
"Kenapa awal yang bahagia berakhir dengan air mata ?"
"Kenapa aku belum bisa memulai awal yang baru ? Hanya dalam waktu setahun telah banyak kenangan yang tercipta, Hubungan yang terjalin antara aku, Yuli, Fifi, Andre, Iqbal dan juga Arsyad. Aku rindu suasana dulu.
Aku rindu duduk santai di teras dengan Yuli. Aku rindu mengerjakan PR bersama Fifi. Aku rindu mengerjakan tugas kelompok bersama Andre. Aku rindu saat Iqbal mengambil topi ku. Aku rindu memamerkan nilai ku pada Arsyad. Aku rindu semuanya...rindu sekali.....
Sekarang yang ada hanyalah penyesalan... penyesalan semata..."
"Sebenarnya apa yang terjadi denganku ? Dimanakah diriku yang sebenarnya ? Aku merasa semua yang aku alami hanyalah sandiwara belaka ! Aku merasa, saat aku bilang aku cinta dan sayang pada Andre itu semua hanyalah sandiwara ! Aku masih mencintai Arsyad ! Aku masih menyayangi Arsyad ! Kapan aku bisa dekat dengannya lagi ?! Aku cinta dia !!! Aku sayang dia !!! Aku ingin seperti dulu lagi !!! Aku rindu berbicara dengannya ! Aku rindu tatapannya ! Aku rindu suaranya ! Aku rindu semua hal tentang nya ! Aku sangat rindu saat-saat bersamanya !"
"Aku ingin bisa kembali dekat dengannya ! Aku ingin bicara dengannya ! Aku ingin meledeknya ! Aku ingin hujan-hujanan bersamanya !"
"Ya Allah hamba rela, hamba ikhlas jika hamba selalu di marahi Arsyad, di ganggu Arsyad, di ledek Arsyad, hamba rela ya Allah... tetapi hamba tidak rela jika dia terus mendiamkan hamba seperti ini...Ya Allah... rasanya sakit sekali...dibenci oleh orang yang kita cintai..."
__ADS_1
Seketika air mata mengalir deras di pipiku, aku berusaha untuk berhenti menangis, beberapa kali aku mengusap air mata yang membasahi pipiku, namun nyatanya air mata tak kunjung berhenti mengalir dari mataku.
"Ku rasa kamu memang tidak pernah mencintai ku Syad... Mungkin selama ini...itu hanya halusinasi ku saja..."
Kalimat-Kalimat itulah yang terus ku katakan berulang kali di dalam tangisku.
Kerinduan ini sangatlah menyiksaku.
---
Sebenarnya aku tidak malas untuk di suruh mereka, aku hanya malas melihat tatapan sinis tetangga ku, mereka terlihat seperti membenci ku, aku tidak tau kenapa mereka seperti itu kepada ku.
Aku tidak ingin memberitahukan hal itu pada kedua orangtuaku karena aku tau mereka hanya akan memarahi ku atau menasehati ku karena para tetanggaku selalu tersenyum dan selalu menyapa mereka.
__ADS_1
---
Suasana hatiku sangat kacau, kacau sekali dan tambah kacau saat aku menelpon Andre dan mengatakan
"Dre, lebih baik kamu melupakan aku, aku tidak cocok untukmu, kamu pacaran dengan Nur saja, dia lebih baik untukmu daripada aku."
"Tidak semudah itu bagiku untuk melupakan mu."hanya itu yang Andre katakan sebelum akhirnya aku mendengar isak tangis lalu telpon terputus.
Setelah Andre mematikan telponnya, air mata kembali mengalir deras di pipiku, dadaku mulai terasa sakit, sakit sekali, dan rasanya sangat sulit untuk bernafas.
"Bukankah aku tidak mencintai Andre tetapi kenapa aku menangisinya ? Kenapa sangat sulit bagiku untuk melepaskan nya ? Kenapa ? Aku harus percaya bahwa Nur adalah pasangan yang terbaik untuk Andre."
Setelah hari itu, aku memutuskan komunikasi dengan Andre. Dia memang tidak pernah berani untuk menyapaku duluan, hingga akhirnya perang dingin pun terjadi di antara kami walaupun dia tidak memiliki rasa marah atau dendam padaku.
__ADS_1
"Jahat sekali kamu Ra ! Setelah membuatnya jatuh cinta padamu, kamu malah menyuruhnya berpacaran dengan Nur ! Dia menangis Ra !"beberapa kali Syaiful mengatakan itu padaku, entah itu secara langsung ataupun di telpon yang pasti aku tidak memperdulikannya.