A & Z (Cinta Atau Benci ?)

A & Z (Cinta Atau Benci ?)
Drama


__ADS_3

Hari ini seperti biasa aku pergi ke sekolah dengan wajah yang cerita namun dengan perasaan yang kacau.


"Andre pacar Zahra yang tampan sini !"panggil Yuli pada Andre.


"Yuli kamu ini ! Bikin malu aku saja ! Pacar ku apanya ?!"kataku sambil menepuk lengan nya


"Andrewew"panggil Arsyad


Spontan aku langsung melihat kearahnya dan dia juga melihat kearahku dengan senyuman sinis.


Sejak kabar tentang aku berpacaran dengan Andre tersebar, Arsyad seperti menjaga jarak dengan Andre dan dia seringkali mengahalang-


halangi ku saat berbicara dengan Andre, bahkan tak jarang aku melihat Arsyad memukul Andre walaupun dia bercanda tetapi aku melihatnya seperti memukul Andre sungguhan.


"Apakah ini pertanda bahwa cintaku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan ?"


Entah kenapa hanya dengan tingkah laku Arsyad yang seperti itu, dengan mudahnya aku mempercayai bahwa dia memang mencintai ku, sedangkan Andre yang sudah sangat sering mengatakan bahwa dia mencintai, sampai sekarang aku masih tidak bisa mempercayai perkataannya itu.


---


Iqbal berdiri tepat di depan pintu kelas, aku berusaha menutupi rasa malu ku dengan berteriak-teriak pada Yuli. Tanpa kuduga dia berkata


"Sombong amat !"katanya sambil tertawa

__ADS_1


Aku berlari keluar kelas, namun dia mengejar ku. Aku pura-pura tidak melihatnya. Tetapi dia


"Zahra ! Zahra !"panggil Iqbal.


Mau tak mau, aku pun menghentikan langkahku. Dia pun kini tepat berada di sampingku. Akhirnya kami pun berjalan bersama sambil mengobrol.


Hati ku rasanya senang sekali karena dia tidak pernah sama sekali seperti ini dengan pacarnya, bahkan dia tidak pernah berbicara dengan pacarnya secara langsung.


---


Setelah hampir selama satu tahun, aku tidak berbicara dengan Arsyad, akhirnya hari ini aku berbicara dengannya walaupun hanya sebatas naskah drama.


Ya, beberapa hari yang lalu, sekolah kami mengadakan lomba drama secara tiba-tiba dan tanpa fikir panjang, teman-teman ku langsung menunjuk ku dan Arsyad sebagai pemeran utama.


Saat drama dimulai, Arsyad masih saja bisa bersikap tenang walaupun penonton tak henti-hentinya berteriak histeris.


Karena peran ku di sini bukan peranku sebagai Noni Belanda yang agak judes, maka dengan mudahnya aku bisa mendalami peran itu.


Saat ada adegan Norma marah-marah dengan Jaka, maka para penonton langsung bilang


"Wahh bagus sekali aktingnya ! Terlihat nyata ! Mungkin ini memang nyata ! Marahnya asli dari hati !" Banyak sekali yang bilang itu sambil tertawa dan terus berteriak heboh.


Drama terus berlangsung sampai pada dialog Arsyad.

__ADS_1


"Maafkan aku...Kamu marah ya ?"


Seketika semuanya bersorak-sorai dan juri menyuruh Arsyad untuk mengulang dialog itu beberapa kali, karena dialog itu berhasil membuat penonton BAPER. Begitu pun dengan aku yang tentunya lebih BAPER.


Hingga akhirnya kami sampai pada adegan yang sangat sulit bagiku, yaitu adegan dimana Jaka di tembak oleh ayah Norma yang merasa kesal karena Jaka terus mengejar anak semata wayangnya itu.


Penonton mulai berteriak


"Letakkan kepalanya di atas pangkuanmu !"


Juri pun mengatakan hal yang sama.


Tentunya aku tidak bisa dan tidak akan bisa melakukan hal itu karena lagipula di naskah aku tidak ada adegan itu, mungkin karena ayah Norma ada di situ.


Akhirnya drama pun berakhir.


"Juri tadi mengatakan drama ini adalah yang paling bagus, terlihat sangat nyata."kata Fifi dengan bersemangat,


Aku hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja dia katakan.


---


Saat sampai dirumah aku kembali berusaha mengingat bagaimana ekspresi wajahnya tadi, dan suaranya masih terdengar jelas di telingaku.

__ADS_1


Namun seketika senyuman yang tadinya merekah di bibirku seketika hilang karena teringat ekspresi wajahnya yang sangat terlihat bahagia saat Elisa berada didekatnya sedangkan tadi saat di dekatku, dia masih bisa bersikap tenang.


__ADS_2