ADILAGA

ADILAGA
DAHLIA 3


__ADS_3


Bergerak secepat mungkin, Jin Himawari kembali merasuki kalung kristal es di dada Gilang. Dengan cepat pula tubuh pemuda itu terbungkus semacam selaput berwarna paduan biru dan hijau. Seperti halnya Jonggrang, raga Himawari menyesuaikan tampilannya dengan ukuran dan ciri-ciri fisik, serta kecerdasan dan pengetahuan “inang”-nya.


Hasilnya, tampillah sosok seorang pendekar super yang seakan berpakaian serba tertutup dari rambut sampai telapak kaki. Kombinasi pola biru dan hijau muda pada kostumnya tampak sangat serasi. Dipadu dengan topeng yang menutupi wajah dan nyaris menyamarkan mata, sosok pria perkasa ini bagai makhluk asing dari luar angkasa.


“Haha, dengan raga baru, mustahil siapapun bisa menandingi aku, Hima!” Membuktikan ucapannya, Hima menutup bagian telinga di topengnya dan Mengentakkan tenaga dalam. Dengan “bantuan” Gilang, ia tak perlu memboroskan terlalu banyak energi sejati lagi. Akibatnya, permainan biola Julia jadi kacau, dan gadis itu terpental, membentur dinding Candi Jonggrang.


“Uugh…” Julia mengerang, menahan nyeri tak tertahankan di punggungnya. Awas, berkelit! Peringatan Jonggrang agak terlambat, namun Julia dengan amat cepat berkelit dari semburan es dari telapak tangan Hima, hasil latihan kung-funya.


“Wah, gadis lincah, coba lihat segesit apa dirimu!” Hima terus mencecar lawan dengan menembakkan es dari telapak tangannya berulang-ulang. Julia jadi tampak pontang-panting menghindar. Apa daya, satu tembakan mengenai tubuhnya, ditambah satu lagi.


Lagi-lagi gadis itu membentur tanah. Tanpa zirah dan prana pelindung dari Jonggrang, ia pasti sudah tewas. Walau tak sampai membeku, rasa sakit Julia merasuk tulang.


Bangkit, Julia! Tahan serangannya dengan perisai sihir! Mainkan nada-nada ini! Benak Julia cepat merekam “lagu baru” ini, walau terganggu pemandangan Hima yang sedang menghimpun tenaga di depan mata.


“Pewarismu payah, Jonggrang! Terpaksa kau yang pertama musnah! Rasakan pamungkas baruku, Titik Beku Mutlak!” Hima berseru sambil berlari secepat kilat, ia hanya perlu menyarangkan satu tinju di tubuh lawan untuk merampungkan jurusnya.


Walau sadar ini adalah pengembangan dari jurus yang memenjarakan jiwanya berabad-abad, Jonggrang tak mengatakan apa-apa. Bahkan saat permainan biola Julia memunculkan perisai prana Gema Perisai Nada yang seperti perisai sungguhan pelindung bagian depan tubuh, Jonggrang tetap tak bereaksi sedikitpun. Tinju Hima membentur perisai prana, menimbulkan suara bagai palu membentur perisai baja.


“Hahaha! Menangkis dengan jurus pertahanan? Dasar bodoh, inilah caraku menembusnya!” Seiring ucapannya, Hima menyusulkan telapak kedua yang membentuk cakar. Prana espun mengalir bagai cakar raksasa, siap dikatupkan untuk mencengkeram sekaligus meremukkan tubuh lawan.


Namun tiba-tiba, perisai gelombang suara Julia juga melebar, membulat, bahkan membungkus tubuh gadis itu bagai medan pelindung tempurung kura-kura. Walau tak sekeras dan sekuat perisai prana satu arah, medan ini mampu meredam sebagian besar serangan. Hanya sebagian hawa prana dingin yang menyelusupi medan dan mendera tubuh Julia. Cakar prana es terus menekan bagai tangan memeras jeruk.


