas Belle. Dan karena hal tersebut, teman-teman sekelompok Belle langsung menatap cowok itu dengan terkejut.
"Felix, go home" Felix berdecih kesal lalu menatap Belle dan mewanti-wanti cewek itu. "Telpon gue kalo ada apa-apa, dan kalo udah mau pulang juga langsung chat gue supaya lo gak nunggu terlalu lama, gue bakal balik lagi ke sekolah, inget!"
"Iya-iya, liat nanti aja"
"Liat-liat, awas lo kalo sampe gue telpon tapi gak diangkat, gue kejer lo pake z*nly" Belle tertawa geli mendengar kata z*nly tapi tetap mengangguk sembari mendorong Felix keluar dari kelas tempat ia akan melakukan kerja kelompok.
"Gue nongkrong di cafe Andrew, inget Belle!"
"Iya Felix"
"Iya Felix, astaga..." dan setelah itu barulah Felix benar-benar pergi, walau cowok itu masih melihat kearah Belle sesekali sebelum benar-benar menghilang dibalik koridor.
Saat kembali masuk kekelasnya, semua teman satu kelompoknya menatap Belle dengan senyum penuh arti. "Maaf jadi ganggu kosentrasi"
"Oalah, santai aja Belle" ujar salah satu teman satu kelompoknya bernama Felice dengan ramah. Belle membalasnya dengan senyuman lalu duduk diantara mereka.
Canggung. Itu yang Belle rasakan tiba-tiba, sebelum Felice kembali membuka suara dengan bertanya satu pertanyaan yang sudah sangat lelah untuk dijawab bagi Belle.
"Lo sama Felix pacaran Bel?"
Belle mengehela nafasnya dan berusaha untuk tetap tersenyum sembari menjawab. "Gak Fel, gue gak ada hubungan yang lebih selain sahabatan sama Felix"
"Iya?" tanya teman satu kelompok Belle yang lain.
"Iya, astaga, banyak banget loh yang tanya hal itu, tapi kami seriusan cuma sebatas sahabat" Belle tersenyum ramah.
Tidak ada tanggapan lagi dari teman-teman sekelompoknya, baik itu Felice maupun yang lainnya. Mereka hanya membalas perkataan Belle dengan anggukan kecil dan senyum singkat lalu kembali membahas tugas mereka saat itu.
•••••
Jam menunjukkan pukul 6 sore saat Belle menyelesaikan tugas kelompoknya. Semua temannya satu persatu mulai pulang kerumah masing-masing dan menyisakan Belle seorang diri dengan beberapa anak basket yang masih melaksanakan ekskul mereka dilapangan indoor samping sekolah.
Belle sebenernya sedari tadi sedang menunggu Felix yang bahkan sebelum ia menyelesaikan tugas kelompoknya, Belle sudah mengechat cowok itu sesuai dengan perintah Felix sendiri, tapi sampai sekarang bahkan batang hidung Felix pun tidak terlihat sama sekali.
Belle mengechat cowok itu lagi tapi tidak kunjung mendapat balasan. Langit yang mulai memerah membuat cewek itu sedikit cemas. Sesekali ia mengecek jam diponselnya yang terus berjalan maju.
Saat itu ponselnya berbunyi, dengan cepat langsung Belle angkat saat melihat nama Felix tertera disana. "Halo? Lo dimana Lix? Ini udah sore, kalo lo sibuk gue naik g*car aja deh"
"Motor gue mogok ditengah jalan Bel, ini lagi dijalan balik kerumah, mau ambil mobil, lo tunggu sebentar lagi aja ya"
"Udah terlalu sore Lix, gue takut sendirian disini, gak ada siapa-siapa..."
Felix sempat diam sebentar seolah sedang memikirkan sesuatu yang memang sangat perlu untuk dipikirkan. "Wilson masih ada disekolah, mau minta tolong dia anter?"
Belle terkejut mendengar kalimat yang baru saja Felix lontarkan. "Gak! Lo aneh Lix, gue naik g*car ajalah, udah"
"Gak ya, gue yang gak bolehin lo naik g*car, ini udah mau malem, gak baik cewek naik mobil orang asing yang gak dikenal apalagi sendirian"
__ADS_1
"Ya, gimana Felix..."
"Lo nunggu dimana sekarang?"
"Parkiran motor"
"Tunggu disana, jangan kemana-kemana"
"Lo udah mau jemput?"
"Sebentar..." terdengar bunyi keyboard dari ponsel Felix.
"Lix, udah mau jemput emang?" tanya Belle sekali lagi.
"Gak, terlalu lama kalo gue mau jemput lo, lo sekarang tunggu disana dan jangan kemana-kemana, Wilson bentar lagi ketempat lo, dia yang bakal anter lo"
"Felix!"
"I have no choice"
"Gak! Gue pesen g*car sekarang"
"Belle"
"Lix, gue baru aja baikan sama Valerie kemarin, astaga....."
