
Wilson yang kala itu telah melajukan motornya meninggalkan rumah Felix, kini telah berada disalah satu kafe langganannya. Jarinya sibuk mengetik sesuatu diponselnya kepada seseorang. Tidak lama kemudian diletakannya ponsel hitam itu disamping sebuah surat berwarna biru.
Cowok itu menunggu sekitar 10 menit sebelum seorang cewek datang dan duduk didepannya.
Wilson yang melihat orang yang ia tunggu telah datang langsung memberikan surat tersebut kepadanya. "Langsung lo kasih hari ini jangan besok" ujarnya.
Belle hanya mengangguk singkat lalu memasukan surat tersebut kedalam tasnya. Cewek itu lantas langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan Wilson begitu saja tanpa berbicara sepata kata pun. Yang membuat cowok itu menjadi kesal melihat kelakuannya.
Usai Belle pergi, Wilson kembali menelpon seseorang. "Gue di kafe biasa" lalu ditutupnya telpon tersebut.
Tidak lama kemudian Andrew datang dan dengan santai langsung memesan kopi kepada sang waitress.
"Napa lo? Weekend gini ngajak ketemuan, untung gue baik" tanya Andrew setelah memesan kopi miliknya.
"Bosen"
"Udah selesai emang ngasih undangannya?"
"Gue cuma ngasih ke beberapa orang terdekat, sisanya tugas orang kantor"
Andrew hanya mengangguk. Lalu tidak lama kemudian kopi yang dipesan cowok itu datang.
"Kemarin gue ketemu Val di mall" ujar Wilson yang mulai merubah raut wajahnya dengan senyuman tipis.
Andrew lantas menoleh kearah sahabatnya itu. "Kebetulan atau gimana?"
"Kemarin gue chat kawan jeleknya untuk ngasih suratnya, taunya dia bilang kalo dia lagi di mall bareng Val, yaudah gue pura-pura aja kebetulan ketemu dia"
"Wuihhh, pantes muka lo kayak pantat bayi, kinclong-kinclong gitu, abis ketemu doi ternyata" canda Andrew.
__ADS_1
"An*ing lo" umpat Wilson.
Andrew tertawa. "Jadi lo ngapain dari tadi disini?"
"Ngasih surat" jawab Wilson tapi nada bicaranya berubah menjadi kesal.
"Muka lo udah gak kayak pantat bayi lagi sumpah, malah sekarang mirip pa*tat gorila" hampir saja kotak tisu diatas meja mereka melayang karena ulah Andrew yang kini sukses tertawa karena ulahnya sendiri.
"Kenapa lagi tuh cewek? Kayak udah tinggal nunggu ajalnya aja dia kalo ngeliat muka-muka lo kayak gini"
Wilson menaikan rambutnya dengan kesal. "Muka dia dateng kesini songong banget, ngomong apa enggak, langsung pergi gitu aja, sok cantik banget, dikiranya gue bakal mau apa sama dia, dikiranya gue bakal kayak di novel-novel alay yang akhirnya bakal suka sama dia kali" Wilson menyerocos dengan kesal, urat lehernya bahkan sampai terlihat akibat rasa kesal yang menyelimuti dirnya itu.
Andrew hanya melihat sahabatnya itu dengan santai lalu menyengir kecil sembari menyeruput kopi miliknya. "Lo kesel cuma karna dia gak ngomong gitu sama lo?"
"Jelas tuh cewek cuma mau ngerasa sok cool, sok cantik, sok ngejauhin gue, dikiranya gue bakal ngejer dia kali, banyakan baca novel kali tuh cewek"
"Sensi banget bos" tawa Andrew. "Lagian tau dari mana lo isi novel kayak gitu semua? Sering lo baca novel? Baru tau gue" goda Andrew.
"Lo tau gak Wil, lo tuh jadi kek keliatan cowok yang lagi marah karena cewek lo gak mau ngajak lo ngomong"
"Najis an*ing" Wilson melempari Andrew dengan kotak tisu yang berada disampingnya tapi dengan cepat ditangkap oleh cowok itu.
"Santai bro santai, ngeri gue liat muka lo" Andrew meletakan kembali kotak tissue tersebut ditempatnya.
"lo pegang ya kata-kata gue, gue gak akan pernah suka sama orang bernama Belle seumur hidup gue" Wilson menekan kata-katanya dengan sangat yakin.
Andrew menyeringai mendengar ucapan Wilson. "Well... let see what God have prepare for you"
•••••
Disisi lain, setelah menerima surat yang diberikan oleh Wilson, Belle langsung pergi menuju rumah Valerie untuk megantarkan surat tersebut sesuai perintah Wilson.
__ADS_1
Ya, tadi setelah pulang dari taman, saat cewek itu baru saja akan masuk kedalam rumahnya, Wilson mengechatnya dan memintanya untuk segera menuju ke kafe yang telah Wilson kirimkan alamatnya.
"Val" panggil Belle didepan rumah Valerie.
"Valerie" panggilnya sekali lagi. Beberapa saat setelahnya pintu itu terbuka dan langsung menampilkan wajah Valerie dibaliknya.
"Belle? Ngapain? Masih kangen ya sama gue" canda Valerie yang lalu mengajak sahabatnya itu untuk duduk.
"Gimana bisa coba gue kangen sama lo, kalo hampir tiap hari gue ketemu lo" Valerie tertawa menanggapi perkataan Belle.
Belle lantas langsung menyerahkan surat dari Wilson kepada Valerie. "Another one for you today" ujarnya dengan senyuman.
Valerie tersenyum tipis lalu mengambil surat tersebut. "You know? Gue bener-bener ngerasa bersalah banget sama lo tentang surat ini dan juga tentang pengirimnya"
"Valerie, kan udah gue bilang, gue gak masalah dengan semua ini, asalkan gue bisa ngeliat kalian berdua bahagia, lagian kalo misalnya gue gak ditakdirkan dengan Wilson dan ternyata lo yang ditardirkan sama dia, gue gak bisa memaksakan takdir kan? Karena kalau gue memaksakan seseorang yang gak ditardirkan untuk gue, gue hanya akan menyakiti banyak pihak termasuk diri gue sendiri, karena gue gamau orang untuk berpura-pura mencintai gue cuma karena rasa bersalah atau apapun itu" Belle tersenyum manis kearah sahabatnya itu untuk sesaat lalu berdiri. "Udah ah, gue pulang dulu, mau me time dulu, masa sama lo terus" candanya.
Valerie ikut tertawa. "Naik apa?"
"Mobil" tunjuknya menggunakan dagu kesebuah mobil kecil didepan pagar rumah Valerie.
"Kenapa parkir depan rumah? Biasanya juga masuk dalem"
"Ya gapapa, lagian cuma sebentar juga supaya gak susah muter"
"Oke, hati-hati ya" Belle mengangguk lalu melambaikan tangannya.
Valerie masih terdiam ditempatnya saat mobil Belle telah pergi meninggalkan rumahnya. "I know you're acting Belle, tapi gue juga gak bisa ngebohongi diri gue sendiri lagi kalo gue udah jatuh cinta sama Wilson bahkan sebelum surat ini ada dan lo sendiri yang sudah merelakan Wilson untuk gue"
#?#?#?
Thank you for reading my first story. Hope you guys like it. Please like my story to support me to keep writing this story. See you in the next chapter 🤗
__ADS_1