Sekali lagi, nada-nada baru terngiang di benak si pemain biola. Lantas, Julia tiba-tiba mengubah lagu dan iramanya, menyerang balik dengan tujuh larik prana tajam ke arah Hima. Itulah sihir serangan langsung pamungkas warisan Roro Jonggrang, Pelangi Nada Hujan Halilintar.


Hima terkejut. Posisinya yang terlalu dekat tak memungkinkan untuk menghindar. Terpaksa, ia mengalihkan cakar dan tinjunya menepis larik-larik tujuh warna pelangi. Benturan dua macam prana meledak dahsyat dekat tubuh Hima, ditambah tiga larik prana yang telak menghantam tubuhnya membuat tubuh manusia-jin itu melayang tak terkendali hingga membentur dinding gua. Inilah pertama kalinya dalam berabad-abad umur hidupnya, Jin Himawari dipermalukan separah ini.


Gelap mata karena murka, Hima memaksa diri menghimpun tenaga. Padahal tubuh “inang”-nya sudah amat lemah dan luka-luka. Gila, apakah Hima ingin mati bersama Jonggrang, Gilang dan Julia?


“Takkan kubiarkan!” Tiba-tiba Hima bicara sendiri. Julia mengenali suara itu sebagai suara si pemilik asli sosok baru Hima, yaitu Gilang Kandaka. Tampak tubuh Hima mulai kejang-kejang.


“Percuma, Gilang!” sergah Hima. “Toh hasilnya sama saja. Tubuhmu akan meledak, sia-sia kau menahanku!”


Menyadari situasi ini, Gilang berteriak, “Lari, Julia! Selamatkan dirimu sendiri!”


Kata-kata si pemuda menerbitkan air mata yang meluncur dari balik topeng Julia. Gadis itu lantas berteriak balik, “Tidak! Tidak tanpa kamu, Gilang! Biar kubantu!”


“Jangan!” seru Gilang. “Kekuatan Hima saat ini tak terkendali! Entah berapa lama aku bisa menahannya! Katakan pada Leony bahwa aku pergi jauh, biar dia mencari kekasih baru saja!”


“Kau bisa minta putus pada Leony, tapi bagaimana dengan aku?” sambar Julia. “Aku sungguh menyukaimu, Gilang! Tolong jangan egois begini!”

__ADS_1


Sebelum Gilang sempat menyanggah, datang satu suara dari pria yang lain. “Biar kubantu kau, Gilang! Sudah tugasku, Bandung Bondowoso menghentikan kegilaan Himawari!” Alhasil, lewat mata batin, Julia melihat bayangan Gilang dengan jurus-jurus pencak silatnya dan Bandung dengan Tapak Es-nya mengeroyok sosok Jin Himawari, semua itu terjadi dalam satu raga.


Beberapa saat kemudian, Gilang dan Bandung tampak menahan serangan dengan tenaga roh masing-masing, bentuk tubuh sukma mereka jadi tampak aneh, seperti agar-agar yang ditindih panci.


Gawat! Mereka sulit meredam Himawari! Aku harus bantu mereka, tapi apa akal? Julia membatin, wajahnya memucat dalam cemas.


Pikirkan lagu paling indah yang bisa kaumainkan, Julia. Jawaban Jonggrang terngiang seketika.


Apa maksudmu?


Lagu yang paling kaukuasai, yang paling kausukai. Mainkan, bangkitkan kenang-kenangan terindah lawan!


Julia belum sepenuhnya memahami pesan Jonggrang itu, namun ia tetap memutuskan menurut saja. Maka, ia menggesek biolanya, memainkan lagu yang paling ia hafal dan sukai, Moonlight Sonata karya Ludwig von Beethoven. Alunan nada-nada klasik nan indah itu segera merambati, memenuhi medan pertarungan ini.


Ketiga jiwa dalam raga Gilang mulai terpengaruh dan memperlambat gerakan. Bandung Bondowoso dan Gilang tampak terbuai, wajah-wajah mereka menjadi amat cerah seolah tengah bertemu cinta sejati masing-masing. Sebaliknya, Himawari juga tampak mengendurkan tekananannya, ekspresi bengis di wajahnya berganti terperangah, takjub.