"Belle gue-" Belle memutuskan sambungan telphone keduanya. Cewek itu mengusap wajahnya dengan kasar berulang kali tanpa henti. Sampai sebuah tangan besar menghentikan tindakannya. "Muka lo bisa luka" itu suara Wilson. Melihat keberadaan Wilson, spontan Belle langsung melepaskan genggaman Wilson dari tangannya dan melangkah menjauh dari cowok itu.
"Gue bisa pulang sendiri"
"Felix minta gue anter lo"
"Gapapa, nanti gue yang ngomong sama dia" Belle dengan cepat melangkahkan kakinya menjauhi Wilson tapi bukannya menghentikan Belle, Wilson malah mengikutinya hingga gerbang depan sekolah.
Belle berusaha untuk tidak mempedulikan keberadaan Wilson dibelakangnya dan dengan cepat langsung membuka aplikasi ojek online dan berusaha memesan g*car sebelum ia mendengar suara Wilson dibelakangnya. "Lix, dia gak mau ikut"
Belle tidak mendengar Wilson mengucapkan apa-apa lagi selama beberapa detik hingga cowok itu akhirnya menyodorkan ponselnya kepada Belle dari belakang. "Felix mau ngomong"
Belle mengambil ponsel Wilson dengan terpaksa dan mendekatkannya ketelinga. "Halo?"
"Belle, gue cuma mau lo aman, itu aja"
"Lix..."
"Kalo ini masih siang, gue izinin lo pulang sendiri, tapi ini udah terlalu malam, gue gak mau ada apa-apa terjadi sama lo, itu aja"
Belle diam, ingin sekali sebenarmya ia menentang semua perkataan Felix, tapi Belle juga tau betul tentang kecemasan Felix. "Yaudah"
Disana Felix tersenyum lega mendengar jawaban Belle. "Maaf kalo ngebuat lo harus terjebak disituasi kayak gini, gue janji hal kayak gini gak akan terjadi lagi"
".....ya"
Setelah itu Belle menyerahkan kembali ponselnya kepada Wilson. Cowok itu terdengar sesekali mengatakan ya sebelum sambungan telpon mereka terputus.
Wilson menatap Belle. "Ayo" Belle hanya mengangguk dan mengikuti Wilson dari belakang dengan menundukan kepalanya.
Sesaat setelah menaiki motor milik Wilson, cowok yang masih memakai baju olahraganya itu mulai menyalakan mesin motornya dan mengendarainya menerobos padatnya jalan raya sore itu.
Tidak ada percakapan antara keduanya selama diperjalanan hingga akhirnya mereka tiba didepan rumah Belle. Dengan sigap Belle langsung turun dan motor Wilson.
"Makasih" ujar Belle dengan kepala yang tertunduk.
"Ahh... gue rasa lo udah lupa kalo gue pernah bilang sama lo untuk gak nundukin kepala lo selagi ngomong sama gue" Belle diam dan tidak memberikan reaksi apapun.
"Kalo gitu gue ingetin lo sekali lagi, angkat kepala lo setiap kali lo mau ngomong sama gue karena yang pengen gue lihat itu wajah lo sedangkan yang pengen gue sentuh barulah rambut lo" dan saat itu Wilson benar-benar mengelus rambut Belle dengan lembut dan perlahan tangan kokohnya berpindah kepipi Belle dan perlahan mengangkat wajah cewek itu. "Seni dari mencintai adalah berani untuk tersakiti Bel, dan saat ini gue berada ditahap dimana gue berani untuk melakukan semua hal yang bisa gue lakukan untuk orang yang gue cintai tanpa rasa takut sedikitpun dalam diri gue"
"Wil..." Belle melepaskan tangan Wilson dari wajahnya. "Gue baru baikan sama Valerie, tolong jangan hancurin persahabatan kami untuk yang kedua kalinya, please just stay and love her the way you did before"
Belle menarik nafasnya dengan berat dan memberanikan dirinya untuk menatap balik Wilson. "Valerie jauh lebih baik dari gue dan juga dia jauh lebih mencintai lo dari gue, and as I said before, perasaan lo ke gue itu hanya perasaan bersalah, jadi tolong jangan buat hal ini jadi seperti kisah romeo dan juliet"
Wilson diam tanpa memberikan reaksi apapun, namun kali ini bibirnya membentuk sudut datar dan matanya menatap Belle dengan tajam bak seekor elang. Cowok itu mulai menghidupkan motornya kembali dan memakai helm nya, tetapi sebelum ia benar-benar pergi, Wilson membuka kaca helmnya dan menatap lurus kemata Belle.
"Suatu saat nanti akan gue buktiin ke lo, kalau cerita cinta yang sering kali lo anggap hanya khayalan itu bisa benar-benar terjadi dikehidupan lo, and i'm the one who's going to prove it!"
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗
__ADS_1