Tak lama kemudian, suara Himawari bergema. “Maafkan, maafkan… Tiada yang lebih indah dari cinta sejati. Satu maaf yang tulus mampu memperbaiki hubungan yang retak.”


Teriring berlanjutnya lagu, ditimpali hawa bayangan energi selaksa bunga penuh pesona, Hima berkata lagi, “Astaga, hampir saja aku melakukan kesalahan fatal. Bila aku memisahkan Bandung dan Jonggrang, akupun akan binasa dan menanggung siksa neraka. Padahal, ada jalan keluar yang jauh lebih baik…”


Seiring kata-katanya, tubuh Hima perlahan-lahan melayang di udara. Rupanya sang jin mengalirkan kekuatan yang ia himpun sejak tadi ke tubuh Gilang untuk memulihkannya. Untunglah roh Bandung Bondowoso telah meredam dan menyerap sebagian prana es itu, hingga ledakan dahsyat berhasil dicegah.


Perlahan-lahan pula, kostum biru Hima berganti rupa menjadi jaket jingga, celana jins coklat, topi coklat dan pakaian biasa lainnya. Wajah bertopeng Himapun berganti menjadi wajah tampan Gilang. Semua itu kembali ke bentuk asal, yaitu kalung kristal es. Sementara tubuh sang inang, Gilang mendarat kembali di tanah dalam posisi telentang, tak bergerak tanda ia tak sadarkan diri.


Citra roh Roro Jonggrangpun terpancar dari dalam Bros Lencana Puspa Kirana di kostum Julia. Kata sang ratu jelita, “Aku juga berterima kasih padamu, Julia. Kau sungguh murid yang baik, cerdas, sungguh pantas mewarisi segala ilmu dan kesaktianku. Kini, tak ada ganjalan lagi di hatiku. Akhirnya, setelah berabad-abad lamanya, baru aku yakin sepenuhnya Bandung Bondowoso adalah belahan jiwaku. Dan kini, aku akan menemaninya mengarungi keabadian.”


Kostum Juliapun telah kembali ke asalnya, yaitu pakaian biasa. Dengan bros masih tersemat di dada, Julia berkata, “Syukurlah, tak ada yang lebih membahagiakanku daripada melihat kutukan Himawari luruh, dan dua sejoli akhirnya bersatu. Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal hatiku.”


“Lho, apa itu?” tanya Bandung.


“Roro Jonggrang telah menunjukku menjadi pewaris kesaktiannya di luar kehendakku sendiri. Mungkin sebaiknya kukembalikan saja bros ini ke dalam candi, toh kalian sudah bebas.”


Jonggrang menggeleng. “Rupanya kau belum paham, Julia. Yang mengganjal hatiku bukan semata-mata kutukan Himawari, tapi kepastian bahwa segala kesaktian Lencana Puspa Kirana berada di tangan yang tepat.”


“Tapi aku tak ingin jadi pahlawan. Aku ingin jadi normal seperti layaknya mahasiswi biasa,” ujar Julia.


Bandung menanggapinya, “Roro Jonggrang telah memilih kamu, karena kaulah yang paling pantas menyandang Lencana Puspa Kirana. Suka tak suka, mau tak mau, kami mohon terimalah kekuatan ini beserta segala tanggungjawab yang menyertainya. Cegahlah jangan sampai Jin Himawari berubah pikiran dan kembali membuat kekacauan. Lagipula, kau akan banyak memberikan sumbangsih bagi kedamaian dunia, bermodalkan kekuatan ini.”


Julia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Masih ada keengganan tersirat di wajahnya. “Baiklah, aku menerima warisan yang amat berharga ini,” katanya sambil memegang bros di dada. “Tapi aku butuh nama samaran, supaya setidaknya aku masih bisa hidup normal saat tak sedang beraksi.”


Jonggrang menjawab, “Hmm, nama ‘Puspa Kirana’ terlalu panjang. Apakah nama bunga pada lencana itu di zamanmu?”

__ADS_1


“Dahlia,” jawab Julia.


“Nama yang indah. Baiklah, mulai sekarang nama samaranmu adalah Dahlia, Pendekar Puspa Kirana.”


 


 


\==oOo==


 


 


Singkat cerita, setelah mengajarkan beberapa lagu sihir lagi pada Julia, roh Roro Jonggrang kini berpegangan tangan dengan roh Bandung Bondowoso. Lalu, lewat cahaya yang menyelusup dari langit-langit gua ke puncak Candi Jonggrang, kedua sejoli itu terangkat ke alam baka. Sungguh pemandangan yang indah.


Baru sadar dari pingsannya, Gilang sempat menyaksikan penampakan gaib ini bersama Julia. Keduanya sepakat merahasiakan kejadian ini, juga letak Candi Jonggrang alias candi keseribu dari teman-teman klub mereka yang lain. Walau para anggota Jagadnatha adalah para pencari fakta di balik legenda, belum tentu rasio mereka bisa menerima dan mempercayai alasan jujur Giang dan Julia.


“Lho Gilang, Julia, ke mana saja kalian?” tanya si ketua klub, Brian dengan wajah penuh selidik. “Kami sudah mencari kalian sejak tadi!”


“Tadi Julia terperosok ke dalam lubang, dan aku butuh waktu lama untuk mengeluarkannya dari sana.” Alasan Gilang itu ada benarnya, walau tentu ia tak mengungkapkan seluruh kebenaran itu.


“Oh, jadi itu sebabnya kalian sampai luka-luka begitu,” ujar Leony sambil berkacak pinggang. “Tapi kau sebaiknya ingat baik-baik, Lia. Jangan pikir kau bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut Gilang dariku, ya!”


“Tenang saja, Ony, hal itu tak terlintas di benakku,” jawab Julia sambil menggenggam bros Dahlia yang tersimpan aman dalam saku celana jins ketatnya. Lagipula, segala tanggung jawab baru ini akan membuat Julia berpikir seribu kali sebelum merebut pacar orang lain.


“Huh, gara-gara kalian, kita tak jadi nonton Sendratari Ramayana di Prambanan,” sergah Brian sambil menjitak kepala Gilang. Ya, hari memang sudah gelap kini.


“Sudahlah, toh kita bisa nonton itu tahun depan,” ujar Leony. “Yang penting seluruh anggota klub sudah berkumpul kembali dengan selamat.”


“Setuju,” jawab Gilang, tersenyum di depan Julia dan kawan-kawan untuk pertama kalinya. Senyum amat langka itulah yang sesaat mengingatkan Julia alasan ia menyukai Gilang sejak awal. Dan untuk pertama kalinya pula, ada rahasia untuk dibagi antara mereka berdua saja.


Dua hari kemudian, Gilang memisahkan diri dari rombongan Klub Jagadnatha. Katanya, ia ingin menjenguk orang tuanya di Surabaya, Jawa Timur. Namun Julia tahu, sebenarnya Gilang pergi ke Gunung Semeru untuk kembali “mengamankan” Kalung Himawari.


Setelahnya, Gilang kembali kuliah, berkencan dengan Leony dan makin akrab dengan Julia dan Brian. Segalanya nampak baik-baik saja.


Beberapa bulan berlalu sejak Julia mendapatkan Bros Dahlia di Candi Roro Jonggrang, namun ia jarang menggunakannya. Seperti katanya, gadis itu bukan penantang bahaya, selalu berusaha untuk hidup normal sebagai mahasiswi. Hanya sesekali ia melakukan aksi penyelamatan, menangkap penjahat, bahkan mencegah kejahatan dengan kekuatan gaibnya yang mampu mempengaruhi pikiran manusia.


Maka suatu hari, di tepi sebuah pantai, Julia menatap Bros Dahlia di telapak tangannya. Wajahnya muram dan benaknya bertanya-tanya.


Apakah arti seorang pahlawan?

__ADS_1


 


 


__ADS_2